Malam sunyi yang hening, merenung setiap rahasia yang terpendam. Ditemani sang rembulan, seakan merangkul aku dalam keheningan. Perihal atas namanya dalam angan, redup kala datangnya lara.
Anganku selalu tertuju padanya
Tapi kenyataan membuatku sadar bahwa ia tak seindah yang ku bayangkan. Diiringi irama heningnya gelap, diselimuti goresan luka yang membekas. Perihal rindu yang tak tersampaikan, aku hanya mendoakanmu dalam sepertiga malam.
Perasaan yang terpendam lama, kini sudah ku tinggal menjadi kisah. Aku merindukan kita yang dulu, ketika saling melengkapi. Aku yang dibuat nyaman olehmu, namun kamu juga yang membuat ku sepi tentang kepergianmu. Terimakasih telah hadir dihidupku, meski hanya untuk sesaat tetapi kamu berhasil mengisi kekosongan yang ada dalam kehidupanku.
Rasanya ingin ku sampaikan ini semua,
Namun apa daya, hati ini tak sekuat yang ku kira, walau aku tau kau takkan mau lagi bersanding denganku.
Lentera yang berjejer di pinggir jalan, menyinari setiap langkah yang ku jalani,
seakan memberi kode untuk tetap sadar dari lamunan kesunyian. Dilain sisi, aku sadar tentang hubungan antara aku dan kamu. Hanya sebatas teman yang menaruh perasaan lebih pada seseorang yang sudah berpenghuni.
Kisah ini kau yang mengakhiri, ku duduk di kursi tepi jalan yang sepi, wacana mencari ketenangan, namun isi pikiranku tak hanya berhenti disini. Seperti ada yang terus menggali lebih dalam, sama halnya seperti perasaanku padamu yang semakin kujalani setiap harinya, dan semukin pula bertambah.
Terkadang, keadaaan menyadarkanku tentang posisi yang tak seharusnya melibatkan hati. Kini aku bertemu dengan orang baru didalam hidupku. Persis sepertimu, kupikir itu kamu, ternyata orang baru. Dia baik, manis, hangat dan setelah diingat kembali, kamu juga seperti itu dulu.
Kamu memanglah hangat, seperti ketika kita saling bertukar cerita ditemani dengan indahnya senja dan sungai. Bohong jika aku melupakan semua itu, bahkan hal kecil saja selalu ku ingat. Semua yang ada pada diri kamu berharga bagiku, bahkan ketika kamu bercerita tentang penghunimu itu.
Dan anehnya lagi. Akhir-akhir ini kita banyak bercerita, kamu yang selalu memperhatikan hal-hal kecil tentangku, mengkhawatirkan keadaanku. Apakah rasa ini kembali lagi?
Seperti nya iya, rasa ini lebih ingin menetap di tempat yang dulu. Ntah kapan dan bagaimana caranya rasa ini akan berpulang lagi, namun aku harap selama menetap aku tak merasakan sakit sesaat. Konyol rasanya aku berharap kepadamu, Namun Tuhan yang menetapkan rasa ini padaku
Lucu ya, kita bisa sedekat ini.
– Goresan bersama anggota pena
Editor: Aisyah
Komentar Terbaru