
Lampu koridor lantai tiga sudah dimatikan satpam sekolah sejak setengah jam lalu. Aku terus menatap layar ponsel, mengabaikan indikator baterai yang sisa empat persen. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Tengok atas, sepatuku tertinggal.” Aku menelan ludah paksa. Masalahnya, bunyi langkah kaki yang sedari tadi mondar-mandir di atap kelasku sama sekali tidak terdengar seperti langkah orang yang memakai sepatu. Bunyinya lebih mirip kuku panjang yang diseret pelan di atas beton kasar. Dan suaranya perlahan berhenti tepat di atas kepalaku.
Napasku tertahan. Seharusnya aku tidak pernah menyelinap kembali ke kelas sendirian malam-malam begini hanya demi mengambil draf tugas akhir yang tertinggal di laci. Rasa sesal itu kini percuma. Sambil terus mengawasi langit-langit, aku mundur perlahan sampai punggungku menabrak keras pintu lemari kelas. Napasku makin memburu.
Tiba-tiba, sebuah tawa kecil, yang lebih terdengar seperti rintihan menggema dari kolong meja guru di seberang ruangan. Suaranya lirih dan serak. Bulu kudukku meremang hebat teringat rumor lama sekolah ini tentang arwah anak perempuan yang sering bersembunyi di bawah meja kelas karena terus diburu oleh “sesuatu”.
“Keluar…” bisikku bergetar, meski aku sendiri tidak yakin sedang menantang siapa di ruangan gelap ini.
Tidak ada jawaban. Sebaliknya, lampu darurat di ujung koridor luar tiba-tiba berkedip sekali. Cahaya merah redup yang menembus jendela seketika membuat bayangan meja guru itu memanjang, merayap di lantai keramik sampai hampir menyentuh ujung kakiku.
Ponsel di genggamanku bergetar lagi.
“Kalau dia turun, jangan sampai lihat wajahnya.”
Dengan ibu jari gemetar, aku buru-buru membalas pesan dari nomor misterius itu. “Dia siapa?!”
Balasan datang tak sampai sedetik kemudian. “Yang pakai kakiku.”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Pantas saja arwah anak perempuan di bawah meja itu terus bersembunyi ketakutan; makhluk di atas sana telah mengambil kakinya. Belum sempat aku mencerna kenyataan mengerikan itu, terdengar bunyi hantaman keras. Brak! Sesuatu baru saja menghantam plafon tepat di atasku. Retakan tipis menjalar cepat di langit-langit. Serpihan debu dan material gipsum berjatuhan mengenai rambut serta bahuku. Aku menahan napas, tak berani bergerak seinci pun.
Lalu, dari balik celah retakan itu, perlahan sebuah tangan memanjang turun. Kulitnya pucat keabu-abuan, nyaris transparan. Kuku-kukunya hitam dan melengkung tajam menyerupai akar gosong. Tangan itu meraba-raba udara dengan gerakan patah-patah, seolah sedang melacak mangsa dalam kebutaan.
Aku hampir menjerit pecah. Suara dari kolong meja guru itu kembali terdengar, kali ini berupa isakan panik. “Lari…” bisik anak perempuan itu, memperingatkanku sebelum makhluk buas di atap itu benar-benar turun menampakkan diri.
Tanpa pikir panjang, aku menyambar tali tas dan mengambil langkah seribu menerobos pintu kelas. Suara benturan yang sangat keras langsung menggema dari belakangku, menandakan makhluk di atap itu baru saja menjatuhkan dirinya ke lantai. Aku sama sekali tidak berani menoleh.
Koridor lantai tiga terasa gelap dan seakan tak berujung. Hanya cahaya rembulan dari jendela yang menuntun langkah panikku menuju tangga darurat. Napasku nyaris putus, seluruh tubuhku kebas oleh luapan adrenalin yang membanjiri urat nadi. Namun, tepat di tengah pelarianku, layar ponselku kembali menyala redup, membawa satu getaran terakhir sebelum baterainya benar-benar mati.
Satu pesan masuk.
“Sepatunya masih satu.”
Langkahku terhenti seketika. Dengan dada naik-turun dan keringat dingin yang mengucur deras, aku menunduk, refleks melihat ke arah bawah. Lututku seketika lemas. Di tengah remangnya koridor, aku baru menyadari bahwa sepatu kiriku telah hilang entah ke mana.
***
Penulis: Halimatus Safaroh (X.E)
Komentar Terbaru