Rumah …
Sebagian orang menilai sebagai tempat pulang, tempat bercerita, tempat istirahat kala lelah.
Di sisi lain, ada pula yang menilainya sebagai penjara, ruang penyiksaan, bahkan seolah menjadi neraka dunia.
Rumah …
Ada yang menghadirkan kasih sayang, canda tawa, kehormanisan, dan suka cita pada orang-orang di dalamnya.
Di sisi lain, ada pula rumah yang penuh teriakan, caci maki, pertengkaran tak berujung, hingga kekerasan fisik yang juga menggores perih di batin.
Mengapa tak semua rumah sama?
Bagi yang rumahnya terasa surga, akan selalu hadir cerita tentang kebahagiaan di sana.
Bercerita akan kebersamaan dan saling berbagi hadiah.
Bercerita akan hangatnya makan malam bersama, diselingi canda tawa yang mampu melepas penat dalam dada.
Sementara yang rumahnya bak neraka, apa yang harus mereka ungkapkan?
Haruskah mereka jujur dengan kenyataan yang ada?
Atau justru harus membual agar terlihat baik-baik saja? Menceritakan kalau rumahnya juga indah, menghadirkan rasa nyaman, bahkan lebih baik dari rumah-rumah lain.
Terkadang itu terjadi, bukan semata fantasi, atau berniat buruk menjadi pendusta. Namun itu terjadi agar luka di hati tak menggerogoti setiap detik, hati yang juga sebenarnya telah hancur ditimpa beratnya beban duka dan tajamnya rasa iri.
Terkadang mereka hanya mampu mengadu kepada Sang Maha Kasih, berusaha berbagi sakit kepada taburan bintang di angkasa, berteman dinginnya angin malam yang tak mampu dibendung oleh tempat yang mereka sebut rumah.
Bayangan akan hangatnya tempat yang disebut rumah, hadir menggoreskan lukisan indah yang hanya mampu mereka pandang dari kejauhan, dan tak mampu mereka rasakan secara langsung.
Malam berganti pagi, mereka kembali memakai topeng kepalsuan. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak terjadi apa-apa, seolah mereka berangkat dari rumah yang menghadirkan ketenangan bagi mereka.
Senyum yang terkembang dari bibir mereka, menunjukkan kalau mereka baik-baik saja, menjalani rutinitas layaknya orang-orang pada umumnya.
Senyum dan tawa yang sebenarnya menutupi luka yang telah menganga.
Kala lelah telah membuncah, tak jarang mereka berpikir picik dengan mengambil jalan pintas agar semuanya berakhir.
Namun tangan Tuhan hadir menyelamatkan dari jurang kenistaan, menyadarkan bahwa sebenarnya mereka kuat menjalani takdir yang telah digariskan.
Rumah …
Terlepas ia adalah surga atau neraka, ia tetaplah tempat yang selalu menghadrkan rasa penerimaan.
Hangat atau dingin, sejuta kenangan telah terpatri di tempat itu.
Tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan menjadi tempat terbaik untuk pulang.
=====
Hai! Perkenalkan nama saya Lesti Abelia, anak tunggal yang bercita-cita membahagiakan dan membanggakan orang tua. Lahir 6 November 2007 dan berasal dari Probolinggo. Saya lulusan dari SDN 1 Karanggeger, SMP 2 Pajarakan, dan sekarang saya sedang menjalani masa putih abu-abu di MAN 2 Probolinggo. Semoga senang membaca buah kalimat kreasi saya.
Komentar Terbaru