
Lampu koridor lantai tiga sudah dimatikan satpam sekolah sejak setengah jam lalu. Aku terus menatap layar ponsel, mengabaikan indikator baterai yang sisa empat persen. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Tengok atas, sepatuku tertinggal.” Aku menelan ludah paksa. Masalahnya, bunyi langkah kaki yang sedari tadi mondar-mandir di atap kelasku sama sekali tidak terdengar seperti langkah orang yang memakai sepatu. Bunyinya lebih mirip kuku panjang yang diseret pelan di atas beton kasar. Dan suaranya perlahan berhenti tepat di atas kepalaku.
Napasku tertahan. Sambil menekan rasa takut, aku mendongak pelan ke arah plafon kelas yang gelap. Tidak ada apa-apa. Namun, sebuah pemikiran mengerikan melintas di benakku. Bagaimana jika suara garukan itu bukan berasal dari atap, melainkan memantul dari lorong luar di keheningan malam? Niat awalku menyelinap dari asrama hanya untuk mengambil buku catatan yang tertinggal, mendadak terasa seperti ide paling bodoh yang pernah kubuat. Aku harus segera keluar dari sini.
Sambil mengantongi ponsel yang nyaris mati, aku mengendap-endap menuju pintu kelas. Tepat saat kakiku melangkah ke ambang pintu, ujung sepatuku menabrak sesuatu. Sebuah sepatu pantofel wanita usang yang berlumuran tanah kering tergeletak begitu saja. Bulu kudukku seketika meremang hebat. Pesan misterius tadi… sepatu yang tertinggal.
Belum sempat aku mencerna ketakutan itu, hawa dingin yang menusuk berembus dari arah tangga, membawa aroma amis darah yang pekat. Bunyi srekk… srekk… kembali terdengar, kali ini jelas bukan dari atap, melainkan dari ujung koridor lantai tiga tempatku berpijak.
Di bawah keremangan cahaya bulan yang menembus jendela lorong, sesosok wanita berbaju putih panjang muncul perlahan dari balik bayangan kelas XI. Dia menunduk sangat dalam, menggerakkan sebuah alat pel dengan gerakan kaku dan berulang di atas keramik. Jantungku berdebar brutal saat menyadari asal suara mengerikan tadi: wanita itu mengepel sambil membungkuk begitu rendah, hingga kuku-kuku tangannya yang hitam dan memanjang ikut terseret menggaruk lantai. Dan yang membuat darahku berdesir, salah satu kakinya pucat tanpa alas—karena sepatunya tertinggal di depan kelasku.
Suara hatiku berteriak menyuruhku lari, namun kakiku terasa seperti dipaku ke lantai. Wanita itu tiba-tiba menghentikan gerakannya, tepat beberapa meter di depanku. “Ngapain kamu pulang malam-malam?” bisiknya. Suaranya serak dan pecah, terdengar lebih seperti desisan angin malam daripada suara manusia.
Gelisah dan ketakutan menyatu mencekik leherku. Harapanku bahwa ia hanyalah petugas kebersihan yang sedang lembur hancur lebur saat ia perlahan mengangkat wajahnya yang sedari tadi tersembunyi di balik rambut kusam. Wajah wanita itu hancur berlumuran darah dengan raut yang sangat mengerikan, seolah baru saja menghantam beton dari tempat yang tinggi.
Tanpa berpikir dua kali, aku memutar arah dan lari secepat mungkin. Aku memacu langkah menembus kegelapan koridor yang terasa amat panjang, menuruni tangga dengan napas memburu, mengabaikan sepatu usang di depan kelasku, dan terus berlari tak tentu arah menuju keselamatan di dalam asrama tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
***
Penulis: Jazilatur Rohmania (X.E)
Lumayan masuk k jenis Horor, Selamat dan terus Berkarya