Langit senja memayungi Desa Melati dengan warna jingga pucat. Namun, keindahannya terasa janggal di tengah kesunyian yang mencekam. Desa itu sepi, seolah seluruh penduduknya menahan napas. Di jalan setapak yang lengang, sepasang suami istri, Iwan dan Santi, berjalan dengan langkah ragu. Mereka adalah perantau yang tengah mencari atap untuk berteduh.
“Mas, sepi sekali, ya? Jadi susah mau bertanya,” bisik Santi, suaranya nyaris terserap oleh keheningan. Ia merapatkan diri ke lengan suaminya.
“Sabar, Dik. Coba kita jalan ke arah sana, siapa tahu ada orang,” jawab Iwan, berusaha terdengar tenang meski hatinya ikut gugup.
Langkah membawa mereka ke sebuah gubuk kecil, di mana seorang nenek tua dengan punggung bungkuk sedang menyapu halaman. Wajahnya penuh keriput, dan tatapan matanya seolah menembus waktu.
“Permisi, Nek,” sapa Santi dengan sopan. “Kami perantau, sedang mencari rumah sewa. Apa di sekitar sini ada?”
Nenek itu berhenti menyapu. Matanya yang sayu menatap mereka lekat-lekat. “Ada,” jawabnya dengan suara serak. “Tapi tidak di sini. Di desa seberang, Desa Darungan. Tapi… rumah itu kosong karena sebuah tragedi.” Ia terdiam sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara. “Seorang anak kecil tewas tenggelam di sumur belakang rumahnya. Apa kalian tetap berani menempatinya?”
Iwan dan Santi saling berpandangan. Ada keraguan yang dingin merayap di hati mereka. Namun, kebutuhan mendesak mereka. “Kami sangat butuh tempat tinggal malam ini, Nek,” sahut Iwan.
“Baiklah kalau begitu. Pergilah ke sana, tanyakan saja pada warga rumah kosong di samping sumur tua,” kata nenek itu sebelum kembali menyapu, seolah percakapan mereka tak pernah terjadi.
* * *
Tanpa menunggu lama, mereka bergegas menuju Desa Darungan. Benar saja, desa itu sedikit lebih hidup. Mereka menemukan seorang wanita paruh baya bernama Bu Siti yang ternyata adalah pemilik rumah yang mereka cari.
“Oh, rumah itu? Mari, biar saya antar,” kata Bu Siti ramah.
Rumah itu berdiri kokoh, tampak luas dengan halaman yang lapang. Namun, di baliknya, Iwan bisa melihat bibir sebuah sumur tua yang ditumbuhi lumut, memancarkan aura ganjil.
“Wah, rumahnya besar dan bagus ya, Mas,” puji Santi, mencoba mengusir perasaan tidak enaknya.
“Iya, bagus,” balas Iwan singkat. Namun dalam hati ia merasakan sesuatu yang lain. Hawa di sekitar rumah itu terasa berat dan dingin, membuat bulu kuduknya meremang.
“Baik, Bu. Kami jadi sewa rumah ini,” kata Iwan mantap.
Setelah serah terima kunci, saat Iwan dan Santi hendak masuk, Bu Siti menahan mereka. Wajahnya yang tadi ramah kini terlihat serius. “Nak, dengarkan saya baik-baik. Sekarang ini hari Kamis, nanti malam adalah malam Jumat. Saya peringatkan, jangan sekali-kali keluar rumah lewat jam sebelas malam, apalagi mendekati sumur itu.”
“Memangnya kenapa, Bu?” tanya Iwan penasaran.
Bu Siti mencondongkan tubuhnya, suaranya melirih menjadi bisikan. “Dulu, ada anak kecil bernama Naura yang dibunuh dan jasadnya dibuang ke dalam sumur itu. Sejak saat itu, arwahnya tidak tenang. Ia tidak suka ada yang mengganggu sumur itu di malam hari, terutama pada malam Jumat.”
Jantung Santi berdebar kencang. “Terima kasih atas informasinya, Bu,” ucap mereka serempak, mencoba menyembunyikan rasa takut yang mulai menjalar.
* * *
Malam pun tiba. Jarum jam berdetak pelan, mengisi keheningan di antara canda tawa Iwan dan Santi di ruang tengah. Namun, semakin malam, hawa dingin yang tak wajar mulai merayap masuk, memadamkan kehangatan mereka.
“Mas, kok hawanya jadi nggak enak, ya?” keluh Santi sambil menggosok-gosok lengannya.
“Ssst, jangan bicara sembarangan,” potong Iwan, meski ia merasakan hal yang sama.
Tepat saat jam dinding berdentang sebelas kali, Santi beranjak dari duduknya. “Mas, aku mau ke kamar mandi, tapi air di bak habis.”
“Yaudah, ayo kita ambil air di sumur,” ajak Iwan, lupa total pada peringatan keras Bu Siti.
Udara malam menusuk tulang saat mereka melangkah keluar. Suara jangkrik pun seolah mati di sekitar sumur tua itu. Iwan menimba air dengan tergesa, hanya diterangi cahaya rembulan yang redup. Saat ia hendak mengangkat ember yang telah terisi penuh, sebuah bisikan lirih terdengar tepat di telinganya.
“Om… tolong Naura…”
Iwan membeku. Suara itu begitu dekat, seperti suara anak kecil yang kedinginan. Ia menoleh ke sekeliling, namun tak ada siapa-siapa. “Ah, mungkin hanya perasaanku saja karena mengantuk,” gumamnya, lalu bergegas kembali ke dalam rumah.
Di kamar mandi, Santi membasuh wajahnya. Saat ia meraih gayung untuk membilas, tiba-tiba… HAP! Sebuah tangan mungil, pucat pasi dan dingin seperti es, mencengkeram pergelangan tangannya dari dalam ember.
Santi terkesiap, matanya terpaku pada tangan kecil itu. Lalu, suara bisikan kembali terdengar, kali ini penuh amarah. “Tante jangan pakai air itu! Air itu punyaku! Pergi dari sini! Aku tidak suka ada orang lain di rumahku! Pergi!”
Jeritan Santi pecah membelah keheningan malam. “MAS, TOLONG!”
Iwan yang baru saja akan terlelap langsung terlonjak dan berlari ke kamar mandi. Ia menemukan istrinya terduduk di lantai, gemetar hebat dengan wajah pucat.
“Kamu kenapa, Dik?!” tanya Iwan panik sambil memeluknya.
“Tadi… tadi ada tangan anak kecil di ember, Mas! Dia pegang aku!” isak Santi. “Dia bilang ini rumahnya, dia mengusir kita. Aku takut, Mas, kita pergi dari sini!”
Saat itulah Iwan teringat. “Ya Tuhan, aku lupa pesan Bu Siti!”
Begitu kalimat itu terucap, sosok mereka membeku. Di ambang pintu kamar mandi, berdiri sesosok anak perempuan kecil. Pakaiannya basah kuyup dan compang-camping, berlumuran lumpur dan darah. Rambut hitamnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya, namun dari celah itu terlihat sepasang mata yang kosong dan penuh kebencian. Air menetes dari ujung rambut dan pakaiannya, menciptakan genangan kecil di lantai.
“PERGI DARI RUMAHKU!” desisnya, suaranya bergema di seluruh ruangan.
“Aaaaa!” Santi menjerit histeris. Iwan segera menarik istrinya, dan dengan bibir gemetar ia mulai melantunkan ayat-ayat suci yang ia hafal. Sosok itu perlahan memudar dan lenyap, meninggalkan bau anyir dan hawa dingin yang menusuk.
Malam itu mereka lalui tanpa tidur, berpelukan di sudut ruangan sambil terus berdoa.
* * *
Keesokan paginya, saat fajar pertama menyingsing, mereka langsung bergegas ke rumah Bu Siti dan menceritakan segalanya. Bu Siti menghela napas panjang. “Sudah Ibu duga. Arwah anak itu masih menyimpan dendam.”
Atas permintaan Iwan, Bu Siti mengumpulkan warga dan seorang pemuka agama untuk mendoakan rumah dan sumur tua itu. Setelah doa bersama selesai, Iwan dan Santi tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka mengemasi barang-barang mereka yang tak seberapa.
“Terima kasih banyak, Bu Siti, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Maaf sudah merepotkan. Kami pamit,” ucap Iwan dengan suara parau.
“Tidak apa-apa, Nak. Maafkan kami juga karena desa ini jadi tidak nyaman untuk kalian,” balas salah seorang warga.
Iwan dan Santi mengangguk, lalu beranjak pergi meninggalkan Desa Darungan tanpa pernah menoleh ke belakang. Mereka tidak hanya membawa tas, tetapi juga membawa kenangan mengerikan tentang arwah penunggu sumur tua yang akan menghantui mereka selamanya.
* * *
Penulis : Nurul Dwi Fitrianty (X.E(
Komentar Terbaru