
Lampu koridor lantai tiga sudah dimatikan satpam sekolah sejak setengah jam lalu. Aku terus menatap layar ponsel, mengabaikan indikator baterai yang sisa empat persen. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Tengok atas, sepatuku tertinggal.” Aku menelan ludah paksa. Masalahnya, bunyi langkah kaki yang sedari tadi mondar-mandir di atap kelasku sama sekali tidak terdengar seperti langkah orang yang memakai sepatu. Bunyinya lebih mirip kuku panjang yang diseret pelan di atas beton kasar. Dan suaranya perlahan berhenti tepat di atas kepalaku.
Hening mencekam menyergap. Layar ponselku yang menjadi satu-satunya sumber cahaya kini berkedip redup, seakan ikut menahan napas sebelum mati total. Pesan aneh tadi masih terngiang di kepala, tetapi alih-alih mendongak, mataku terpaku pada serpihan debu plafon yang tiba-tiba rontok dan mengotori layarku.
Sesuatu di atas sana bergerak lagi. Srekk… srekk… Bunyi gesekan itu menggali lapisan beton persis di ubunku. Aku menelan ludah, menolak keras untuk melihat ke atas.
Secara naluriah, tanganku justru menyusup pelan ke laci meja guru di depan kelas, meraba-raba mencari senjata. Ujung jariku menyentuh penggaris besi panjang milik Pak Budi. Terasa dingin dan berat di genggaman. Dengan jempol gemetar di atas layar yang nyaris mati, aku nekat mengetik balasan SMS: Sepatu siapa?
Pesan terkirim. Satu detik. Dua detik.
Bluk.
Terdengar suara benda jatuh di depan pintu kelasku. Bunyinya teredam, empuk, tetapi cukup berat. Sambil mencengkeram penggaris besi dengan kedua tangan, aku memberanikan diri membuka pintu. Klek.
Koridor di luar ternyata kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa, hanya sebuah sepatu kets butut yang tali kanannya putus tergeletak di lantai. Di atas sepatu itu tertempel secarik kertas dengan selotip. Ada tulisan spidol biru yang sedikit miring:
“Sori. Kucing Ibu Kantin nyangkut di talang. Gue nyeker naiknya. Jangan teriak.”
Belum sempat aku memproses pesan itu, bunyi srekk… srekk… tadi berpindah ke arah tangga. Lalu terdengar bunyi langkah mendarat. Tap.
Dari ujung tangga, muncullah sebuah kepala. Rambutnya acak-acakan, ada lecet memerah di pipi kirinya, dan dia benar-benar bertelanjang kaki. Kedua tangannya sibuk menggendong seekor kucing oren yang kukunya masih mencakar-cakar udara secara sporadis.
Kafka.
“Lo balasnya cepat amat,” keluhnya sambil terengah-engah. “Gue kira lo pingsan di dalam.”
“Itu tadi suara kuku siapa?” tanyaku galak, penggaris besi masih kuacungkan ke arahnya.
Dia mengangkat si kucing oren sedikit lebih tinggi. “Kukunya dia. Tadi nyangkut di talang genteng. Gue sengaja naik nyeker biar nggak licin. Terus sepatu gue lempar ke depan pintu biar lo tahu ada orang di atas.”
Tepat saat itu, layar ponselku mati total. Gelap. Namun, otakku mulai bisa mencerna situasi. “Terus, yang kirim SMS tadi?”
“Pinjam HP Pak Tarjo. Beliau yang dari tadi pegangin tangga di bawah.” Kafka menyengir tanpa dosa. Tatapannya lalu turun ke tanganku. “Garis biru di tangan lo masih ada?”
Aku menoleh ke punggung tanganku. Coretan itu masih ada. Sisa kejadian Selasa malam lalu di ruang UKS, saat dia nekat memanjat untuk mengecek meteran listrik sekolah yang anjlok. Dia yang menuliskannya di sana sebelum naik:
“Jangan takut gelap. Ada aku di atap.”
Tiba-tiba, suara berat Pak Tarjo terdengar berteriak dari lantai dasar, “Kaf! Kucingnya sudah dapat?”
“Dapat, Pak!” balas Kafka setengah berteriak. Dia lalu menyodorkan sepatu kets kirinya kepadaku. “Nih, titip. Besok balikin pas di kantin. Sama satu lagi, jangan gambar muka gue pakai spidol merah lagi di buku lo. Perih dilihatnya.”
