Awal Maret lalu, saya mengikuti Uji Kompetensi Program biasa disebut UKP yang diselenggarakan madrasah untuk kelas akhir. Pada saat itu saya mengikuti program agama dengan materi praktik membaca kitab. Setiap santri akan dipilihkan bab yang ditentukan oleh penguji.
Saya merasakan hal yang membuat tidak percaya diri untuk ujian ini. Hingga muncul kegamangan hati, karena siapa saja yang tidak tuntas akan menetap disekolah ini. Tetapi, setelah mencoba memahami dan berlatih diri, terlahirlah rasa percaya diri meskipun hanya seujung jari. Mungkin inilah yang akan membuat saya merasa lebih leluasa saat berbicara dengan banyak manusia.
Kemudian di pertengahan Maret, pengumuman dikabarkan seluruh santri yang ada di kelas saya lulus untuk uji kompetensi ini, Alhamdulillah. Salah satu ustadzah lalu menyampaikan dan menyarankan kepada seluruh santri untuk membiasakan berdialog dengan hati positif. Beliau menyampaikan kesaksian tentang seorang teman yang divonis diabetes stadium akhir. Setelah melakukan hal tersebut, dengan izin Allah beliau sembuh. Saya pun melakukan kebiasaan tersebut, dan hasilnya luar biasa. Saya hampir tidak pernah mengeluh, bahkan kualitas diri semakin memenuh.
Ini merupakan keajaiban yang diberikan oleh Allah. Sejak saya membiasakan diri melakukan hal hal positif baik dalam ucapan maupun tindakan. Sampai detik ini saya menjadi lebih banyak bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan-Nya. Semakin kamu bersyukur, semakin Allah memberi banyak terhadap yang kamu butuhkan. Terutama kebutuhan sehat iman dan Islam.
Hal tersebut adalah cara kita berdialog dengan (inner voice) diri sendiri saat menghadapi berbagai macam situasi. Dialog hati yang dapat kita lafalkan baik dalam hati maupun dengan suara keras akan menjadi sebuah sugesti untuk diri sendiri. Sejatinya, hal positif membantu diri sendiri menjadi lebih sadar dalam bersimpati, dan berempati.
Pengaruh dari dialog dengan hati adalah menjadi pribadi dengan positive vibes only. Segala situasi sulit yang terjadi akan lebih mudah hanya karena dipandang dengan yang positif pula. Kita sering menyalahkan keadaan jika tak sesuai dengan harapan. Hati yang positif menjadikan lebih fokus kepada hal baik. Meskipun, yang negatif susah dihindari, tetapi kita punya andil untuk mengontrol kita ingin menjadi diri yang positif.
Kebiasaan berbicara dengan baik akan masuk ke alam bawah sadar, sehingga menyadari yang terucap adalah lisan yang baik. Ini merupakan hasil pembinaan diri. Allah menyukai orang yang berbicara baik, karena akan meningkatkan derajatnya. Sebaliknya, orang yang terbiasa berucap buruk, kata kata yang membuat murka Allah, dilakukan dengan kendali pikiran bawah sadar.
Jadi mulai sekarang, mari tanamkan dalam diri untuk selalu berkata kata baik, positif, dan bermanfaat. Jika tidak, maka lebih baik diam. Kata kata itu adalah doa, maka seharusnya kita selalu ingat untuk menjaga kata kata yang terucap. Sebenarnya semua yang kita ucapkan telah tercatat, dan itu terwujud dalam kenyatan.
Bionarasi ~
Assalamualaikum.
Salwa Nurul Asyifa lahir pada tahun 2007. Sekarang tengah menempuh pendidikan di MAN 2 Probolinggo. Menulis merupakan hobi baru baginya. “Beranilah untuk bermimpi dan beranikan dirimu untuk mewujudkan semua impianmu, karena impian tidak akan tercapai tanpa keberanian.”
Wassalamu’alaikum.
Editor : Aisyah
Komentar Terbaru