Tuesday, 29 Nov 2022
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

ALEGORI CINTA SANG BAGINDA

MDP News, Probolinggo – Pagi itu, terik harapan masih belum hangat menyapa kehidupan. Kuncup bunga pun masih cukup basah dengan embun asa. Aku bersama secangkir kopi yang disuguhkan oleh barista paruh baya, masih setia ‘berjihad’ memecah kesunyian yang berkalang lamunan aksara.

Disela-sela kontemplasi, aku aktifkan kanal youtube dari smartphone yang sudah berusia dua tahun. Ku putar lantunan Maulid Simtutduror dari channel “Ngaji Diri”. Terdengar suara khas timur tengah Syarifah Ba’abud yang begitu indah nan merdu memikat kalbu. Bait-bait maulid yang disenandungkan bagai menikmati harmoni surga di belantara rindu.

Aku ingat, Bulan Safar telah berlalu, bersama sejuta kenangan yang ter-rantai dalam waktu yang penuh untaian senyum dan ingar-bingar pilu. Kini tak terasa bulan telah berganti Rabiul Awal, bulan lahirnya sang permata kehidupan, Nabi Muhammad SAW.

“Sruuupppp”. Ku seduh Kopiku yang sudah agak berpendar hawa panasnya, sambil ku gulir channel youtube “Ngaji Diri” pada channel “Ammar TV”. Kali ini suara Arif Al Fudhaily yang menggema. QS. Al Anfal terbaca dengan merdu menenangkan jiwa. Ayat demi ayat ku nikmati dan ku resapi dengan khidmat, hingga sampai pada ayat ke-33. Tiba-tiba hatiku gelisah dan sedih, teringat riwayat dalam Tafsir Al Qasimi dan Tafsir At Thabari.

Dalam surat Al Anfal ayat 33, Allah berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (wahai rasul) berada di antara mereka”. Asbabun Nuzul ayat ini bercerita tentang keangkuhan Abu Jahal yang dengan congkak menantang segera diturunkan azab kepadanya, jika wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad itu terbukti benar. Ini kesombongan yang luar biasa. Menantang turunnya azab. Allah bisa saja menurunkan adzab terdahsyat kepadanya dalam waktu sekejap. Tapi Allah SWT menangguhkannya. Karena Rasulullah ada diantaranya.

Sejenak aku berfikir, betapa berkahnya hidup pada masa Rasulullah SAW. Seorang abu jahal saja ‘diampuni’ oleh Allah atas keangkuhannya, karena Rasulullah ada bersamanya. Lantas bagaimana dengan kaum mukmin? Tentunya basah dengan rahmat dan maghfiroh Allah SWT. Tapi kini, apakah ampunan itu masih ada, sementara Nabi Muhammad telah lebih dari 1500 tahun meninggalkan dunia fana?

Lamunanku seketika pudar saat mengingat hadis riwayat Abu Dawud yang artinya Tidak ada seorangpun yang memberikan salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan ruhku kepadaku, sehingga aku akan membalas salamnya”. Hadis ini seakan mengklarifikasi bahwa Nabi Muhammad hanya wafat secara fisik, tidak secara ruh. Artinya, di seluruh penjuru dunia, jika ada yang menyampaikan sholawat dan salam kepada Rasulullah terlebih saat peringatan Maulidnya, maka Ruh beliau akan hadir diantara mereka dan menjawab salam. Oleh sebab itu, maka QS. Al Anfal ayat 33 masih relevan secara spiritual. Sehingga, jika bacaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dilantunkan dalam suatu majlis atau perayaan maulid, insya allah adzab Allah tidak akan ditimpakan.

Al Hamdulillah. Ku baca tahmid seusai menghabiskan tegukan terakhir kopiku. Kemudian ku ucapkan “Ya Rasulallah, Jika dengan sholawat masih tak bisa ku jumpaimu, lalu dengan air mata manalagi dapat ku ketuk pintu syafaatmu”. (Mied)*

*Penulis adalah pengajar ilmu tafsir dan ilmu hadis yang hobi mempersonifikasikan kopi.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR