
Malam Jumat itu terasa berbeda. Kabar duka tersiar cepat, menyusup di antara dinding-dinding rumah warga. Seseorang telah berpulang, namun penyebab kematiannya masih menjadi teka-teki yang tak terpecahkan. Tidak ada sakit yang mendahului, tidak ada alasan yang tampak secara kasatmata. Kematiannya begitu mendadak, menyisakan tanya yang menggantung di udara.
Aku bersama keluarga dan kerumunan warga bergegas mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Langkah kami berat menembus kegelapan malam. Namun, tepat saat kami tiba di area pemakaman, langit yang semula tenang mendadak tumpah. Hujan turun begitu lebat, seolah-olah langit ikut berteriak.
Kekacauan mulai terjadi. Air hujan yang menderas membuat tanah makam menjadi labil. Jenazah yang hendak diturunkan mulai basah kuyup. Tak disangka, lubang kubur yang baru saja digali tiba-tiba runtuh. Tanah yang basah longsor ke bawah, menutup kembali liang lahat yang sudah disiapkan.
Suasana berubah mencekam.
Warna-warni ketakutan menghiasi wajah warga. Di tengah gemuruh hujan, orang-orang mulai bersimpuh, menengadahkan tangan, dan memohon kepada Sang Kuasa agar hujan segera diredakan. Namun, alam seolah punya kehendak lain. Bukannya reda, hujan justru semakin menggila. Sepersekian detik kemudian, sebuah sambaran petir menggelegar dahsyat, menghantam tepat di tanah kuburan yang baru saja runtuh itu.
Kilatan cahaya itu menyilaukan mata, diikuti doa-doa yang semakin kencang terucap dari bibir warga. Mereka memohon ampunan atas dosa-dosa si jenazah. Di sela isak tangis dan dingin yang menusuk tulang, keajaiban akhirnya datang. Tuhan mengabulkan permintaan hambanya; hujan yang tadinya mengamuk, perlahan-lahan surut hingga benar-benar berhenti.
***
Suasana hening sejenak, hanya menyisakan suara tetesan air dari daun-daun kamboja. Warga bersyukur, napas lega terdengar di sana-sini. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka kembali menggali tanah yang sempat menutup liang lahat tersebut.
Air mata pecah. Banyak warga menangis terharu menyaksikan betapa cepatnya doa-doa itu dikabulkan di depan mata kepala mereka sendiri. Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan cara yang tak terduga. Akhirnya, jenazah dapat dimakamkan dengan aman dan layak. Perasaan tenang menyelimuti hati setiap orang saat kami melangkah pulang meninggalkan area pemakaman yang kini telah sunyi.
Kisah ini menjadi pengingat keras bagi kita yang masih berpijak di bumi. Berbuat baiklah selagi sempat. Jangan semena-mena dalam menjalani hidup dan jangan biarkan diri larut dalam tumpukan dosa. Sebab, kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan kita nanti, apakah akan tenang, atau justru penuh dengan rahasia yang tak wajar.
***
Penulis: Muhammad Ainul Yaqin (X.E)
Komentar Terbaru