Jumat, 15 Mei 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Sebaris Kalimat Kecil (Dwi Aprilia Zahrotus Syita)

Ilustrasi meja kayu yang menampilkan kertas lecek bertuliskan 'TIDAK LULUS SELEKSI' berdampingan dengan kertas baru bertuliskan 'LULUS - PERINGKAT 3 APRIL (X.E)'. Di dekatnya terdapat map 'NILAI WAWANCARA' dan papan mading berisi pengumuman 'Masa Sanggah'. Latar belakang memperlihatkan cahaya mentari hangat yang masuk dari arah gerbang 'MADRASAH ALIYAH' yang terbuka, dengan sebuah sepeda motor terparkir menunggu di luarnya.

Kertas pengumuman itu sudah kuremas sampai bentuknya mirip bola sampah, tapi tintanya masih tembus pandang di bawah cahaya lampu koridor: ”TIDAK LULUS SELEKSI”. Ayah pasti sedang menunggu di luar gerbang sekolah dengan senyum bangga yang sudah disiapkannya sejak subuh tadi. Aku menendang pintu bilik toilet keras-keras hingga engselnya berderit panjang. Menangis sekarang cuma membuang waktu. Aku menyalakan keran air, mencuci muka sampai beku, dan menatap cermin retak di hadapanku. Aku harus mencari cara agar kalimat di kertas ini tidak menjadi kalimat terakhir dari jalan hidupku hari ini.

Kubasuh wajahku sekali lagi dengan air keran, membiarkan tetes-tetes dinginnya merayap turun ke dagu. Kertas remuk itu lalu kuselipkan ke dasar saku rok, menyembunyikannya seolah itu sebuah aib besar. Saat melangkah keluar dari toilet, mataku tanpa sengaja menangkap selembar pamflet di mading koridor. Ada sebaris kalimat kecil yang tercetak di sudut bawah kertas tersebut: Masa sanggah 2×24 jam.

Kutarik napas panjang, menjejali paru-paru dengan oksigen sebanyak mungkin. Aku langsung putar balik. Langkah yang tadinya terasa seberat timah, kini melaju mantap menyusuri koridor, lurus menuju ruang Tata Usaha (TU).

Kuketuk pintu kaca ruang TU dengan pelan. Ujung jari-jariku masih terasa gemetar. Hawa dingin dari AC ruangan langsung menyergap wajahku begitu aku mendorong pintu.

Bu Sanding menoleh dari balik tumpukan map tebal di mejanya. Kacamata bacanya merosot sedikit di hidung.

“Mau mengajukan sanggah, Bu,” ucapku. Suaraku terdengar jauh lebih berani dari yang kuduga. Kertas remuk dari sakuku perlahan kukeluarkan, lalu kubentangkan susah payah di atas meja kacanya.

Sepuluh menit berikutnya terasa seperti simulasi hari penghakiman. Terdengar bunyi klik mouse berulang kali memecah hening ruangan. Kening Bu Sanding berkerut menatap layar monitor, sebelum akhirnya beliau mendadak menghela napas panjang.

Baca juga:  Peluk Aku Saat Rapuh (Laelatul Luqiyana Adawiyah)

“Nilai wawancara kamu ternyata belum diinput, Nak. Petugasnya salah klik,” ujar Bu Sanding kelewat santai, seolah kalimatnya barusan tidak hampir merenggut nyawaku.

Mesin printer di sudut meja tiba-tiba berdengung. Selembar kertas putih meluncur keluar. Bu Sanding langsung menyerahkannya padaku. Tinta hitamnya masih terasa hangat di ujung jari: LULUS – PERINGKAT 3.

Dadaku bergemuruh. Rasanya ingin meledak detik itu juga. Namun, kali ini bukan karena amarah, melainkan kelegaan yang luar biasa deras hingga membuat lututku sedikit lemas.

Setengah berlari, aku keluar dari ruang TU sambil menggenggam erat kertas baru itu. Di luar gerbang sekolah, di bawah terik matahari siang yang menyengat, Ayah masih berdiri bersandar pada jok motor. Senyumnya belum luntur sedikit pun meski peluh pasti sudah membasahi kemejanya.

“Gimana?” tanya Ayah, matanya memancarkan setitik cemas yang berusaha mati-matian disembunyikan.

Tanpa banyak bicara, kuberikan selembar kertas itu padanya. Mata rabun Ayah menyipit saat mengeja deretan huruf kapital di sana. Sedetik kemudian, matanya berkaca-kaca. Tawa renyahnya mengudara, mengalahkan bising deru kendaraan yang lewat. Tangan kasarnya menepuk-nepuk pundakku dengan bangga.

“Ayah sudah tahu, anak Ayah nggak akan gampang nyerah.”

Kami melesat pulang membelah jalanan kota. Angin siang yang panas menerpa wajah, tapi aku sama sekali tak peduli. Kertas remuk bertuliskan ‘TIDAK LULUS’ itu memang masih meringkuk di saku seragamku. Bedanya, sekarang ia cuma tumpukan sampah yang baru saja mengantarku menuju jalan cerita yang sama sekali berbeda.

***

Penulis: Dwi Aprilia Zahrotus Syita (X.F)

KELUAR