Rabu, 20 Mei 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Islamic Bright Light (Rasdyanathan Fajri Imam Mubien)

Ilustrasi kompleks bangunan bergaya tradisional Nusantara dengan bata merah dan atap limasan, berpusat pada sebuah masjid berkubah di tengah taman hijau yang asri, dengan latar belakang deretan gedung pencakar langit kota modern di bawah langit biru yang cerah.h

Di sebuah sudut Fiction World, tepatnya di jantung Kota Lighton, berdiri sebuah bangunan kokoh bernama Islamic Bright Light. Gedung ini bukan sekadar bangunan biasa, melainkan sebuah pondok pesantren yang didirikan oleh seorang kiai bernama Zaid. Di sana, Kyai Zaid membimbing sepuluh santri—lima laki-laki dan lima perempuan—yang menghidupkan suasana pondok dengan semangat belajar mereka.

***

Kehidupan di sana dimulai saat dunia masih terlelap. Pukul 03.00 pagi, Kyai Zaid sudah berkeliling membangunkan para santri. Suara langkah kaki dan ajakan lembutnya memecah kesunyian, mengajak mereka bersujud dalam salat Tahajud. Selama lima belas menit, suasana menjadi syahdu oleh doa-doa dalam diam, dilanjutkan dengan zikir bersama selama setengah jam yang menenangkan hati. Sebelum fajar menyapa, lantunan suci surah Al-Waqiah, Ar-Rahman, dan Al-Mulk menggema di penjuru gedung. Begitu azan Subuh berkumandang, mereka segera merapatkan baris untuk melaksanakan salat berjamaah.

Pagi di Islamic Bright Light tidak pernah kosong. Sambil menunggu matahari naik, dari pukul 04.15 hingga jam 05.00, para santri sibuk dengan hafalan surah, melantunkan Asmaul Husna, dan membaca selawat Quraniyah. Di saat para santri fokus dengan bacaannya, Kyai Zaid justru turun tangan sendiri untuk menyapu dan merapikan area pondok agar selalu nyaman dipandang.

“Ayo, waktunya bersih-bersih diri!” seru Kyai Zaid tepat jam lima pagi. Para santri diberi waktu satu jam untuk mandi dan bersiap. Setelah segar, mereka kembali memegang mushaf Al-Qur’an dan membacanya selama satu jam penuh hingga cahaya matahari mulai masuk melewati celah jendela.

***

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba: sarapan. Pukul 07.00 pagi, aroma roti panggang selai yang menggoda memenuhi ruang makan. Namun, sebelum susu segar dan roti itu disantap, Kyai Zaid selalu mengingatkan tentang etika makan. Ada beberapa aturan yang harus dijaga: para santri dan kiai diwajibkan makan bersama, menggunakan alat makan, selalu berdoa, tidak boleh makan-minum sambil berdiri, dan semua hidangan harus dihabiskan tanpa sisa. Setelah doa selesai, mereka pun mulai menyantap sarapan dengan lahap.

Baca juga:  Asiknya Menjadi Santri ~ Amelia Hasanah

Energi dari sarapan itu mereka gunakan untuk belajar sejak jam 08.00 pagi hingga tengah hari. Uniknya, di sini mereka tidak hanya belajar teori agama. Para santri diajarkan banyak keterampilan hidup seperti menggambar, melatih kewaspadaan, pertolongan pertama (P3K), cara membersihkan ruangan, hingga menjahit pakaian sendiri.

Tepat jam 12.00, waktu makan siang tiba dengan menu segar berupa salad buah dan jus blueberry. Setelah makan selama tiga puluh menit, mereka melanjutkan kegiatan dengan salat Zuhur berjamaah dan zikir. Tak lama berselang, Kyai Zaid kembali masuk ke kelas untuk menyampaikan materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Al-Qur’an Hadis hingga jam 14.00 siang.

***

Waktu terus berjalan. Setelah asyik menghafal Qur’an dan menunaikan salat Asar berjamaah pada pukul 15.00, para santri akhirnya mendapatkan waktu luang. Pukul 16.00, mereka diperbolehkan bermain dengan mainan favorit masing-masing—momen singkat untuk melepas penat sebelum kembali bergelut dengan hafalan hingga menjelang Magrib.

Malam di Kota Lighton ditutup dengan rangkaian ibadah yang damai. Salat Magrib, selawat bersama, dan disambung salat Isya berjamaah menjadi rutinitas yang tak terlewatkan. Sebagai penutup hari, mereka mengadakan dinner together pada pukul 19.00 dengan hidangan spesial berupa daging panggang dan teh hangat.

Namun, sebelum beristirahat, Kyai Zaid memberikan satu pelajaran terakhir, yaitu bahasa Inggris, hingga pukul 20.30. Begitu jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam, aktivitas dihentikan. Kyai Zaid mewajibkan para santri untuk merapikan kamar masing-masing agar esok pagi mereka bangun dalam keadaan segar. Dengan piyama yang nyaman, satu per satu santri mulai terlelap, siap untuk menjalani hari berikutnya yang luar biasa.

***

Penulis : Rasdyanathan Fajri Imam Mubien (X.F)

Baca juga:  Latih Kekompakan & Kenang Jasa Pahlawan; OSIM MAN 2 Probolinggo Adakan Lomba Unik Capit Gelas

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR