Selasa, 01 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Renungan Di Tengah Kesunyian (Yunita Saifilla)

Bumi begitu luas dengan segala keindahannya yang tak dapat diungkapkan hanya dengan sekadar kata-kata. Tuhan menciptakan segalanya dengan senyuman-Nya, hingga seluruh isinya pun begitu indah. Bumi selalu dihiasi dengan beragam rumah, dan di antara milyaran rumah di bumi, rumahku terletak di perbukitan. Dari sini, lampu-lampu kota terlihat jelas, dan saat malam tiba, segalanya menjadi indah dan tenang.

Pada suatu malam, aku terbangun, dan menyadari bahwa jendela kamarku terbuka begitu saja. Aku segera menghampiri jendela dan melihat keluar. Pemandangan yang menyambutku sungguh menakjubkan. Aku melihat bulan dan bintang-bintang menyinari bumi di malam hari, pepohonan yang bergoyang tertiup angin, serta lampu-lampu kota yang menerangi rumah-rumah. Angin terus menerpa tubuhku yang terdiam, dan tanpa sadar aku bergumam, “Tuhan, begitu indahnya ciptaan-Mu.”

Malam dengan bintang-bintang dan lampu kota yang bersinar tidak ada yang dapat menyamai keindahannya. Sementara semua orang menutup mata dan terlelap dalam selimut, aku membuka lebar mata dan selimut untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu ini. Aku segera mengganti pakaian dan pergi ke kamar mandi untuk berwudu, lalu segera menggelar sejadah untuk melaksanakan shalat sunah. Sembari menghadap sang Pencipta, perasaan tenang menyelimutiku. Aku berdoa untuk segala hal baik, karena hanya kepada-Nya, Allah SWT, aku mengharapkan kebaikan, sang Pencipta bumi dan seisinya. Doa mana yang tidak akan menembus langit saat semua orang terlelap karena lelah dengan aktivitas mereka, sementara aku justru terbangun untuk menghadap sang Kuasa?

Terlalu banyak orang yang lupa akan kewajiban sesungguhnya, yaitu berdoa dalam proses menghadapi ujian dunia. Terlalu sibuk mengejar gelar, hingga lupa menggelar sejadah.

Baca juga:  Detik Perpisahan (Lesti Abelia)

*****

Nama saya Yunita Saifilla, biasa dipanggil Nita. Lahir pada 26 Maret dan saat ini bersekolah di MAN 2 Probolinggo. Meskipun memiliki banyak impian, salah satu cita-cita terbesar saya adalah menjadikan orang-orang terkasih abadi dalam karya-karya saya, baik itu tulisan, lukisan, atau bentuk seni lainnya, agar kenangan indah bersama mereka dapat terus dikenang dan dinikmati.

KELUAR