Minggu, 06 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Teror Koridor Atas (Rasdyanathan Fajri Imam Mubien)

Sebuah tangan memegang smartphone di dalam kegelapan. Layar ponsel yang menyala menampilkan aplikasi perpesanan dengan satu pesan teks dari pengirim bernama 'Unknown Sender'. Pesan tersebut berbunyi: "Tengok atas, sepatuku tertinggal." Layar juga menunjukkan waktu 23:42 dan persentase baterai 4%.

Lampu koridor lantai tiga sudah dimatikan satpam sekolah sejak setengah jam lalu. Aku terus menatap layar ponsel, mengabaikan indikator baterai yang sisa empat persen. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Tengok atas, sepatuku tertinggal.” Aku menelan ludah paksa. Masalahnya, bunyi langkah kaki yang sedari tadi mondar-mandir di atap kelasku sama sekali tidak terdengar seperti langkah orang yang memakai sepatu. Bunyinya lebih mirip kuku panjang yang diseret pelan di atas beton kasar. Dan suaranya perlahan berhenti tepat di atas kepalaku.

Napas tertahan di tenggorokan. Mengabaikan insting untuk lari ke lantai bawah, kakiku malah melangkah gemetar menaiki tangga menuju atap. Udara malam terasa jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Sesampainya di atas, mataku menyapu sekeliling. Kegelapan menyelimuti sebuah ruangan kosong yang pintunya sedikit terbuka. Aku masuk perlahan. Menggunakan sisa cahaya dari layar ponsel yang berkedip, aku mencari asal suara tadi.

Bukan kuku panjang yang kutemukan, melainkan sepasang sepatu kets putih. Tergeletak di tengah ruangan. Jantungku berdegup kencang saat cahaya ponsel menyorot lebih dekat. Sepatu itu basah. Bau anyir menguar kuat bersamaan dengan bercak merah pekat yang melumuri permukaannya. Refleks, aku mundur selangkah. Tanganku mulai berkeringat dingin.

BRAK!

Pintu di belakangku terbanting keras dan tertutup rapat. Sontak aku berbalik, meraba-raba kenop pintu, tapi sudah terkunci rapat dari luar. Saat aku kembali menoleh ke tengah ruangan, sesosok wanita berpakaian serba putih sudah berdiri mematung di balik bayang-bayang. Cahaya bulan yang menyusup dari celah ventilasi memantulkan kilat logam di tangannya. Sebuah pisau daging berukuran besar.

“Akhirnya, kau datang juga,” suaranya serak, memecah keheningan yang mencekik.

Baca juga:  Berjuang Sembuh (Amelia Nurin Hidayah)

Lututku lemas. “Si… siapa kau?” suaraku bergetar hebat. “Apa maumu dariku?”

Wanita itu melangkah maju. Matanya nyalang, menatapku dengan tatapan tajam dan kebencian yang mendalam. Tanpa aba-aba, tangan kirinya terulur cepat, mencengkeram erat kerah seragamku hingga aku sedikit berjinjit.

“Aku ibunya Wenda,” desisnya tajam, tepat di depan wajahku dengan nada penuh amarah. “Aku datang ke sini untuk membunuhmu!”

“Kenapa?!” teriakku panik, mencoba melepaskan cengkeramannya yang sekeras besi.

“Kau pernah mem-bully Wenda sampai dia trauma seumur hidup!” rahang wanita itu mengeras. “Maka dari itu, aku akan membalaskan dendam anakku dengan menghabisi nyawamu. Dengan cara yang sangat mengerikan.”

Aku meronta sejadi-jadinya, berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari sekapannya. Tapi ibu Wenda sudah merencanakan ini dengan matang. Ia berdiri tegak di belakangku, menikmati keputusasaanku.

“Jevin, Black! Tahan badannya!” perintah wanita itu lantang.

Dari sudut tergelap ruangan, dua siluet besar melesat maju. Tanpa bisa dicegah, dua orang asing itu langsung menyergap, mengunciku kuat-kuat. Aku sama sekali tidak bisa bergerak. Tanpa basa-basi, ibu Wenda mengangkat pisau dagingnya tinggi-tinggi. Bilah tajam itu menghujam deras, mengincar tepat ke arah dadaku. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan menjerit sejadi-jadinya.

GUBRAK!

Aku terlonjak bangun, meraup oksigen rakus seperti orang tenggelam yang baru ditarik ke permukaan. Keringat dingin membanjiri pelipisku. Jantungku berdebar brutal hingga rasanya mau copot. Pisau itu… darah itu… ibu Wenda…

Namun, bukan bau anyir darah yang menusuk hidungku, melainkan bau spidol whiteboard dan kapur barus. Mataku perlahan fokus. Tidak ada koridor gelap. Tidak ada ibu Wenda, Jevin, ataupun Black.

Aku sedang duduk di bangku kelasku sendiri. Sinar matahari siang yang terik menerobos terang dari celah jendela.

Baca juga:  Bising ~ Aprilia Anggraini Putri

Keheningan yang canggung menyergap. Puluhan pasang mata teman-teman sekelasku menatapku dengan horor bercampur bingung. Di depan kelas, Pak Rahmat—guru Matematika paling killer seantero sekolah—berdiri mematung. Spidol di tangannya mengambang di udara. Rahangnya nyaris jatuh melihatku baru saja menjerit histeris kesetanan sambil menendang meja hingga terjungkal ke depan.

Rasa lega karena selamat dari tusukan pisau belum sepenuhnya meresap, ketika sebuah sensasi hangat dan basah menjalar tak terkendali dari selangkanganku. Cairan itu merembes cepat menembus seragam abu-abuku, lalu menetes membasahi lantai keramik kelas. Plip. Plip.

Aku mengompol.

Wajahku seketika terasa terbakar hebat, memerah sempurna seperti kepiting rebus. Horor sisa mimpi buruk tadi langsung menguap, ditendang telak oleh rasa malu yang luar biasa mencekik. Seisi kelas mulai saling sikut, menahan tawa yang siap meledak, sementara beberapa siswi di barisan depan menutup mulut tak percaya sambil menahan bau.

Pak Rahmat berdeham keras, suaranya memecah kecanggungan yang menyiksa itu. “Sudah selesai mimpi buruknya?” sindirnya tajam, melipat kedua tangan di dada. “Kalau sudah, silakan ke toilet. Bersihkan diri kamu, lalu langsung menghadap Bu Endang di ruang BK. Sekarang!”

Sambil berjalan gontai keluar kelas dengan kepala tertunduk dalam-dalam, air mataku akhirnya tumpah. Bukan semata-mata karena hancurnya harga diriku ditertawakan satu kelas, melainkan karena ada beban berat yang mendadak menghantam dadaku. Teror di mimpi tadi terasa begitu nyata, seolah alam semesta sedang memberiku peringatan keras.

Sambil berjalan menyeret langkah basah menuju ruang BK, aku berjanji pada diriku sendiri. Begitu urusan dengan Bu Endang selesai, aku harus mencari Wenda. Aku harus meminta maaf padanya atas semua bullying yang kulakukan. Sungguh, aku lebih baik dihukum guru dan disuruh menyikat seluruh WC sekolah daripada harus membiarkan mimpi mengerikan itu menjadi kenyataan.

Baca juga:  Jadi Pemilih Pemula, Siswa-siswi MAN 2 Probolinggo Harapkan Iklim Politik Damai Untuk Persatuan Indonesia

***

Penulis: Rasdyanathan Fajri Imam Mubien (X.F)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR