Masih teringat jelas wajah itu berubah menjadi pucat, masih teringat jelas saat mamah mengatakan, “Neng jangan nakal ya…mamah titip Bapak. Maaf mamah udah ngerepotin Neng.” Sebelum mata indah itu benar-benar tertutup untuk selamanya.
Masih teringat jelas saat aku melihat wajah teduh itu tertutup kain putih yang menyeramkan, masih teringat jelas, saat orang berkata, “Neng ayok sini, cium nisan mamah…jangan nangis ya, mamah udah ga sakit lagi.”
Masih teringat jelas saat tanah basah itu menutupi sosok yang paling mencintaiku. Tapi aku lupa bagaimana suara mamah, aku tak bisa mengingatnya.
Mah aku selalu iri pada mereka yang hidupnya di temani oleh sosok “ibu”. Dewasa tanpa mamah seperti rumah tanpa lampu, gelap tak bercahaya mah.
Ragaku hilang bersama raga mamah. Saat dirimu belum berpesan tentang bagaimana seharusnya aku bertahan di tengah riuh pikuk kehidupan, tentang bagaimana resep makanan, tentang usaha yang harus di iringi sabar yang ekstra.
Jika ada kehidupan sekali lagi mah, aku hanya ingin menjadi putri kecilmu lagi, tapi aku mohon di waktu itu hiduplah lebih lama lagi.
Mah, sampai bertemu di keabadian. Aku yakin, naungan doamu akan menyertai hidupku, selalu.
Rindu dariku untuk jiwa yang selalu menenangi saat aku terluka, terimakasih mah…
Bionarasi ~
Helo aku Naila UciTri Damayanti Gadis asal Probolinggo pengagum Lee Donghyuck dan hujan, namun takut saat guntur berbunyi.Saat ini sedang duduk di bangku jenjang MA dengan jurusan yang akan di pilih nya (IPS), bercita-cita menjadi jaksa hukum dan memakai almamater Universitas Brawijaya di depan makam ibunya.
______
Editor : Syafhira Khoirotun Zahra
Komentar Terbaru