Sabtu, 23 Mei 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Mahluk Penghuni Atap Sekolah (Muhammad Ainul Yaqin)

Close-up sebuah tangan dalam kegelapan total, mencengkeram erat smartphone yang menyala. Layar ponsel yang terang menampilkan satu pesan dari "Nomor Tidak Dikenal" yang berbunyi: "Tengok atas, sepatuku tertinggal." Di status bar bagian atas layar, terlihat waktu 23:42 dan ikon baterai merah kritis yang menunjukkan daya tersisa hanya 4 persen.

Lampu koridor lantai tiga sudah dimatikan satpam sekolah sejak setengah jam lalu. Amira terus menatap layar ponsel, mengabaikan indikator baterai yang sisa empat persen. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Tengok atas, sepatuku tertinggal.” Amira menelan ludah paksa. Masalahnya, bunyi langkah kaki yang sedari tadi mondar-mandir di atap kelasku sama sekali tidak terdengar seperti langkah orang yang memakai sepatu. Bunyinya lebih mirip kuku panjang yang diseret pelan di atas beton kasar. Dan suaranya perlahan berhenti tepat di atas kepalaku.

Udara malam yang menyusup dari celah ventilasi mendadak terasa sedingin es. Wajar saja koridor sudah dimatikan; jam dinding kelas menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kami berenam memang sengaja meminta izin menginap untuk menyelesaikan properti rumah hantu acara pentas seni sekolah besok pagi. Namun, teror malam ini sama sekali bukan bagian dari skenario kami.

“Aaaargh!” Aku menjerit sejadi-jadinya saat suara gesekan kuku dari atas plafon terdengar semakin keras.

Amira memekik histeris hingga ponselnya terlempar ke lantai. Tanpa aba-aba, kami berdua, bersama Doni dan tiga teman lain yang tadinya mengecat papan tripleks di sudut ruangan langsung berhamburan lari terbirit-birit keluar kelas. Kami menyusuri lorong gelap dengan napas memburu, nyaris terjungkal di tangga, hingga akhirnya menabrak tubuh seseorang.

“Astaga! Ada apa ini teriak-teriak malam buta?!” tegur Bu Nisa, guru pembimbing kami yang sedang berpatroli membawa senter.

Amira sudah menangis sesenggukan memeluk lenganku. Doni, yang biasanya paling pecicilan, kini wajahnya pucat pasi. Dengan napas tersengal, ia berusaha menjelaskan rentetan teror itu. Mulai dari pesan SMS misterius tentang sepatu di ponsel Amira, hingga suara cakar gaib di atap yang nyaris membuat jantung kami copot.

Baca juga:  Seni Perjuangan Cinta (Lesti Abelia)

Awalnya, Bu Nisa mengerutkan kening tak percaya. “Kalian ini jangan mengada-ada. Pasti ulah si Raka, kan? Ke mana anak itu? Dari tadi Ibu tidak lihat dia ikut mengecat.”

Aku dan Doni saling berpandangan. Benar juga, Raka pamit ke toilet sejak tiga puluh menit lalu dan belum kembali. Namun, suara cakar di atap tadi terlalu nyata untuk sekadar kejahilan Raka.

“Ya sudah, daripada kalian ketakutan sendiri menebak-nebak, mari kita pastikan sama-sama ke atas,” putus Bu Nisa tegas, meski senter di tangannya terlihat sedikit bergetar.

“Jangan, Bu! Aku takut!” tolak Doni mentah-mentah sambil mundur selangkah, menutupi wajahnya dengan tangan.

“Ibu juga sebenarnya merinding kalau sendirian, Doni. Makanya kita harus bareng-bareng. Ayo, kalian kan banyakan,” bujuk Bu Nisa. Berbekal senter dan sisa-sisa keberanian, rombongan kami akhirnya mengendap-endap menaiki tangga sempit menuju pintu akses rooftop sekolah.

Sesampainya di depan pintu seng atap, Bu Nisa melangkah maju lebih dulu. Ia membuka pintu sedikit, melongok ke luar sejenak, lalu mendadak membantingnya tertutup. Saat menoleh ke arah kami, matanya membelalak ngeri. “A-ada makhluk menyeramkan di atas sana! Matanya menyala dan dia sedang menggaruk-garuk beton pakai kuku panjang!” bisiknya dramatis.

Tangis Amira nyaris pecah lagi. Namun, entah mendapat dorongan dari mana, gengsi Doni sebagai laki-laki tiba-tiba bangkit. Sambil memejamkan mata rapat-rapat dan berkomat-kamit membaca doa, Doni menerobos maju dan menendang pintu atap itu hingga terbuka lebar.

Hening sejenak. Angin malam berembus kencang. Lalu…

“BWAHAHAHA!” Tawa Doni meledak membahana, merobek keheningan malam.

Aku dan Amira memberanikan diri menyusul ke ambang pintu. Di bawah sorot cahaya bulan, sumber suara mengerikan itu akhirnya terlihat jelas. Bukan kuntilanak atau siluman, melainkan dua ekor kucing kampung liar yang sedang bergulat seru memperebutkan sisa tulang ayam kantin. Kuku-kuku mereka yang mencakar beton itulah dalang dari suara menyeramkan di plafon kelas kami. Kami serempak menghela napas panjang, sementara Bu Nisa tersenyum jahil di belakang karena sukses mengerjai murid-muridnya.

Baca juga:  Sejarah Lahirnya Kementerian Agama RI ~ HAB Ke-76

“Terus… pesan SMS sepatu tadi dari siapa?” tanyaku, masih penasaran karena misteri itu belum terjawab.

“Dari gue!”

Sebuah suara mendadak menyahut dari balik toren air di sudut atap. Sesosok bayangan melompat turun dengan susah payah, hanya mengenakan kaus kaki di sebelah kaki kirinya. Itu Raka. Sambil nyengir kuda, ia mengacungkan sebuah sepatu kets butut yang baru saja berhasil ditariknya dari celah pipa toren.

“Gue tadi mau diam-diam kabur beli cilok di luar lewat tembok belakang, tapi sepatu gue malah nyangkut di sini,” kekeh Raka tanpa dosa, memamerkan ponselnya. “Karena gue nggak bisa turun, ya udah gue isengin aja nomornya Amira pakai nomor baru gue, niatnya biar kalian ke atas bantuin gue. Eh, ternyata barengan sama kucing berantem. Kaget juga gue denger kalian malah teriak-teriak lari!”

Seketika, rasa takut kami menguap tak bersisa, digantikan oleh kekesalan yang memuncak. Malam itu, di bawah atap sekolah yang dingin, Raka resmi menjadi sasaran amukan kami karena sukses membuat satu kelas nyaris pingsan ketakutan.

***

Penulis: Muhammad Ainul Yaqin (X.E)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR