Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Coretan Merah & Biru (Nur Winda Oktafiya)

Pemandangan jarak dekat di atas meja kayu. Di sebelah kanan, tangan seseorang mengenakan kemeja seragam sekolah abu-abu lengan panjang diletakkan di atas meja, dengan tato garis biru lurus di punggung tangannya. Di sebelah kiri, ada buku sketsa terbuka yang menampilkan gambar sketsa wajah yang dioret-oret dengan spidol merah tebal. Sebuah spidol merah terletak di depan buku. Latar belakang adalah kantin sekolah yang ramai dan buram, penuh dengan siluet siswa-siswa lain yang sedang duduk.

Garis biru di punggung tanganku belum hilang saat Kafka tiba-tiba menarik kursi di sebelahku. Kantin sedang bising oleh suara panci ibu kantin, tapi suara ritsleting tas ranselnya yang ditarik kasar menenggelamkan semua keributan itu. Ia melemparkan buku catatanku yang hilang sejak Selasa ke atas meja. Halamannya terbuka, tepat di sketsa wajahnya yang kubuat berantakan menggunakan spidol merah. Ujung jarinya mengetuk meja tiga kali. Ia menatapku tanpa berkedip, menunggu sebuah kebohongan yang belum sempat kuciptakan.

Suara tawa meledak dari meja kakak kelas, berbanding terbalik dengan keheningan yang mendadak mencekik leherku. Otakku lumpuh. Aku ingin membuka mulut, merangkai satu saja kalimat pembelaan yang masuk akal, tetapi lidahku kelu. Di hadapanku, Kafka tidak menatapku dengan amarah yang meledak-ledak. Sorot matanya justru meredup, sebuah tatapan hancur dari seseorang yang baru menyadari bahwa dirinya mungkin hanya dimanfaatkan.

“Kaf, ini nggak kayak yang kamu lihat. Coretan ini” Tanganku refleks terulur, mencoba meraih ujung lengan seragamnya.

Namun, gerakannya lebih cepat. Kafka menyentak lengannya mundur, seakan sentuhanku adalah sesuatu yang menyakitkan. Penolakan kecil itu tanpa sadar menggores dadaku.

“Nggak usah repot-repot mikir alasan,” suaranya parau, nyaris tenggelam oleh bunyi piring kotor yang ditumpuk di meja sebelah. Ia tersenyum, tapi senyum itu miring dan getir. “Gue sadar diri, kok. Selama ini gue emang cuma badut yang ada pas lo butuh, kan?”

Kalimat itu menghantamku seperti godam kasat mata. Tuduhannya salah besar! Coretan merah berantakan itu kubuat semalaman suntuk justru karena aku frustrasi. Frustrasi pada perasaanku sendiri yang selalu berantakan dan gugup tiap kali ia ada di dekatku. Spidol merah itu adalah pelampiasan rasa salah tingkah, bukan kebencian. Tapi menatap rahangnya yang kini mengeras kaku, aku tahu penjelasanku hanya akan terdengar seperti omong kosong.

Baca juga:  Latih Kekompakan & Kenang Jasa Pahlawan; OSIM MAN 2 Probolinggo Adakan Lomba Unik Capit Gelas

Kafka meraup tas ranselnya ke bahu dengan satu tarikan kasar. Ia berbalik, melangkah pergi membelah lautan siswa yang antre di kedai soto tanpa menoleh lagi sedetik pun. Di tengah riuh rendah jam istirahat, aku hanya bisa tertunduk kaku. Jempolku tanpa sadar mengusap garis biru di punggung tanganku, jejak kehangatannya yang belum hilang lalu menatap nanar sketsa wajahnya di bawah goresan merah yang kini benar-benar terasa seperti luka berdarah.

***

Penulis: Nur Winda Oktafiya (X.D)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR