Umar bin Khattab merupakan salah satu sahabat Nabi dan Khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, sebelum beliau memeluk Islam, Umar adalah salah satu musuh Nabi yang bahkan berniat untuk membunuhnya. Hingga suatu ketika, saat Umar hendak melaksanakan niat jahatnya, beliau disadarkan oleh sahabatnya, Nu’aim bin Abdullah, yang lebih dahulu masuk Islam secara diam-diam tanpa sepengetahuan Umar.
Nu’aim berkata dengan bijak, “Demi Tuhan, Anda telah menipu diri Anda sendiri, wahai Umar! Apakah Anda mengira Banu Abdu Manaf akan membiarkan Anda hidup setelah Anda membunuh putra mereka, Muhammad? Tidakkah lebih baik Anda kembali ke rumah Anda dan setidaknya meluruskan masalah ini?”
Nu’aim juga menyarankan Umar untuk pulang ke rumah dan melihat apa yang terjadi pada adik dan iparnya. Akhirnya, Umar pun kembali ke rumahnya dan mendengar adik serta iparnya sedang membaca Al-Quran. Umar yang semula marah, langsung memukul tanpa henti.
Namun, adik Umar berusaha melerai dan berkata dengan teguh, “Anda boleh membunuh kami, tetapi kami tidak akan meninggalkan Islam.” Mendengar pernyataan ini, Umar langsung menampar pipi adiknya dengan keras hingga menyentuh tanah dan mengeluarkan darah. Umar terdiam menyaksikan hal tersebut, dan merasa bersalah atas perbuatannya.
Setelah pertengkaran di rumah, Umar bergegas menemui Nabi Muhammad dengan membawa pedangnya, yang awalnya ingin digunakan untuk membunuh Nabi. Namun, Umar memilih untuk menyatakan masuk Islam di hadapan Nabi dan para sahabat.
Berita masuknya Umar ke dalam Islam memberikan kekuatan bagi umat Islam di Makkah. Mereka pun mulai melakukan ibadah secara terang-terangan dan terbuka, serta melakukan shalat berjamaah di Masjidil Haram untuk pertama kalinya.
*****
Bionarasi Penulis
Perkenalkan, nama saya Fariha Ramadani. Saya berasal dari Desa Wangkal. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan di kelas SKS IPA di MAN 2 Probolinggo. Itulah sekilas tentang saya. Terima kasih.
Komentar Terbaru