Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Time ~ Rohmatul Adhimah

Allah itu memiliki sifat Al-Jami’. Dia akan mempersatukan dua insan yang paling tepat, juga di waktu yang paling tepat.
Siapa yang akan menyangka, orang yang selalu kita anggap sebagai jodoh kita, ternyata hanya lah jeda di dalam sebuah cerita, terlebih lagi … jeda yang akan menaburkan sebuah luka, yang entah berapa lama akan kembali seperti semula. Mungkin saja … luka itu akan membekas, untuk selamanya.
.
“Kak El dimana? Aku udah di butik sejak tiga jam yang lalu,” ujar Afsheen penuh penekanan.
“Maaf banget dek, kakak lagi ada perjalanan bisnis dadakan sama klien penting kakak,” jawab pria di ujung telepon.
“Loh, kan kita udah janji, kalo hari ini kita bakal fitting gaun. Nikahan kita udah H-7 loh kak,” ucap Afsheen dengan nada kesal.
“Tapi kan kakak ngelakuin ini buat nafkahi kamu juga,” ungkap Adzriel, masih dengan nada kalemnya yang biasa.
Afsheen menghela napas, ia menahan seribu satu keluhan yang hendak ia lontarkan dan langsung tersenyum seperti biasa, namun kali ini ada keengganan dan kekecewaan di matanya.
“Okey, aku mo balik dulu, bye.” Afsheen langsung keluar dari butik di tengah tatapan penasaran pengunjung lainnya. Pasalnya, sudah cukup lama ia duduk di sana sendirian, yang sangat tidak sinkron dengan gambar sepasang kekasih yang tengah memilih gaun di sekitarnya.
Ia melangkahkan kakinya menuju rumah sakit terbesar di Bandung, sekaligus tempat ia bekerja. Butik tempat ia memilih gaun memang tidak jauh dari rumah sakit, ia sengaja memilih butik itu karena ia ingin langsung kembali bekerja selepas memilih gaun. Oh ya, Afsheen adalah seorang dokter gizi yang cukup terkenal di sini. Selain karena kemampuannya yang tidak diragukan lagi, parasnya yang elok juga menjadi penyebabnya. tak jarang seorang pria dengan kedok ‘konsultasi gizi’ bertemu dengannya hanya untuk meminta nomor teleponnya. Tentu saja, tidak ada pria yang visa mendapatkan nomor teleponnya sejauh ini. Ia selalu ingat jika ia sudah memiliki tunangan, dan akan segera menikah.
Tak jauh dari tempat Afsheen berdiri, berkumpul banyak perawat dengan wajah seolah sedang kasmaran. Karena penasaran, Afsheen langsung mendekati salah satu perawat dan bertanya, “Ada apa sih? Kok kayaknya rame banget?”
“Itu dok, ada dokter bedah pindahan dari Amerika. Kasep pisan,” seru perawat itu.
“Ati-ati, entar kayak dokter Hilmi, ternyata udah beristri.” Afsheen menggelengkan kepalanya mengingat istri dokter Hilmi—yang terkenal akan ketampanannya, langsung mendatangi perawat yang selalu mengejar suaminya.
“Enggak, dok enggak! Yang ini masih jomblo!” Jawab perawat itu dengan nada bersemangat.
Afsheen langsung terkekeh melihat reaksi perawat itu, mereka berbincang-bincang sebentar sebelum Afsheen pamit karena jam istirahatnya telah selesai.
Afsheen kembali ke ruangannya, saat ia hendak duduk, pintu ruangannya langsung di buka dengan kasar, sontak hal itu membuatnya terkejut karena tak pernah ada yang langsung nyosor ke ruangannya seperti itu.
“Sheen! Lo bakal di pindah hari ini!” Teriak seorang pria dengan rambut ikal.
“Assalamualaikum, Ikbaaal.” Afsheen menatap datar sahabat sejak kecilnya, yabg sukses membuat Ikbal yang awalnya heboh langsung menjadi normal.
