Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Pengintai Teman Bermain (Halimatus Safaroh)

Rumah pohon di atas pohon randu besar di tengah rawa saat senja. Dua anak tampak sedang bercengkrama di dalamnya. Langit jingga dan ungu memantul di permukaan air rawa yang tenang, dikelilingi siluet pohon-pohon lain.

Desa Lumbung adalah kantung kecil di wilayah Magetan, sebuah tempat yang tidur di atas sejarah kelam. Orang-orang tua berbisik tentang masa lalu, saat rawa-rawa di pinggir desa menjadi kuburan tanpa nama bagi para serdadu Belanda yang lenyap ditelan malam. Sejarah itu kini hanya menjadi dongeng pengantar tidur, tidak lebih.

Bagi Reyhan dan Keysha, rawa itu justru memiliki pesona yang ganjil. Dari kejauhan, pepohonannya yang keriput tampak seperti siluet tangan-tangan kurus yang mencakar langit senja. Di sanalah, di atas sebatang pohon randu tua yang menjorok ke air keruh, mereka memutuskan untuk membangun markas impian: sebuah rumah pohon.

Tentu saja, orang tua mereka keberatan. “Jangan main di dekat rawa, apalagi kalau senja sudah turun,” nasihat ibu Reyhan, tatapannya menyiratkan kekhawatiran yang lebih dalam dari sekadar takut anak-anaknya terjatuh. Namun, bujukan khas anak-anak akhirnya meluluhkan hati mereka. Izin diberikan dengan satu syarat mutlak: pulang sebelum magrib, tanpa terkecuali.

* * *

Rumah pohon itu akhirnya berdiri, sebuah panggung kayu sederhana yang menjadi istana mereka. Suatu sore sepulang sekolah, dengan langit biru cemerlang sebagai atap, mereka memanjat ke sana. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan daun-daun yang membusuk—aroma khas rawa yang bagi mereka adalah parfum petualangan.

Saking asyiknya bercerita, mereka tak sadar warna langit telah berubah dari biru menjadi jingga pekat.

“Rey, kamu bawa ponsel?” tanya Keysha, menyadari cahaya di sekitar mereka mulai temaram.

Reyhan merogoh sakunya. Kosong. “Ketinggalan. Jam tanganmu?”

Keysha menggeleng. Kepanikan kecil mulai merayap. “Kita tunggu matahari tenggelam saja. Itu tandanya magrib.”

Itu adalah kesalahan pertama mereka.

Waktu terasa melambat, lalu seakan berhenti. Kelelahan setelah seharian beraktivitas membuat kelopak mata mereka terasa berat. Tanpa sadar, dalam buaian angin yang kini terasa lebih dingin, keduanya terlelap. Sebuah tidur yang aneh, begitu dalam dan hampa seolah mereka ditarik ke dasar rawa itu sendiri.

Baca juga:  Selimut Kebohongan ~ Panca Putri Aisyah Nurul Jannah

Sementara itu, di desa, matahari telah lama tenggelam. Cemas, orang tua mereka bergegas menuju rumah pohon. Mereka memanggil-manggil nama Reyhan dan Keysha, senter mereka menyorot ke atas pohon. Namun, yang mereka temukan hanyalah rumah pohon yang kosong dan senyap. Seolah-olah kedua anak itu tak pernah ada di sana.

* * *

Reyhan terbangun lebih dulu. Bukan karena suara, melainkan karena hawa dingin yang menusuk tulang. Ia membuka mata dan terkesiap. Langit di atasnya bukan lagi jingga, melainkan hitam kelam tanpa bintang. Di bawah sana, rawa yang tadinya tenang kini tampak seperti hamparan tinta hitam yang mengilap di bawah cahaya bulan yang pucat.

“Key, bangun!” bisiknya, mengguncang bahu sahabatnya.

Keysha mengerjap, lalu duduk dengan kaget. “Sudah malam! Kenapa orang tua kita tidak menjemput?”

Mereka berdua diliputi kebingungan dan rasa takut yang mulai mencekik. Tak ada senter, tak ada penerangan. Hanya kegelapan dan suara-suara malam hutan yang kini terdengar asing dan mengancam. Terdengar bunyi krasak dari semak-semak di bawah, terlalu berat untuk sekadar hewan kecil. Lalu, desau angin aneh yang terdengar seperti bisikan parau.

Dengan jantung berdebar kencang, mereka memberanikan diri mengintip dari celah lantai kayu. Di bawah sana kosong. Hanya bayangan pepohonan yang menari-nari ditiup angin. Saat mereka hendak menarik kepala kembali, sebuah suara menghentikan mereka. Suara yang kering, seperti gesekan daun-daun mati.

“Mencari sesuatu, anak-anak?”

Reyhan dan Keysha membeku. Perlahan, mereka menoleh ke belakang. Di ambang pintu rumah pohon, berdiri sesosok kakek tua. Ia mengenakan caping petani yang lebar, menutupi hampir seluruh wajahnya dalam bayangan. Hanya dagu tirus dan seulas senyum ganjil yang terlihat. Senyuman itu terlalu lebar, memperlihatkan deretan gigi yang tidak rata dan berwarna gelap.

Baca juga:  Peluk Aku Saat Rapuh (Laelatul Luqiyana Adawiyah)

Keduanya terpaku, lidah mereka kelu. Kakek itu tidak berjalan, ia seolah hanya muncul di sana.

“Si… siapa Kakek?” akhirnya Reyhan berhasil bersuara, gemetar.

Kakek itu terkekeh pelan, suara yang membuat bulu kuduk meremang. “Aku sudah di sini sejak pohon ini baru tumbuh. Aku melihat kalian membangun rumah ini. Rumah yang bagus untuk teman bermainku yang baru.”

“Teman bermain?” ulang Keysha, rasa takutnya berubah menjadi firasat buruk.

“Aku sering menemani kalian di sini,” lanjut kakek itu, melangkah masuk tanpa suara. Udara di sekelilingnya terasa dingin. “Aku bahkan sering mengelus rambut kalian saat kalian tidak sadar.”

Reyhan sontak teringat. Sensasi dingin di tengkuk yang sering ia rasakan setiap kali berada di sini. Ia kira hanya angin.

“Kenapa… kenapa Kakek baru muncul sekarang?” tanya Reyhan, mencoba terdengar berani.

Senyuman di wajah kakek itu semakin lebar, tampak mengerikan di bawah cahaya bulan yang remang. “Karena malam ini kalian tidak pulang. Kalian memilih untuk tinggal. Itu artinya, kalian setuju untuk bermain denganku. Selamanya.”

Wajah kakek itu terangkat sedikit, dan dari balik bayangan capingnya, mereka tidak melihat sepasang mata. Hanya ada dua lubang hitam yang kosong, seolah menatap langsung ke dalam jiwa mereka.

“Orang tua kalian sudah mencari,” katanya lagi. “Tapi mereka tidak akan pernah menemukan kalian. Sama seperti yang lain.”

* * *

Saat itulah Reyhan dan Keysha mengerti. Dongeng orang tua mereka bukanlah dongeng. Para serdadu yang hilang… mereka tidak lenyap ditelan rawa. Mereka ditelan oleh penunggu-nya.

Tanpa pikir panjang, didorong oleh adrenalin murni, Reyhan menarik tangan Keysha dan melompat dari sisi lain rumah pohon. Mereka mendarat di tanah basah dengan keras, lalu berlari membabi buta menembus semak belukar, tak berani menoleh ke belakang. Dari atas pohon, mereka bisa mendengar tawa kering itu menggema, mengikuti setiap langkah mereka.

Baca juga:  Latih Kekompakan & Kenang Jasa Pahlawan; OSIM MAN 2 Probolinggo Adakan Lomba Unik Capit Gelas

Entah bagaimana, mereka akhirnya tiba di batas desa dengan napas tersengal, pakaian sobek, dan tubuh penuh goresan. Orang tua mereka menemukan keduanya dalam keadaan linglung di pinggir jalan setapak, menggigil hebat meski udara tidak terlalu dingin.

Mereka tidak pernah lagi kembali ke rumah pohon itu. Bangunan itu dibiarkan lapuk dimakan waktu, menjadi monumen bisu dari sebuah malam yang mengerikan. Namun, terkadang, saat angin bertiup dari arah rawa, Reyhan dan Keysha masih bisa mendengar gema tawa kering itu. Sebuah pengingat bahwa mereka telah diundang untuk bermain, dan sang penunggu masih setia menunggu mereka di sana.


Penulis : Halimatus Safaroh (X.E)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR