Sabtu, 23 Mei 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Terperangkap (Dwi Ayu Sholihah)

Sebuah tangan yang menggenggam smartphone menyala di tengah ruangan yang gelap. Layar ponsel menampilkan aplikasi perpesanan dengan pengirim "Nomor Tidak Dikenal" dan teks berbunyi: "Tengok atas, sepatuku tertinggal." Di sudut atas layar, ikon baterai berwarna merah menunjukkan daya kritis 4 persen. Di latar belakang yang remang-remang, terlihat lantai berkeramik, sebuah jeruji ventilasi, dan bayangan siluet kepala manusia misterius yang berdiri mengintip di dalam kegelapan.

Lampu koridor lantai tiga sudah dimatikan satpam sekolah sejak setengah jam lalu. Aku terus menatap layar ponsel, mengabaikan indikator baterai yang sisa empat persen. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Tengok atas, sepatuku tertinggal.” Aku menelan ludah paksa. Masalahnya, bunyi langkah kaki yang sedari tadi mondar-mandir di atap kelasku sama sekali tidak terdengar seperti langkah orang yang memakai sepatu. Bunyinya lebih mirip kuku panjang yang diseret pelan di atas beton kasar. Dan suaranya perlahan berhenti tepat di atas kepalaku.

Tubuhku seketika membeku. Sumpah serapah tertahan di ujung lidah. Seharusnya aku tidak nekat menyelinap kembali ke sekolah malam-malam begini hanya demi mengambil flashdisk tugas Sejarah yang tertinggal di laci kelasku. Sialnya, Pak Satpam keburu mematikan panel listrik saat aku baru saja menemukannya, memaksaku bersembunyi menahan napas di pojok koridor agar tidak dituduh macam-macam. Dan sekarang, alih-alih mengkhawatirkan Pak Satpam, aku malah mematung ketakutan karena terjebak bersama sesuatu di atas sana.

Keheningan yang menyergap kini terasa jauh lebih mencekik. Tidak ada lagi bunyi kuku bergesekan. Hanya degup jantungku sendiri yang memburu liar hingga telingaku berdenging. Tiba-tiba, terdengar suara kerikil halus bergeser dari arah plafon, disusul serpihan debu putih yang rontok menimpa bahuku.

Dengan sisa-sisa keberanian dan tangan gemetar, aku perlahan mendongak. Mataku tertuju pada celah ventilasi berdebu di atas pintu kelas. Di balik kegelapan celah sempit itu, aku melihatnya.

Seraut wajah pucat pasi mengintip. Itu wajah Ani, teman sebangkuku yang pamit pulang duluan karena sakit sejak sore tadi. Namun, ini bukan Ani yang kukenal. Tatapannya kosong, matanya melotot tak wajar, menatap lurus ke arahku tanpa berkedip sama sekali.

Baca juga:  Pesona latar ~ Syafhira Khoirotun Zahra

Cahaya redup dari layar ponselku memantul samar di wajahnya yang sedingin mayat. Dari celah ventilasi itu, sebuah suara serak, berat, dan sama sekali bukan suara Ani, mendesis pelan di tengah keheningan kelas,

“Aku melihatmu.”

Darahku seketika membeku. Sebelum aku sempat membuka mulut untuk menjerit meminta tolong, layar ponsel di genggamanku berkedip satu kali, lalu mati total. Baterainya benar-benar habis. Kini, aku sendirian, terjebak dalam kegelapan mutlak lantai tiga, bersama sesuatu yang terus menatapku dari atas sana.

***

Penulis: Dwi Ayu Sholihah (X.F)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR