Jumat, 16 Okt 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Bayang Misterius Di Balik Cermin (Jazilatur Rohmania)

Ilustrasi yang menggambarkan seorang gadis remaja dari belakang, berdiri sendirian di halaman rumah yang gelap pada malam hari. Dia menatap ke arah rumahnya, di mana hanya satu jendela di lantai atas yang menyala terang, menciptakan kontras cahaya dan bayangan yang membangun suasana sunyi dan misterius.

Cahaya lampu meja tumpah ke seluruh penjuru kamar Nuni, menyorot tajam lautan kekacauan yang ia ciptakan sendiri. Bungkus-bungkus makanan ringan yang sudah remuk berderak setiap kali ia menggeser kakinya. Aroma keju bubuk dan cokelat basi samar-samar menguar, bercampur dengan wangi kertas dari buku-buku pelajaran yang terbuka. Nuni, dengan rambut dikuncir seadanya, berusaha keras menjejalkan rumus-rumus matematika ke dalam otaknya.

Pintu kamarnya berderit terbuka. Nana, kembaran sekaligus adiknya, berdiri di ambang pintu dengan alis terangkat. Kamar Nana adalah kebalikan dari dunia Nuni; sprei yang selalu licin, buku yang tersusun rapi, dan aroma pengharum ruangan yang lembut.

“Kak, ke Indomaret, yuk? Beli es krim,” ajak Nana, hidungnya sedikit berkerut melihat kondisi kamar kakaknya.

Nuni menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. “Nggak, ah. Nanti mau beres-beres. Udah nggak nyaman banget ini.”

“Beneran? Tumben,” sahut Nana dengan nada sedikit menyindir, lalu menutup pintu.

*

Setelah Nana pergi, kesunyian rumah terasa lebih pekat. Nuni menghela napas, menyerah pada matematika. Ia menatap sekeliling kamarnya dan janji pada dirinya sendiri harus ditepati. Dengan tekad bulat, ia menyambar kantong sampah besar, mulai memunguti satu per satu bungkus plastik dan kaleng minuman. Ia menyapu remah-remah yang bersembunyi di bawah tempat tidur, lalu mengepel lantai hingga aroma karbol yang segar menggantikan bau apek makanan.

Pukul setengah dua belas malam. Nuni menjinjing kantong sampah yang menggembung itu keluar. Udara malam yang dingin langsung menyambutnya. Angin berdesir pelan, membuat daun-dau mangga di halaman depan saling bergesekan, terdengar seperti bisikan. Suara jangkrik yang biasanya ramai kini terasa sunyi. Entah kenapa, punggungnya terasa meremang, seolah ada sepasang mata yang mengawasinya dari kegelapan. Ia mempercepat langkah, melempar kantong sampah ke tempatnya dengan bunyi gedebuk yang teredam, lalu bergegas masuk kembali dan mengunci pintu.

Baca juga:  Tersesat dalam Satya Loka (Muhammad Syaiful)

Nuni langsung menuju kamar mandi di dekat dapur untuk mencuci tangan. Air dingin yang mengalir dari keran terasa menenangkan. Ia membasuh wajahnya, merasakan sisa-sisa lelahnya luruh. Saat mengangkat kepala dan menatap cermin di hadapannya, ia menangkap sebuah pantulan dari jendela dapur yang terbuka di belakangnya.

Bukan pantulan dirinya.

Untuk sepersekian detik, otaknya membeku. Di kaca jendela itu, di tengah kegelapan pekat halaman belakang, berdiri sesosok perempuan. Rambutnya panjang, hitam legam, dan tergerai menutupi sebagian wajahnya. Nuni tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya siluet putih pucat dan rambut yang seolah hidup ditiup angin yang tak terasa. Udara di sekelilingnya mendadak terasa sedingin es.

*

Jantung Nuni serasa berhenti berdetak. Ia membalikkan badan dengan gerakan patah-patah. Jendela itu kini kosong. Hanya kegelapan malam. Tapi bayangan itu—sosok itu—terlanjur tercetak di retinanya.

Napasnya terengah-engah. Ia tidak berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan. Dengan sisa tenaga yang ada, Nuni berlari tanpa suara menuju kamarnya, membanting pintu, dan menguncinya. Tubuhnya merosot di balik pintu, gemetar hebat. Ia memeluk lututnya, menatap kosong pada buku matematika yang tergeletak di lantai kamarnya yang kini sudah bersih. Lantai yang bersih itu kini terasa dingin dan mengancam.

Setelah berhasil menenangkan detak jantungnya, Nuni memberanikan diri mengetuk pintu penghubung ke kamar Nana.

“Na… Nana…,” panggilnya dengan suara bergetar.

Nana membuka pintu dengan wajah mengantuk. “Kenapa, Kak?”

“Tadi… tadi di jendela dapur… ada…,” Nuni tidak sanggup melanjutkan. Napasnya kembali memburu. “Ada Kuntilanak.”

Nana menatapnya datar, kantuknya perlahan sirna digantikan ekspresi tidak percaya. “Apa sih, Kak? Ngaco, ah. Paling cuma bayangan pohon.”

“Bukan! Aku lihat jelas! Dia berdiri di luar, di depan jendela!” desak Nuni, matanya memancarkan ketakutan yang nyata.

Baca juga:  Hancur ~ Yunita Saifilla

Nana menghela napas. “Kakak kecapean aja kali habis bersih-bersih. Makanya jangan suka begadang. Udah, ah, aku ngantuk.”

“Tidur di sini, ya? Temenin aku,” pinta Nuni, suaranya terdengar memelas.

Nana tampak ragu sejenak, namun melihat wajah kakaknya yang pucat pasi, ia akhirnya mengangguk enggan. Malam itu, Nuni tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba, bayangan pucat dengan rambut hitam panjang itu kembali muncul di benaknya, menatapnya dari balik jendela dapur. Dan ia tahu, meskipun kamarnya kini bersih, ada sesuatu yang kotor telah menyelinap masuk ke dalam rumahnya malam itu. Sesuatu yang hanya bisa ia lihat sendiri.

Penulis: Jazilatur Rohmania (X.E)

Post Terkait

1 Komentar

Romadhon, Selasa, 9 Sep 2025

Selamat berkarya bersemangat pantang menyerah , dalam diammu terdapat lamunan dan isi hati yg perlu kou torehkan hingga membuahkan karya

Reply

KELUAR