
Garis biru di punggung tanganku belum hilang saat Kafka tiba-tiba menarik kursi di sebelahku. Kantin sedang bising oleh suara panci ibu kantin, tapi suara ritsleting tas ranselnya yang ditarik kasar menenggelamkan semua keributan itu. Ia melemparkan buku catatanku yang hilang sejak Selasa ke atas meja. Halamannya terbuka, tepat di sketsa wajahnya yang kubuat berantakan menggunakan spidol merah. Ujung jarinya mengetuk meja tiga kali. Ia menatapku tanpa berkedip, menunggu sebuah kebohongan yang belum sempat kuciptakan.
“Ini maksudnya apa?” tanya Kafka dengan nada datar khas seorang Kafka Maverick.
Aku diam membeku selama beberapa detik, takut perasaanku yang sebenarnya terhadapnya terbongkar di hadapan banyak orang. “I-itu… gue cuma gabut aja,” jawabku setengah gugup. Aku memberanikan diri menatap mata tajamnya yang menyorotkan aura permusuhan kepadaku.
Ia tak merespons, namun tatapannya seakan siap menelanku hidup-hidup. Tanpa diduga, ia tiba-tiba berlari mengejarku menerobos keramaian kantin. Aku yang panik refleks ikut berlari kesana kemari. Semua pasang mata sontak menatap kami berdua yang berlarian tak tentu arah layaknya anak kecil kesetanan.
“Lo ngapain ngejar gue?!” teriakku panik membelah keributan kantin.
“Ya elo ngapain corat-coret sketsa muka gue? Mana jelek lagi mukanya!” balas Kafka tak kalah kencang, membuat beberapa siswa tertawa mendengarnya.
“Ya kan emang muka lo jelek!” balasku tak mau kalah, sambil memeletkan lidah dan mengacungkan jari tengah dari kejauhan.
Di sudut warung, Ibu Nunung sang penjaga kantin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kami berdua yang nyaris bertengkar setiap hari. “Kelakuan bocah berdua. Kalau nggak berantem sehari aja, kayaknya mereka bakalan meriang,” gumam Ibu Nunung kepada salah satu siswa yang sedang membeli makanan.
“Bentar lagi juga akur tuh, Bu. Paling lima belas menit lagi mereka udah jajan es cekek sambil jalan berdua,” kekeh siswa tersebut.
Ucapan siswa itu ternyata benar. Kehabisan napas, aku akhirnya menyerah. “Kafka, udah, stop! Capek, damai dah ya. Jangan ngejar lagi,” ujarku ngos-ngosan sambil berlari kecil menuju meja pojok kantin.
“Cemen lo, baru gitu aja capek,” ejek Kafka yang kini ikut duduk di sebelahku. Napasnya tak kalah memburu. Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan, lalu menoleh padaku. “Jajan es cekek, yok. Gue traktir, deh.”
“Murah banget cuma es cekek, minimal es krim, lah!” protesku, dengan nada sedikit mengejek.
“Ya udah, terserah lo aja mau beli apa, tapi nanti bayar sendiri,” sahutnya cuek, lalu buru-buru bangkit meninggalkanku.
“Si labil, nyebelin banget jadi orang!” omelku sepanjang jalan, setengah berlari menyusul Kafka yang sudah mengantre di gerai minuman dingin.
Sepulang jajan dari kantin, kami berjalan beriringan menuju kelas. Entah mengapa, dari dulu sampai sekarang aku dan Kafka selalu ditempatkan di kelas yang sama. Terkadang, aku merasa ini memang takdir Tuhan yang diam-diam kusyukuri.
“Lo pulang sekolah hari ini free nggak?” tanya Kafka tiba-tiba saat kami menyusuri koridor yang mulai sepi.
“Free, lah. Kenapa?” jawabku seadanya.
“Tunggu gue di gerbang depan nanti sore, jangan pulang duluan,” putusnya sepihak dengan nada santai, lalu berlari kecil masuk ke kelas, meninggalkanku yang mematung keheranan mendengar ajakannya yang mendadak.
***
Tepat pukul empat sore, bel pulang berbunyi. Aku berdiri bersandar di tembok gerbang sekolah, memutar-mutar ujung tali tas dengan bosan. Tak lama, sebuah mobil hatchback hitam berhenti tepat di depanku. Kaca jendelanya turun, menampilkan wajah Kafka yang tersenyum jahil sambil memamerkan sebuah kartu yang baru dicetak.
“Surat Izin Mengemudi,” ucapnya bangga. “Ayo naik. Sebagai perayaan SIM baru gue, lo jadi penumpang kehormatan pertama.”
Aku mendengus geli, tapi tetap membuka pintu dan masuk ke kursi penumpang. Mobil pun melaju membelah jalanan kota di bawah pendar cahaya jingga matahari sore. Alunan musik beritme tenang mengalun dari radio, memecah kecanggungan di antara kami berdua.
“Di dashboard ada permen Yupi sama susu cokelat. Makan aja, biar lo nggak bosan,” ucap Kafka memecah keheningan sambil tetap fokus menyetir.
Aku membuka laci dashboard dan mataku langsung berbinar. Hatiku menghangat menyadari ia sengaja memborong camilan kesukaanku. Sambil mengunyah permen, aku menoleh ke arahnya. “Tumben lo baik. Ada maunya, ya?”
Kafka tertawa pelan, lalu menepikan mobilnya di sebuah area taman kota yang sepi dan menghadap langsung ke arah danau buatan. Ia mematikan mesin, lalu mengambil sebuah paper bag dari kursi belakang dan menyodorkannya padaku. Di dalamnya ada sebuah buku sketsa bersampul hitam yang masih bersegel.
“Gue minta maaf,” gumam Kafka pelan, menatap lurus ke arah danau. “Gue minta maaf karena sering banget bikin lo emosi, nyontek PR, dan marah-marah nggak jelas tadi di kantin. Buku sketsa itu buat gantiin buku lo yang udah penuh coretan.”
Aku terdiam. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat melihat sisi Kafka yang mendadak serius dan tak pernah kutemukan sebelumnya.
“Kita temenan aja yang bener, ya? Capek juga gue berantem sama lo tiap hari. Deal?” Kafka menoleh, menyodorkan jari kelingkingnya dengan senyum tipis yang tulus.
Aku sekuat tenaga menahan senyum agar tidak terlihat terlalu antusias. Kautautkan kelingkingku ke jarinya. “Deal. Asal lo sering-sering jadi sopir gue sambil bawain Yupi.”
Sore itu, di dalam mobil yang hangat oleh cahaya senja, diiringi gelak tawa dan obrolan ringan, kami menyepakati sebuah gencatan senjata. Sebuah janji pertemanan yang perlahan-lahan meruntuhkan batas ego di antara kami.
***
Siapa sangka, janji pertemanan di sore itu membawa kami melangkah sangat jauh melewati masa putih abu-abu. Tahun demi tahun berganti. Lulus sekolah, kerasnya masa kuliah, hingga kami mulai meniti karier dan beranjak dewasa, Kafka Maverick tidak pernah benar-benar pergi dari hidupku. Begitu pula perasaanku padanya yang diam-diam tumbuh semakin dalam dan matang.
Hingga suatu petang, usai lelah bekerja, Kafka menjemputku dan mengajak pergi ke sebuah pantai yang tak jauh dari pusat kota. Embusan angin laut yang sejuk dan deburan ombak yang mengalun tenang menyambut kedatangan kami. Aku berjalan mengikutinya menyusuri pesisir, hingga langkah kami terhenti di satu titik yang membuat napasku seakan tercekat.
Di tengah hamparan pasir putih, terdapat kelopak bunga mawar yang disusun rapi membentuk lambang hati. Di tengahnya, terdapat sebaris tulisan yang dibentuk dari cangkang kerang: “Will you marry me, Elzia Zanafa?”
Aku melotot kaget, menutupi mulutku yang menganga. Semuanya semakin terasa seperti mimpi saat aku menoleh dan mendapati Kafka berlutut di hadapanku. Di tangannya, ia memegang sebuket bunga mawar merah muda, warna favoritku sejak kami SMA, bersamaan dengan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin yang berkilau di bawah cahaya senja.
“Dulu gue minta lo jadi teman gue, dan lo setuju,” ucap Kafka dengan suaranya yang kini terdengar lebih maskulin dan lembut, menatap tepat ke manik mataku. “Sekarang, izinkan gue minta sesuatu yang lebih. Will you be my wife, Elzia Zanafa?“
Air mata haru seketika luruh membasahi pipiku. Terlintas kembali kenangan belasan tahun lalu saat kami kejar-kejaran layaknya musuh bebuyutan di kantin sekolah. Siapa sangka remaja laki-laki menyebalkan yang wajahnya kucorat-coret dengan spidol merah itu kini berlutut memintaku menjadi teman hidupnya.
Tak ingin membuat pria yang kucintai itu menunggu terlalu lama dengan lutut berpasir, aku langsung memberikan anggukan mantap sambil tersenyum lebar. Senyum lega yang teramat sangat mengembang di wajah Kafka. Ia bangkit, meraih tanganku diiringi suara deburan ombak yang mengalun tenang. Di bawah pendar cahaya senja keemasan, babak baru dalam kisah cinta kami akhirnya dimulai.
BIONARASI PENULIS
Halo! Aku Lailil. Sebagai seorang selenophile, aku seringkali menemukan ketenangan di bawah pendar bulan dan dalam keheningan dunia fiksi. Bagiku, membaca adalah napas dan menulis adalah cara terbaik untuk merangkai mimpi menjadi nyata. Aku percaya bahwa setiap langkah kecil hari ini adalah bentangan jalan menuju masa depan yang besar. Terima kasih telah menyempatkan diri singgah di ceritaku. Mari terhubung lebih jauh di:
Komentar Terbaru