“Hehehe waalaikumsalam cantik ….” Ikbal menyengir menanggapi tatapan datar Afsheen.
“Ada apa?” Tanya Afsheen.
“Lo bakal di pindahin, hari ini.” Tutur Ikbal serius.
“Kemana? Kok bisa?”
“Si dokter baru itu, nunjuk lo buat jadi tim dia yang bakal ngurusin– maksud gue, nyembuhin seorang konglomerat di Jakarta. Lo di tunjuk sebagai ahli gizi pasca operasi.”
“Lah kan bentar lagi gue bakal nikah!” Protes Afsheen.
Ikbal mengedikkan bahunya. “Ya mana gue tau, gue cuma penyampai berita disini.”
“Pokoknya gue mau protes!” Seru Afsheen sebelum keluar.
Afsheen merapikan jilbabnya yang kusut sebelum mengetuk pintu dengan label ‘Direktur’.
“Masuk.” Afsheen langsung masuk dengan keluhan di wajahnya. “Om kok gitu sih? Om kan tau Sheen bakal nikah!” Ya, pria paru baya di depannya adalah direktur sekaligus pamannya dari pihak ibu.
Pria paruh baya itu tersenyum menanggapi keluhan Afsheen. “Kan masih tujuh hari lagi, toh anggep aja perjalanan bisnis selama empat hari.”
Afsheen menghentakkan kakinya kesal, ia mengembungkan pipinya dan memalingkan muka, berpostur seperti sedang merajuk. Beginilah Afsheen di depan keluarganya, kekanakan. Itu karena di seluruh keluarganya, hanya dia satu-satunya wanita di generasi ketiga, dan semua sepupunya adalah laki-laki. Jadi mereka selalu memanjakan Afsheen dan menjadikannya memiliki tempramen kekanakan yang tersembunyi.
Akbar terbatuk pelan, jika di waktu biasanya, ia pasti akan membujuk keponakannya yang sedang merajuk. Namun saat ini, masih ada orang penting di depannya yang tidak bisa mereka abaikan.
“Sheen kenalin, ini dokter bedah pindahan dari rumah sakit Hammerton di Amerika. Dia juga yang akan menjadi ketua tim kamu, namanya Gabriel,” terang Akbar.
Ia terlalu sibuk mengeluh sehingga dia sama sekali tidak memperhatikan jika ada pemuda yang tengah duduk di kursi depan pamannya. Afsheen yang tertangkap basah bersikap kekanakan di depan orang asing langsung terpana. Jadi ia sama sekali tidak memperhatikan lengkungan yang terungkap di bibir tipis pemuda itu, juga mata redup penuh emosi pemuda itu. Ketika Afsheen mendapatkan kembali sukmanya, pipinya langsung memerah bak kepiting rebus. ‘Ya Allah hilang sudah imagenya!’ batinnya.
“Gabriel Pahlevi,” ucapnya dengan suara bariton yang khas.
“Afsheena Pasha.” Ia menjulurkan tangannya, menanggapi juluran tangan Gabriel untuk berjabat tangan.
Suasana hening dan canggung memenuhi ruangan itu, keduanya sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Afsheen yang masih sibuk bergulat dengan pemikiran jika imagenya telah hilang, di tambah perjalanan bisnis di hari-hari ketika ia akan menikah, sama sekali tidak mood untuk berbicara apapun. Sedangkan Gabriel, ia sibuk memilah emosi kompleks yang membuncah di dadanya. Lidahnya terasa kelu, tak bisa mengekspresikan seribu satu percakapan yang selalu ingin ia lontarkan.
Akbar yang memperhatikan suasana canggung langsung memutuskan untuk mencari topik. “Sheen, Gabriel itu juga kuliah di Harvard loh, harusnya kalian seangkatan. Apa kalian udah pernah ketemu dulu?”
