Di sebuah sekolah di kota kecil, tengah berkumpul siswa-siswi yang menunggu pengumuman kelulusannya. Suasana di lapangan tempat mereka berkumpul saat ini begitu hening, terasa menegangkan.
Mereka mengusap wajah perlahan, bersabar menunggu kepala sekolah mereka yang sampai kini belum juga berdiri di lapangan untuk memberikan penjelasan yang berarti.
Setelah menunggu beberapa menit kemudian, Kepala sekolah yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya datang juga dengan wajah yang sangat serius. Membuah para siswa-siswi bertambah cemas dan gelisah.
Terdengar kepala sekolah mulai mengucapkan salam, menyapa dan kemudian menanyakan kabar siswa yang telah berkumpul di lapangan.
“Bagaimana? Sudah tenang setelah melewati ujian nasional?” tanya ibu kepala sekolah.
“Belum u,” sorak siswa serentak.
“Kenapa emangnya?” tanya kepala sekolah seolah tak mengerti kerasahan para siswa.
“Pengumumannya belum, Bu,” ucap mereka lantang membuat kepala sekolah terkekeh pelan.
“Baik-baik, Ibu tidak akan bicara panjang lebar dengan kalian saat ini, Ibu tahu, kalian sudah menunggu Ibu sedari tadi.” Kepala sekolah mereka menghela napas sejenak.
“Baiklah, langsung saja. Dengan bangga, Ibu menyatakan jika kalian, siswa-siswi kelas dua belas angkatan 2021,LULUS SERATUS PERSEN.” Kalimat kepala sekolah singkat padat dan jelas.
Sontak saja, seluruh siswa-siswi yang berada di lapangan tersebut langsung mengungkapkan rasa lega sekaligus bahagia mereka. Tepuk tangan riuh menggema di seluruh lapangan.
Setelah pengumuman yang menggembirakan tadi, Para siswa-siswi mulai melepas rindu mereka masing-masing di tengah lapangan tersebut.
Semua saling mengungkapkan kegembiraan mereka, terkecuali dengan gadis yang saat ini sedang di taman sekolah.
“Lettaa…Lu ke mana aja sih, dari tadi kita cariin tahu!” teriak seseorang yang tiba-tiba saja datang.
“Ada apa?” balas si gadis yang tadi diteriaki.
“Lo dipanggil sama Bu Lusi, tuh! Disuruh ke ruangannya.” Kalimat yang membuat Letta sontak mengerenyit bingung.
“Disuruh ke ruangan Bu Lusi? Untuk apa?” Letta berusaha mencari tahu, dan hanya dibalas anggukan bahu tanda tak mengerti oleh temannya.
Letta segera bergegas ke ruangan bu Lusi. Setibanya di ruangan yang dituju, Letta mulai mengetuk pintu yang langsung dipersilakan masuk oleh bu Lusi. Dengan perlahan Letta mulai memasuki ruangan, dan terlihat bu Lusi hanya mengangguk menyambut kedatangannya.
“Ibu panggil saya?” tanya Letta ketika sudah berada di hadapan bu Lusi.
“Iya, Leta, Duduklah!”
Setelah duduk Leta menatap Bu Lusi yang tengah tersenyum manis membuatnya semakin bingung.
Kemudian Bu Lusi membuka laci yang berada di sebelah kirinya, dan mengeluarkan map coklat yang terlihat sangat rapi. Setelah itu ,dia menyodorkan map tersebut pada Leta.
“Ini…apa, Bu?” Letta merasa kebingungan.
“Bukalah.” Bu Lusi menjawab singkat sambil tetap mengulas senyum.
Dengan rasa penasaran yang besar, Leta mulai membuka amplop tersebut dengan tangan gemetar, takut jika sesuatu dalam map tersebut adalah berita buruk untuknya.
Namun, saat dia sudah membukanya dan membacanya dengan seksama, dia langsung terkejut dengan mata yang membulat besar. Tangan kirinya menutup mulutnya yang sedikit menganga karena tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Dia mendongak kembali, Menatap Bu Lusi yang sampai kini masih tersenyum lembut padanya .
“Ini … Beasiswa, Bu? Untuk saya?” tanyanya gugup.
“Iya, Leta. Betul sekali. Ada salah satu universitas yang ingin mengambil salah satu murid berprestasi dari sekolah kita, dan pihak sekolah, sudah memutuskan bahwa kamu yang akan menerima beasiswa tersebut.” Terang bu Lusi sambil merapikan beberapa berkas di hadapannya.
“Atas nama pribadi dan juga sekolah, Ibu mengucapkan selamat untuk kamu. Semoga dengan adanya beasiswa itu kamu bisa menjemput masa depan kamu yang gemilang nantinya,” sambung bu Lusi seraya menjabat tangan Letta.
“Amin, Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih. kalau begitu saya permisi, Bu,” tukas Letta berpamitan sambil mencium punggung tangan bu Lusi.
Leta keluar dengan langkah gembira. Dia langsung berlari keluar dari sekolah, dan pulang dengan langkah gembira.
*****
Bionarasi
Perkenalkan nama saya Faizah Juan, biasa dipanggil Faiz. Saya sekarang bersekolah di MAN 2 Probolinggo kelas 11 mipa 2. Saya mempunyai hobi membaca. Alamat saya di Desa selogudig wetan, Dusun kerajan 2, jln condong, kec.pajarakan, kabupaten probolinggo. faizahjuan@gmail.com.
Komentar Terbaru