Minggu, 06 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Cantik Itu …. (Putri Sri Utami)

Cahaya mentari menembus jendela kamar Naira Arshita Putri, atau yang akrab dipanggil Ira. Suara alarm membangunkannya dari mimpi indah. Dengan mata masih setengah terpejam, ia mematikan alarm dan duduk termenung sejenak, sebelum akhirnya beranjak merapikan kamar.

Ira tinggal di sebuah perkampungan kecil dekat pantai bersama kedua orangtuanya, Bunda Indah dan Ayah Roni, serta dua kakaknya, Rendi dan Alena. Pagi itu, aroma masakan Bunda Indah menggelitik hidung, memenuhi seisi rumah dengan wangi yang menggugah selera.

“Ayo semuanya sarapan!” seru Bunda Indah sambil mengetuk pintu kamar anak-anaknya.

“Iya, tunggu sebentar, Bun,” sahut Ira.

Tak lama kemudian, mereka berkumpul di meja makan. Hidangan lezat tersaji di hadapan mereka: sayur sop, udang crispy, dan cumi asam manis.

“Wih, enak nih,” komentar Rendi saat menghampiri ruang makan.

“Ayah mana, Bun? Kok nggak sarapan bareng?” tanya Rendi.

“Ayah lagi ke sawah, ada beberapa lahan yang harus dibersihkan,” jawab Bunda Indah.

Seusai sarapan, mereka tak langsung beranjak. Obrolan ringan dan canda tawa masih mengalir di antara mereka.

“Bunda, Ira jelek, ya?” tanya Ira tiba-tiba dengan muka cemberut.

“Nggak, sayang. Anak Bunda cantik semua,” jawab Bunda Indah lembut.

“Iya, bener tuh kata Bunda. Adek-adek Abang cantik-cantik,” timpal Rendi.

“Kok tiba-tiba nanya gitu, Dek?” selidik Alena.

“Hehehe, nggak papa, Kak. Ira cuma pengen tahu aja,” jawab Ira sambil tersenyum malu-malu.

Selesai berbincang, mereka kembali ke kesibukan masing-masing. Ira dan Alena bergegas berangkat ke sekolah, sementara Rendi kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya karena jadwal kuliahnya nanti sore.

“Pamit dulu, Bun,” ucap Ira.

“Iya, hati-hati, Nak,” pesan Bunda Indah.

Di perjalanan menuju sekolah, Ira dan Alena menikmati pemandangan persawahan yang selalu indah dipandang mata. Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di SMPN 2 Agrabinta, sekolah Ira. Setelah berpamitan dengan kakaknya, Ira memasuki gerbang sekolah.

Alena mempercepat laju sepedanya menuju SMA 1 Taman Sari, sekolah yang terkenal dengan julukan “sekolah seribu prestasi”, tempatnya menuntut ilmu.

***

Sekolah memang menjadi rumah kedua bagi para murid, tempat menimba ilmu dan mengasah kemampuan. Namun bagi Ira, ada satu hal yang membuatnya tidak betah: beberapa temannya. Sebagai murid berprestasi yang selalu membawa nama baik sekolah, Ira disegani oleh para guru. Sayangnya, hal ini justru membuat sebagian temannya iri.

“Duh, anak kesayangan guru udah dateng nih,” sindir salah seorang teman sekelasnya saat Ira tiba di depan pintu kelas.

Baca juga:  Kerang Laut ~ Panca Putri Aisyah Nurul Jannah

“Minggir, Far. Aku mau masuk,” ujar Ira.

“Nih, kerjain dulu tugas aku, baru boleh masuk,” sahut Fara, si anak terkaya di sekolah yang terkenal dengan kecantikan dan kesombongannya.

“Enggak,” tolak Ira tegas.

Ira tak mau dimanfaatkan. Bukannya pelit, ia hanya tak ingin teman-temannya malas belajar jika selalu dibantu dengan cara yang salah. Ira langsung menerobos masuk, mengabaikan ancaman Fara yang terdengar di belakangnya.

Hari itu adalah Rabu, hari yang dianggap membosankan oleh murid kelas 9E karena ada pelajaran matematika dari jam pertama hingga istirahat. Apalagi yang mengajar adalah Bu Septi, guru yang terkenal galak dan ketat dalam memberi aturan.

Bel berbunyi nyaring, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Semua murid berlarian memasuki kelas. Setelah berdoa, Bu Septi langsung menagih tugas yang diberikan minggu lalu. Semua murid maju mengumpulkan, kecuali Fara yang belum menyelesaikan tugasnya.

“Naira, antarkan Fara ke lapangan. Bilang ke penjaga bahwa ini semua Bu Septi yang menyuruh,” perintah Bu Septi.

“Baik, Bu,” jawab Ira patuh.

Dalam perjalanan ke lapangan, Fara tak henti-hentinya menyalahkan Ira. “Ini gara-gara lo, Ra!”

“Kok aku, Far?” tanya Ira bingung.

“Udah diem! Liat aja nanti pulang sekolah,” ancam Fara.

Bel istirahat berbunyi. Ira dan sahabatnya, Ratih, pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman. Tiba-tiba, Fara menghampiri mereka.

“Beliin gue es,” pinta Fara dengan nada memerintah.

“Tapi aku udah ke kantin barusan, Far,” jawab Ira.

“Bodo amat. Cepetan beliin aku es!” sergah Fara.

“Itu ada Kesya sama Citra mau ke kantin. Nitip ke mereka aja,” saran Ira.

“Lo denger nggak sih, Ra? Gue nyuruh lo, bukan yang lain!” bentak Fara.

Ira tak bisa melawan. Ia takut akan berurusan dengan BK jika membantah. Dengan berat hati, Ira kembali ke kantin untuk membelikan es pesanan Fara.

***

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Murid-murid berhamburan keluar kelas, tergesa pulang. Namun Ira masih duduk terdiam di kelasnya, menunggu Alena menjemputnya. Ia asyik membaca buku ketika Fara menghampirinya.

“Ra, gue boleh minta tolong, nggak?” ujar Fara dengan nada yang tak biasa.

“Minta tolong apa, Far?” jawab Ira, sedikit curiga.

“Ikut gue ke kamar mandi. Tadi dompet gue ketinggalan di sana.”

“Kenapa nggak ngambil sendiri aja?” tanya Ira ragu.

“Takut, Ra. Nanti gue kasih sesuatu deh,” bujuk Fara.

Baca juga:  Hey Aku! ~ Aprilia Anggraini Putri

Meski merasakan firasat tidak enak, Ira tetap berpikir positif. Ia tahu kamar mandi putri memang agak gelap karena hanya ada dua lampu redup.

“Ra, tolong ambilin,” gumam Fara saat mereka tiba di depan kamar mandi.

“Iya, yang mana, Far?”

“Itu, pintu nomor 3.”

Begitu Ira hendak masuk, terdengar suara pintu dibanting. Fara dan dua temannya yang bersembunyi segera mengunci pintu kamar mandi.

“Far, Fara, bukain pintunya!!!” teriak Ira panik.

“Ini hukuman buat lo yang nggak mau bantu gue,” sahut Fara dingin.

Fara dan teman-temannya meninggalkan kamar mandi tanpa rasa bersalah, mengabaikan teriakan Ira.

Hampir dua jam Ira terkunci di kamar mandi, berteriak sekencang mungkin namun tak ada yang mendengar. Hingga akhirnya Pak Joko, penjaga sekolah, mendengar suara teriakan saat melewati kamar mandi putri. Awalnya ia mengira itu suara hantu, tapi setelah memberanikan diri, ia membuka pintu dan menemukan Ira duduk lemas.

“Pak Joko!” seru Ira dengan isak tangis.

“Iya, Nduk. Aduh, kok bisa terkunci seperti ini?” tanya Pak Joko khawatir.

“Nggak tau, Pak. Tiba-tiba terkunci saja,” jawab Ira berbohong, tak ingin berurusan lebih panjang dengan Fara.

“Yaudah, cepet pulang, Nduk. Kasian orang rumah,” ujar Pak Joko.

“Iya, Pak. Makasih banyak.”

***

Meski sudah diperlakukan buruk, Ira tak pernah menceritakannya kepada siapapun. Bukan hanya sekali dua kali ia di-bully. Beberapa bulan kemudian, Ira diejek karena masalah jerawatnya. Fara menganggap jerawat Ira menjijikkan. Masalah warna kulit pun diungkit-ungkit. Ira memang memiliki kulit wajah yang sensitif, jadi berjerawat adalah hal yang wajar baginya.

“Jelek banget sih muka kamu, Ra,” ledek Fara suatu hari.

“Emm, iya,” respon Ira pasrah.

“Minimal punya wajah tuh diurus,” cela Fara.

“Iya, Far.”

“Pinter di akademik doang. Ngerawat muka sendiri aja nggak pinter,” Fara terus mengejek.

Setelah mendapat hinaan seperti itu, Ira tak mau bersekolah lagi. Keluarganya bingung dengan alasan Ira. Hampir seminggu Ira tidak masuk sekolah. Akhirnya Ratih, sahabat Ira, memberanikan diri untuk menceritakan semua yang terjadi, termasuk insiden di kamar mandi.

Mendengar cerita Ratih, keluarga Ira sangat sedih, terutama ibunya. Mereka tak menyangka anak kesayangan mereka diperlakukan buruk oleh temannya sendiri. Rendi dan Ayah Roni sangat marah. Mereka menuntut keadilan.

Keluarga Ira mendatangi sekolah. Fara tampak panik di depan kelasnya. Wali kelas 9E, Ibu Citra, segera menghampiri keluarga Ira dan mengajak mereka menemui kepala sekolah.

Baca juga:  Perihal Menunggu dan Takdir ~ Naurah Salsabila Auliya

Setelah perdebatan panjang, Pak Ardi selaku kepala sekolah memutuskan untuk memberikan hukuman kepada Fara berupa pindah kelas dan harus masuk asrama. Hukuman ini disetujui oleh orang tua Ira dan juga orang tua Fara.

“Ayo bully aku lagi, Far,” seru Ira dengan isak tangis.

“Kamu happy kan ngeliat aku kayak gini?”

“Emm, maaf. Aku beneran minta maaf,” jawab Fara dengan rasa bersalah.

Meski masalahnya telah usai, Ira tetap dihantui rasa takut. Ia takut bertemu orang-orang selain keluarganya. Ira malu melihat wajahnya sendiri, beranggapan dirinya wanita paling jelek. Ia membenci dirinya sendiri, selalu berpikir mengapa ia tak bisa cantik seperti teman-teman lainnya.

***

Waktu berlalu, Ira kini berteman baik dengan semua orang, termasuk Fara. Ia mencoba melupakan rasa traumanya. Meski begitu, Ira tetap berhati-hati dalam berteman, terutama dengan Fara.

Tujuh bulan berlalu, hari wisuda angkatan 27 pun tiba. Ira tampil cantik mengenakan kebaya berwarna pink. Ia sangat senang akhirnya bisa terbebas dari sekolah itu.

Semenjak lulus SMP, Ira menjadi gadis yang semakin pintar. Ia meningkatkan prestasinya tanpa terlalu memikirkan kondisi wajahnya. Banyak perubahan positif terjadi pada dirinya. Ira yang dulu pendiam kini menjadi remaja yang sangat aktif dan memiliki banyak teman baik.

Kini Ira tak tahu lagi keberadaan Fara. Meski begitu, ia masih ingin berteman baik dengannya. Ira sudah melupakan kejadian masa lalu dan memaafkan kesalahan apapun yang diperbuat oleh Fara.

“Percantik pendidikanmu. Wanita terlihat cantik saat ia berpendidikan. Soal wajah, bukankah Tuhan menciptakan kita dengan rupa yang sempurna? Kita tidak boleh tumbang hanya karena omongan seseorang. Selalu bersyukur dengan apa yang kita punya. Sayangi dirimu sendiri. Orang yang paling mengerti tentang kondisi kita adalah diri kita sendiri. Setiap kekurangan pasti ada kelebihan.”

*****

Hai, teman-teman! Saya Putri, seorang pecinta buku yang menemukan keajaiban dunia melalui lembaran-lembaran cerita. Sejak bangku MTs, saya jatuh cinta pada seni menulis dan sejak itu tak pernah berhenti menciptakan dunia-dunia baru melalui kata-kata. Terlahir dari keluarga sederhana justru menjadi api yang membakar semangat saya untuk terus bermimpi dan berkarya. Motto hidup saya sederhana namun penuh tekad: “Latar belakang tak akan menghalangi langkah menuju impian.” Selamat menikmati petualangan lewat tulisan saya, dan ingat, setiap dari kita punya cerita luar biasa untuk dibagikan!

KELUAR