“Oh ya? Mungkin. Aku gak terlalu merhatiin sih om, tugas kuliah dulu seabrek kayak gitu.” Jawab Afsheen acuh tak acuh, tak memperhatikan raut kecewa di wajah tampan Gabriel.
“Saya permisi dulu, masih ada jadwal operasi sebentar lagi,” sela Gabriel, masih dengan muka temboknya yang biasa.
“Oh ya, silahkan.”
“Sheen balik dulu deh om, mau beres-beres dulu.”
“Oke, hati-hati di jalan. Jangan main hp pas lagi di jalan,” desak Akbar yang diangguki Afsheen.
.
Setelah menyiapkan semua hal yang ia butuhkan untuk di Jakarta, Afsheen langsung pergi ke bandara di jam yang di beritahukan. Di bandara ia bertemu dengan Gabriel, dan langsung mengangguk untuk menyapa. Setelah itu, ia sama sekali tak mempedulikan Gabriel dan langsung bergabung dengan perawat dan dokter wanita lainnya.
Sesampainya di Jakarta, mereka langsung menginap di hotel yang telah di sediakan. Gabriel memanggil semua orang ke ruang pertemuan untuk membahas langkah-langkah yang akan mereka lakukan untuk merawat pak Bejo, konglomerat yang menderita kanker lambung stadium tiga yang juga memiliki sejarah diabetes. Rapat berakhir tepat di pukul satu malam. Gabriel segera mendesak mereka untuk beristirahat karena besok jam delapan pagi mereka sudah harus pergi memeriksa pasien.
“Sheen!” panggil Gabriel.
“Iya pak?” jawab Afsheen menahan kantuk yang terus menyerang.
“Kamu … gak inget saya?”
Jika ini adalah komik, mungkin akan ada tiga tanda tanya hitam di atas kepala Afsheen. Apa mungkin karena dia terlalu mengantuk hingga berhalusinasi, atau mungkin Gabriel habis mabok angin sampai ngelantur seperti saat ini?
Melihat respon Afsheen, Gabriel langsung menghela napas kecewa. Dia menggelengkan kepalanya sebelum berkata, “Enggak, kamu istirahat dulu, besok kita pasti bakal sibuk.” Afsheen mengangguk dan langsung pergi dengan tampang linglung.
Tiga hari setelah percakapan setelah rapat malam itu, Gabriel tidak lagi menunjukkan tanda-tanda keanehan ‘mabok angin’ seperti kemarin. Afsheen pun segera melupakan kejadian itu, dan selalu berfokus memantau kondisi pasien pasca operasi.
Sampai di hari keempat, juga hari terakhir perjalanan bisnis mereka, Gabriel mengajak Afsheen berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Afsheen yang juga tengah jenuh pun langsung setuju.
“Kamu … sama tunangan kamu gimana?” tanya Gabriel memecah keheningan.
Langkah Afsheen terhenti sejenak sebelum bertingkah seperti biasa. “Baik. Kak El baik sama aku, dia juga perhatian.” jawabnya setengah berbohong. Nyatanya, sudah cukup lama Adzriel tidak lagi perhatian padanya seperti saat dulu.
“Nggak ada yang aneh?”
“Maksud kamu apa?” Afsheen mengerutkan kening, entah mengapa suasana hatinya sedikit tersinggung.
“Aku mau cerita suatu hal yang penting sama kamu.” Gabriel berhenti, ia menatap serius Afsheen.
“Adzriel itu bukan pria yang baik. Kamu hatus batalin pernikahan kamu sama dia,” tegasnya.
“Kamu apa-apaan sih! Jadi kamu juga termasuk cowok-cowok yang berharap aku sama Kak El putus, iya? Suka ya suka, itu hak kalian. Tapi gak usah mecahin hubungan orang gini!” murka Afsheen, dadanya naik turun menahan amarah. Sudah hampir seminggu Adzriel tidak mengabarinya, dan ia juga sudah mulai berpikiran buruk, di tambah dengan beberapa orang yang selalu memprovokasi hubungan mereka, keyakinan hatinya juga mulai berguncang.
“Ya! Aku suka sama kamu! Tapi aku bicara soal kebenaran Sheen, aku gak mau kamu lebih tersakiti lagi.” Gabriel menundukkan kepalanya prustasi.
“Aku udah suka kamu, nunggu kamu, selama lima tahun. Memang gak selama hubungan kamu sama Adzriel, tapi itu juga bukan waktu yang sebentar Sheen,” lirihnya.
“Dan dari mana kamu menilai baik atau buruknya Kak El? Kamu bukan malaikat rakib dan atib.” Afsheen terkekeh punuh amarah, meskipun hatinya sejanak terguncang ileh omongan Gabriel, namun api di hatinya terlalu besar, dan langsung menutupi guncangan itu.
“Karena aku adiknya!” Afsheen menatap tak percaya Gabriel. Selama sepuluh tahun ia mengenal Adzriel, ia baru tahu jika Adzriel memiliki adik, dan bukannya anak tunggal seperti yang selalu ia katakan.
“Orang tua kami bercerai. Aku ikut Mama aku balik ke negara asalnya, Amerika. Sedangkan Adzriel ikut Papa ke Indonesia.”
Gabriel terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Awalnya aku gak yakin, kalo tunangan kamu, Adzriel kakak aku, tapi aku dengar dari Pak Akbar kalau calon mertua kamu bernama Zidan. Aku mikir, bisa-bisanya ada kebetulan seperti itu di dunia ini. Tapi kemarin, aku lihat kamu natap foto Adzriel, kakak aku. Aku pengen langsung ngasih tahu kamu, tapi aku juga butuh waktu buat milah perasaan aku, Sheen.”
“Kamu harus percaya sama aku. Adzriel itu bukan pria yang baik. Aku udah terlaku sering ngelihat dia mesra-mesraan dengan wanita yang berbeda. Aku peduli, karena itu kehidupan dia. Tapi kamu … aku gak rela Sheen,” bisiknya di kalimat terakhir..
Afsheen menutup telinganya, sama sekali tak percaya jika pria di bibir Gabriel itu Kak Elnya yang selalu menyayanginya, dan selalu menggumamkan berbagai kata cinta padanya.
“Adzriel!” Gabriel membelalakkan matanya terkejut melihat pria yang sedangmenuntun seorang wanita yang tengah hamil tua.
Mendengar nama kekasihnya, Afsheen langsung menoleh. Melihat pemandangan itu, kepalanya langsung berdengung, pemandangan di sekitarnya menghitam, ia nyaris jatuh tersungkur jika saja Gabriel tidak menopangnya.
“Enggak, nggak mungkin. Itu pasti temen kerjanya. Kak El itu baik, jadi dia bantuin temen kerjanya buat periksa janinnya.” Afsheen menggelengkan kepalanya, ia terus bergumam seakan mencoba menghipnosis dirinya sendiri.
Seakan terbangun, Afsheen langsung berlari ke arah Adzriel, ia langsung memasang senyum cerahnya yang biasa dan berkata. “Eh kak El kok disini? Ini siapa kak?” ucapnya terkejut. Ia masih bertingkah seperti biasa, seolah tak melihat pemandangan lengan kekasihnya di pinggang wanita lain.
Adzriel terdiam, ia tak berani menatap wajah wanita yang telah lama menjadi tunangannya.
“Mbak temannya Mas El ya? Saya istri Mas El, Nabila.” Wanita itu tersenyum ramah, sama sekali tidak ada kepura-puraan di matanya. Afsheen bisa melihat jika wanita ini tidak berbohong, dan tidak tahu apa yang suaminya lakukan di belakangnya. Hal ini semakin menyurut kemarahan Afsheen, tanpa pikir panjang, ia langsung menampar keras pipi Adzriel.
“Maaf …” lirihnya.
“Aku gak butuh. Perjalanan bisnis? Oke, have fun. Cukup sampai disini saja hubungan penuh dusta ini.” Afsheen tertawa saking marahnya, namun air mata mengalir deras dari pepuluk matanya. Ia langsung pergi tanpa menoleh ke belakang.
Gabriel yang melihat pemandangan itu langsung menonjok muka Adzriel hingga babak belur. Nabila yang baru saja menatap kosong tak mengerti dengan situasi di depannya langsung memekik kaget, tepat ketika ia akan meminta bantuan, Gabriel sudah melepaskan Adzriel dan langsung mengejar Afsheen.
Gabriel melihat Afsheen menangis histeris di taman belakang yang jarang di datangi pengunjung, dia tidak menggangu Afsheen, hanya menemaninya diam-diam.
“Sebelas taun. Udah sebelas taun aku kenal Adzriel. Jadi … udah berapa tahun aku dibodohi?” Afsheen tersenyum mencela diri.
“Satu tahun aku persiapin nikahan kita, dan akhirnya berakhir sia-sia,” bisiknya putus asa.
“Enggak!” Sanggah Gabriel membuat Afsheen menatapnya bingung.
“Aku yang akan meminang kamu,” tegasnya sembari menatap serius Afsheen.
“Lo gila?!”
“Aku gila, semenjak kamu ninggalin aku, Shei.” Gabriel menjentikkan jarinya dua kali dan bersiul, seolah mencoba memberi kode.
Afsheen menatap kosong, sekelebat ingatan mulai membanjiri otaknya, membuatnya tak berfungsi untuk sesaat.
“Iel?”
“Ya, akhirnya kamu inget.” Seakan musim dingin berganti musim semi, kedinginan sepanjang tahun di wajahnya langsung memudar, menampakkan senyum cerah yang mampu membuat oara wanita terpesona.
Afsheen mengingat semua kenangan yang telah ia lupakan semenjak kecelakaan tahun itu, kenangan ia menghabiskan tahun terakhir kuliahnya bersama Gabriel, juga kenangan awal mereka bertemu.
Ketika itu, ia menjadi korban tabrak lari, saat itu salju turun sangat lebat, dan tidak ada orang yang lewat di jalan itu. Di saat itu, Gabriel datang dan langsung membawanya ke rumah sakit. Jika tidak ada Gabriel, mungkin saja ia akan mati kehabisan darah, atau mungkin mati kedinginan kala itu. Karena ia enggan membuat keluarganya khawatir, ia tidak memberi tahu keluarganya soal kecelakaannya. Gabriel lah yang merawatnya hingga ia pulih, karena itu pula, mereka menjadi teman dekat.
“So … will you marry me?”
“Yes.”
Karena kau adalah Iel, pria yang selalu datang di waktu yang paling tepat.
Mungkin saja, Allah mengirimmu untuk menyembuhkan luka ku, juga untuk menjadi protagonis pria ceritaku.

Bionarasi Penulis
Rohmatul Adhimah, atau sering juga di sapa dengan nama ‘Imey’. Lahir 16 tahun yang lalu tepat pada tanggal 28 September di kota Kraksaan, Probolinggo. Selain hobi menulis, mengbucin, dan menghalu, ia juga senang mempelajari kosa kata bahasa asing supaya ketika dia kuliah di China, dia bisa berkomunikasi dengan teman dari negeri asing menggunakan beberapa kosa kata bahasa ibu mereka. Si mageran yang selalu garuk-garuk kepala ketika menghadapi segala hal yang berbau IPA, namun tetap memilih jurusan IPA di MAN 2 PROBOLINGGO.
Mottonya ialah tetap bangkit sesakit apapun ketika terjatuh, hingga akhir hayat menjemput.

Baca juga:  Hasrat Bermanja Bersama Alam ~ Naila UciTri Damayanti

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR