Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Tentang kita ~ Aprilia Anggraini Putri

Dalam jalan serupa kereta, dalam masa yang terus menerus mengeja, salam sesekali berontak sebab ulah dan tingkah para penghuninya. Semakin deras globalisasi, semakin intens doktrin trendy mengusik bumi semakin sering pula kita kehilangan jati diri. Karena keasyikan menikmati apa yang ada di hadapan kita baik berupa keindahan, perubahan yang instan, dan zona nyaman. Kita lupa siapa kita yang seutuhnya. Dan tanpa terasa kita dikuasai sepenuhnya oleh budaya orang lain yang kita sendiri tidak memahaminya sisi baiknya.

Manusia memang ditabiatkan mempunyai sesuatu yang baru. Begitu kira-kira seorang mushanif menuliskan dalam sebuah karyanya. Kita tahu dari setiap manusia pasti menyukai hal-hal baru. Mereka condong mengikuti alur kehidupan yang ada bagaimanapun bentuknya. Mengalir seperti air tanpa peduli bawah aliran jitu membawanya pada dataran yang lebih rendah.

Yang menyedihkan begitu seorang penulis menuliskan dalam bukunya indonesia tidak maju karena mereka sendiri yang tidak menghendaki. Sebab, mereka memang lebih bangga ketika memakai produk luar negeri dari pada produk sendiri. Bahkan, ironisnya Mereke kadang merasa malu ketika memakai produk negeri tercinta ini. Lalu bagaimana indonesia akan maju jika penduduknya tidak membanggakannya?

Bersikap malu atau bahkan membanggakan milik sendiri. Sebab, kurang mendalami arti dibalik hal yang kita miliki. Pandangan kita justru berfokus pada kekurangan kemunduran dan anggapan bahwa negeri kita selalu berada di garis belakang. Tidak ada yang salah ketika hal yang baru mengundang perhatian kita sebagai manusia ikut terjun mempraktikkan. Sebab, menutup diri akan ketinggalan zaman sedangkan membuka diri tanpa bekal dan benteng berisiko kehilangan jati diri atau kepribadian. Kehidupan memang menuntut perubahan. Namun, bukan berarti mengabaikan pendirian. Sesekali kita butuh senja untuk merenungi arti dari hidup ini.

Baca juga:  Deep Talk ~ Lusiana Syafitri

Tanpa kita sadari sesungguhnya kita sedang dijajah oleh keadaan dunia ini. Hal ini terjadi sebab kita kurang mengenali jati diri dan kurang membentengi hati. Dunia menawarkan banyak hal menarik pada kita fashion, wisata, kuliner, kecepatan informasi dan komunikasi. Penjajahan saat ini bukan tentang bom meriam yang berdebam,bukan pula tentang pedang yang berdentam atau berdarah-darah sebab peperangan. Kita dijajah dengan cara yang halus, melalui hal-hal yang kita sendiri tidak bisa lepas dari nya seperti teknologi misalnya.

Di sisi lain hal kecil yang tidak kita sadari yang sebenarnya cukup mengkikis jadi diri adalah kebanyakan orang tua saat ini lebih bangga saat anaknya menguasai bahasa asing, meski belum menguasai bahasa adat mereka sendiri. Berbahasa dengan bahasa dunia menurut pandangan banyak orang keren katanya lebih mereka mengadakan meski disampaikan dengan intonasi yang kasar adanya. Lalu melalui fashion kita ditawarkan berbagai macam gaya modis yang justru tidak berwajah islami dan tidak menuntup aurat yang kita miliki. Yang tampak justru hanya kecantikan modis dan trendy.

Barangkali, kita perlu merefleksikan diri untuk kemudian menyadari tujuan diwajibkannya kita menutup diri. Agar tidak salah paham tentang fashion kita sendiri dengan beranggapan bahwa yang tertutup dengan rapi itu jaman dahulu, kurang pergaulan dan sebagainya. Yang kita tiru malah cara berpakaian para artis yang mayoritas hanya memperioritaskan kecantikan daripada menutup aurat. Dari sini mulailah muncul tidak ingin ketinggalan zaman dan perasaan ingin sama seperti yang lainnya. Hingga tanpa terasa kita mulai kehilangan rasa cinta terhadap apa yang kita miliki.

Benar adanya bawa allah menjadikan dunia ini terlihat begitu indah dengan kelap-kelip dan pernak-pernik. Hal ini untuk menguji umat manusia adakah dunia membuatnya lupa pada yang menciptakan dunia itu sendiri atau justru ia akan semakin dekat dengan penciptanya. Allah menyebutkan hal ini dalam firman-nya “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan anak-anak artha benda yang bertumpu dalam bentuk emas dan perak udah pilihan dan ladang itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi owalah tempat kembali yang baik.”

Baca juga:  Tersesat dalam Satya Loka (Muhammad Syaiful)

Yang harus kita ingin lagi ialah,bahwa dunia ini secara keseluruhan hanya masa mainan tidak ada habisnya. Bahwa dunia beserta isinya adalah kesia-siaan belaka. Kelak akan tiba masa dimana fana itu akan mewujudkan. Sebab hidup hanyalah mainan maka jadilah pemenang permainan. Bukan justru menjadi peran yang sedang dipermainkan. Allah menjadikan dunia ini sebagai perantara untuk sampai kepadanya dengan cara merenungi, meratapi berakhir dengan mensyukuri segala hal yang kepada kita telah dianugerahi.

JANGANLAH MENCARI CINTA,CARILAH YANG SEDANG MENCARI CINTA

Bionarasi
Aprilia Anggraini Putri lahir di Bangkalan Tanggal 16 April 2002. Jenjang pendidikan sekolah dasar MI Salafiyah, MTS Salafiyah, dan sekarang melanjutkan ke man 2 Probolinggo jurusan IPA.
Selain menjadi pelajar,ia mengabdi di TPQ Sukomulyo,yang dikenal dengan Rumah ABATA. Pada 2015, ia berhasil menjuarai Kompetisi Sains Madrasah (KSM).

===

Editor Salwa Nurul Asyifa

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR