
Pajarakan, MDP News – Pemandangan tak biasa mewarnai GOR MAN 2 Probolinggo pada Senin (10/11) pagi. Ratusan siswa tidak hanya mengenakan seragam, tetapi juga berbalut aneka kostum profesi impian dan cosplay pahlawan nasional. Mereka berkumpul bukan hanya untuk upacara, tetapi untuk sebuah deklarasi penting.
Momen peringatan Hari Pahlawan tahun ini memang dirangkai apik dengan peluncuran program “Man 2 Probolinggo Zero to Sampah”. Gerakan ini diusung sebagai wujud nyata meneladani semangat juang pahlawan melalui aksi peduli lingkungan.
Dalam sambutan kuncinya, Kepala MAN 2 Probolinggo, Ahmad Zamroni, secara tegas menggarisbawahi urgensi gerakan tersebut. Ia menyebut sampah plastik sebagai persoalan besar di madrasah yang berdampak jangka panjang.
“Salah satu persoalan besar di madrasah kita adalah sampah, khususnya sampah plastik. Benda itu baru bisa terurai ratusan tahun,” buka Zamroni. “Kalau dibiarkan, anak cucu kita di masa depan, bisa jadi bukan bergelimang harta tapi bergelimang sampah.”
Sebagai solusi konkret, Ahmad Zamroni mengumumkan kebijakan baru yang mewajibkan seluruh warga madrasah membawa tumbler (botol minum pribadi).
“Mulai hari ini, seluruh warga madrasah diwajibkan membawa thumbler air minum. Tidak boleh lagi membeli minuman yang wadahnya plastik,” tegasnya. “Di koperasi juga sudah kami siapkan air isi ulang. Ini contoh nyata kita menjadi pahlawan untuk menjaga kesehatan, kebersihan, dan pahlawan bagi keberlanjutan generasi anak cucu kita.”
Kebijakan tersebut langsung ditindaklanjuti. Menurut Ketua OSIM, Muhammad Fathan Hariansyah, persiapan acara gabungan ini telah direncanakan selama dua minggu. “Selain lomba cosplayer, kami memasukkan agenda peluncuran ‘Zero to Sampah’. Acara ditandai dengan pemberian tumbler simbolis dari madrasah kepada perwakilan setiap kelas,” jelas Fathan.
Semangat baru yang diusung madrasah disambut hangat oleh para siswa. Naura Althafunnisa Aly, siswi Kelas X-F, mengaku jauh lebih antusias mengikuti upacara kali ini.
“Saya senang sekali karena upacara ini sangat berbeda. Kami bisa mengekspresikan diri sesuai dengan profesi yang kami inginkan,” tuturnya.
Bagi Naura, cara generasi muda membalas jasa para pahlawan sudah sangat jelas. “Dengan belajar giat dan meraih prestasi sebanyak mungkin. Sehingga perjuangan para pahlawan sebelumnya tidak sia-sia,” ujarnya lugas.
Sementara itu, Nur Alissa Maulida, siswi Kelas X-F, memilih Jenderal Sudirman sebagai teladannya. “Saya memilih Jenderal Sudirman karena ia sosok pemimpin yang gigih dan pantang menyerah. Meski dalam kondisi sakit, beliau tetap memimpin perang gerilya,” ungkap Alissa ketika MDP News menanyakan sosok pahlawan inspirasinya.
Menanamkan nilai-nilai luhur ini diakui sebagai tanggung jawab kolektif seluruh elemen madrasah. Guru Bahasa Indonesia, Misyar, menegaskan bahwa ini adalah tugas bersama, bukan perorangan.
“Semua guru dan karyawan bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai kepahlawanan. Tujuannya agar semangat juang dari pahlawan dulu tetap diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Misyar.
Hal itu diamini oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Sri Sukarti Ningsih. Ia mengingatkan bahwa pengorbanan nyawa para pahlawan harus dibalas dengan perjuangan yang setimpal di bidang masing-masing.
“Sebagai pelajar, caranya adalah dengan belajar giat, menyalurkan, dan mengembangkan seluruh potensi serta keterampilan yang dimiliki,” tegasnya. “Intinya, kita harus mengeluarkan effort atau semangat penuh dalam menjalani apapun. Tidak setengah-tengah, tapi dengan sepenuh hati.”
*****
Reporter : Lailil Maghfiroh (X.E) dan Putri Sri Utami (XII.B)
Komentar Terbaru