
Kertas pengumuman itu sudah kuremas sampai bentuknya mirip bola sampah, tapi tintanya masih tembus pandang di bawah cahaya lampu koridor: ”TIDAK LULUS SELEKSI”. Ayah pasti sedang menunggu di luar gerbang sekolah dengan senyum bangga yang sudah disiapkannya sejak subuh tadi. Aku menendang pintu bilik toilet keras-keras hingga engselnya berderit panjang. Menangis sekarang cuma membuang waktu. Aku menyalakan keran air, mencuci muka sampai beku, dan menatap cermin retak di hadapanku. Aku harus mencari cara agar kalimat di kertas ini tidak menjadi kalimat terakhir dari jalan hidupku hari ini.
Aku melangkah keluar dari toilet dengan senyuman yang kupaksa terukir ikhlas. Lorong sekolah mendadak terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah yang kuambil terasa berat, seolah ada batu tak kasat mata yang mengikat pergelangan kakiku. Di kepalaku, bayangan senyum Ayah terus berputar, membuat ulu hatiku semakin nyeri dan sesak.
Dari kejauhan, di balik gerbang besi sekolah, siluetnya mulai terlihat. Ayah sedang duduk bersandar pada sepeda motor bututnya. Begitu melihatku berjalan mendekat, senyum yang sejak pagi ia siapkan langsung merekah lebar, mengalahkan terik matahari siang itu. Pertahanan diri yang kubangun susah payah di depan cermin tadi seketika goyah. Air mataku mulai menggenang, mengaburkan pandangan. Aku benar-benar tidak ingin senyuman yang sudah terpatri di bibir keriputnya itu menghilang karena kegagalanku.
“Sini, Nak! Gimana hasilnya?” seru Ayah antusias, melambaikan tangan kasarnya.
Langkahku terhenti tepat di hadapannya. Lidahku kelu. Sambil menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajah, suaraku akhirnya pecah bergetar. “Ayah… maafin aku. Aku gagal.”
Hening sejenak. Aku memejamkan mata, bersiap melihat senyum di bibir Ayah lenyap berganti dengan raut kekecewaan. Namun, alih-alih amarah atau helaan napas berat, aku justru mendengar suara tawa kecil yang menenangkan. Ayah merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.
Tanpa berpikir lagi, aku berhambur dan jatuh ke dalam pelukannya. Tangisku meledak. Tangan kasarnya menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan lembut, meruntuhkan segala rasa hancur yang sedari tadi mencekikku. Ayah tidak mengatakan banyak hal, ia hanya membiarkanku menangis sampai lega.
Sore itu, di atas boncengan motor butut yang melaju pelan membelah jalanan kota, kami berdua banyak mengobrol. Angin menerpa wajahku yang masih sembap, membawa pergi sisa-sisa amarah dan kesedihan di toilet tadi. Di sepanjang jalan pulang, bersama Ayah, aku mencoba merakit kembali puing-puing masa depan yang sempat kupikir telah hancur hari ini.
***
Penulis: Fizah Afisyatul Febyana (X.F)
Komentar Terbaru