Tanpa menunggu jawabanku, cowok itu langsung ngacir turun ke lantai bawah. Bertelanjang kaki sambil menggendong kucing, meninggalkanku sendirian mematung bersama dua buah sepatu yang bau debu genteng.
Kurasakan garis biru di punggung tanganku menghangat. Ternyata, hantu lantai tiga yang selama ini kutakuti cuma seorang cowok ceroboh yang tidak tega mendengar suara kucing menangis.
***
Keesokan harinya, suasana jam istirahat begitu riuh. Kantin penuh sesak, tetapi anehnya meja di pojokan dibiarkan kosong. Ibu Kantin tiba-tiba meletakkan sepiring gorengan hangat di mejaku, padahal aku belum memesannya. “Kucing Ibu selamat, Neng. Tadi pagi Kafka bilang makasih karena kamu sudah bantu dan nggak teriak semalam. Katanya kamu pemberani.”
Baru saja aku hendak menggigit bakwan, terdengar suara ritsleting tas ditarik kasar. Suasana di sekitarku mendadak hening.
Kafka sudah berdiri di depanku. Pipinya masih diplester. Seragamnya beraroma khas campuran oli bengkel praktik dan terik matahari. Di tangannya, dia memegang buku catatanku yang terbuka tepat di halaman paling belakang. Ada tulisan baru dengan spidol biru di sana:
“Mukaku jelek kalau dicoret merah. Tapi garis biru cocok di tangan kamu. Jangan dihapus.”
Di bawah tulisan itu, terdapat gambar dua orang stickman. Satu berdiri di atas genteng, satu lagi di bawah. Keduanya dihubungkan oleh sebuah garis lurus berwarna biru.
Dia lalu duduk perlahan di bangku depanku. Melepas sepatu kets kanannya, menaruhnya di atas meja, lalu menunduk dalam-dalam.
Aku mengeluarkan sepatu kirinya dari dalam tas, lalu meletakkannya tepat di sebelah sepatu kanannya. Bluk. Entah kenapa, aku merasa anak-anak di kantin sedang menahan napas memperhatikan kami.
“Sepatu gue balik,” gumamnya pelan. Ujung telinganya memerah. “Garis biru lo masih?”
Tanpa menjawab, aku mengambil spidol biru dari saku seragam. Kuketuk meja tiga kali agar dia mendongak, lalu kutarik tangannya yang bebas. Dengan cepat, kubuat satu garis lurus di punggung tangannya. Sama persis seperti punyaku.
“Gantian,” bisikku pelan. “Biar kalau kamu lagi di atap dan aku di bawah, kita tetap nyambung.”
Dia terdiam sejenak. Sedetik kemudian, tawa renyahnya pecah. Tawa yang terasa menggetarkan dada, dan itu adalah pertama kalinya aku melihatnya tertawa lepas.
Dari stan minumannya, Ibu Kantin berseru lantang, “Cieeee, yang sudah nggak takut gelap!”
Seketika seisi kantin meledak dalam tawa dan siulan godaan. Wajah kami berdua pasti sudah sama merahnya sekarang. Namun, aku tahu garis biru di tangan kami tidak akan buru-buru dihapus.
Dari celah jendela kantin, si kucing oren melintas santai. Ada pita biru baru melingkar di lehernya. Kucing itu mengeong sekali, seolah mengucapkan terima kasih.
Tak tak lama, Pak Budi lewat membawa penggaris besinya yang familier. Beliau melirik garis biru di tangan kami berdua, lalu mengintip gambar di buku catatanku yang masih terbuka. Beliau hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Besok sepulang sekolah, hapus coretan kalian di tembok UKS. Berdua. Pakai cat tembok sisa di gudang,” titahnya tegas namun dengan senyum tertahan.
Baru saja Pak Budi berlalu, pintu kantin terbuka lebar. Alana masuk dengan langkah tergesa, memutar-mutar pulpen merah di tangannya. Pandangannya langsung tertuju tajam pada garis biru di tangan kami.
Kafka sama sekali tidak menoleh ke arah Alana. Alih-alih peduli, dia justru menggenggam tanganku pelan di bawah meja. Garis biru bertemu dengan garis biru. Terasa hangat.
Urusan hantu di lantai tiga memang sudah selesai. Namun, sepertinya urusan dunia manusia baru saja dimulai.
***
Penulis: Ajeng Sulistyo Syarif (X.E)
Komentar Terbaru