Segala tentangmu kandas, bukan cerita melainkan rasa. Aku yang pernah gigih dalam mencintaimu, kini memilih untuk berhenti atas hal yang tak pernah kau hargai.
Setelah beberapa kali patah, aku baru menyadari bahwa separah ini aku terluka. Tidak tunggu, bukan denganmu, melainkan anganku yang terlalu menggebu. Aku memilih untuk melepasmu sebab mengejarpun hingga kaki ini tak mampu berdiri, tak akan membuatmu berbalik.
Lantas, aku hanya kembali menangisi diri sebab pedulimu tak mampu kucuri. Usahaku tak mampu membuatmu luluh sebab sejak awal hatimu tak pernah utuh.
Aku ikhlas atas kepergianmu, meski ku tahu bahwa kalimat itu tak pantas untukku yang bukan siapa-siapa. Biarlah doa-doa yang pernah ku langitkan pada-Nya sebagai bukti bahwa aku pernah mencintai seorang manusia yang namanya tak pernah ku biarkan lebur dari ingatan.
Dan kelak, mungkin aku akan merindukan hal yang pernah kita lalui, merayakan tentangmu dalam rung kelabu berisi memori lama yang melimpah kenangan. Sebab, aku ingin kau selalu hidup dalam ingatan, meski dalam hatiku namamu telah kubunuh dengan rasa ikhlas melepasmu
Biru, awal februari.
Bionarasi~
Haloo Assalamualaikum aku Naila UciTri Damayanti, anak terkahir yang lahir di Probolinggo pada 3 Mei 2007. Pengagum Lee Donghyuck dan hujan namun takut saat guntur berbunyi, suka membaca dan suka matcha. Bercita-cita menjadi seorang Jaksa hukum dan memakai almamater Universitas Brawijaya di depan makam ibundanya. Jangan lupa mampir di @tyhcnaiilaa_ dan @corettdisini, terimakasih sudah membaca, wassalamu’alaikum
Editor Salwa Nurul Asyifa
Komentar Terbaru