Andi, seorang anak berusia delapan tahun, adalah anak tunggal. Biasanya, seorang anak tunggal merasakan kasih sayang yang lebih, namun berbeda dengan Andi. Ia harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Hampir setiap hari, ia merasakan cacian dan pukulan dari orang tuanya.
Pada suatu siang yang sangat panas, banyak anak-anak SD berlalu lalang pulang sekolah, begitu pula dengan Andi. Sesampainya di rumah, ia berganti baju dan langsung makan siang. Namun, setengah nasi masih tersisa karena Andi sudah merasa sangat kenyang.
Ibunya membentaknya, “Kamu ini sudah susah payah untuk dikasih makan. Kenapa tidak dihabiskan? Cepat habiskan!” Andi segera menghabiskan makanannya meski ia sudah merasa sangat kenyang hingga perutnya sakit. Meski ayahnya ada di sebelahnya, ia hanya terdiam dan membiarkan anaknya dibentak bahkan dipukuli oleh istrinya. Tak ada seorang anak kecil pun yang kuat mentalnya jika diperlakukan seperti itu.
Orang tuanya sudah sangat merasa terbebani dengan kehadiran Andi. Hingga suatu sore, ibu dan ayahnya melakukan kekerasan pada Andi yang pada saat itu tertidur di sofa. Ia dibangunkan dan dipukuli oleh ibunya dari arah belakang. Ayahnya langsung menyuntikkan obat bius sehingga kondisi Andi setengah sadar.
Tak henti-hentinya ibu dan ayahnya memukulinya. “Bunda ampun, sudah cukup. Badan Andi sakit semua,” ucap Andi sembari menangis.
Bukannya orang tuanya berhenti, malah bertambah cepat memukulnya. Sehingga pada kondisi Andi sangat lemas, orang tuanya segera membawanya ke belakang rumahnya. Saat detik-detik ia meninggal dunia, ia merasa badannya dikerubungi banyak sekali semut-semut sehingga ia merasa kesakitan dan juga gatal-gatal.
Setelah meninggalkan Andi, kedua orang tuanya segera pergi dari rumah itu hingga tak ada kabar sama sekali. Bahkan tetangganya tidak mengerti apa alasan keluarga itu pindah.
Tiga hari setelah kepergiannya, Pak Solihin, tetangga dekatnya, pergi ke belakang rumah Andi karena ia bermimpi bahwa Andi meminta tolong. Entah tidak terlalu jelas apa maksud permintaan tolongnya itu sehingga ia segera pergi untuk memastikan. Beberapa langkah, ia mencium bau busuk yang berasal dari arah tumpukan sampah itu.
Tepat pada sore hari itu, mayat Andi ditemukan di belakang rumahnya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kakinya terlihat sangat banyak luka-luka, mungkin akibat dimakan oleh serangga atau semut itu. Tetangga terdekatnya yang mengurus semua pemakamannya. Mereka ingin melaporkan perbuatan jahat orang tua Andi tapi mereka sudah tidak tahu tentang keberadaan orang tuanya itu.
Lima tahun kemudian, rumah Andi sudah tampak sangat rimbun dengan banyak tanaman yang tumbuh di sana. Bahkan dindingnya sudah banyak yang rapuh dan berlumut. Pada suatu hari, ada seorang remaja yang sangat penasaran tentang rumah itu, namanya Aqil. Dia sering melihat anak kecil yang berlarian di rumah itu, namun ia tidak percaya karena rumah itu sangat sepi dan rimbun. Tidak mungkin ada seseorang yang menempatinya, apalagi seorang anak kecil bermain di sana. Aqil memiliki kelebihan, ia dapat melihat makhluk halus lainnya.
Bertepatan dengan tugas kuliahnya, Aqil mengajak enam orang temannya untuk menelusuri rumah itu. Awalnya, tidak ada satupun temannya yang mengiyakan tawaran dari Aqil. Namun, tak lama kemudian, mereka sedikit tertarik untuk menelusuri dan akhirnya segera pergi ke rumah kosong itu.
Sesampainya di sana, semuanya berdoa dan meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah itu dan melihat bagian dalam serta belakang rumahnya.
Setelah mengelilingi rumah itu, Aqil tertarik untuk pergi ke belakang rumahnya. Ia bisa berkomunikasi sedikit dengan hantu anak kecil itu. Semua temannya tidak dapat melihat, kecuali Aqil.
Suara Aqil berubah menjadi suara anak kecil, “Halo kakak, ngapain ke sini? Kalian cari apa?”
Lalu Rudi menjawab, “Jadi gini dek, kami di sini mengikuti mas yang kamu pinjam badannya itu. Jadi kamu mau menelusuri rumah ini.”
“Ouh, iya iya,” jawab hantu anak kecil itu.
“Nama adek siapa? Kok adek ada di sini?” tanya Tasya.
Lalu roh anak kecil itu menjawab, “Nama? Aku tidak punya nama, panggil saja adek. Adek dibunuh sama bunda, papa. Adek dibuang di sana,” sambil menunjuk ke sudut belakang rumah.
Semuanya langsung terdiam dan sangat terharu. “Adek di sini sama Tante jelek,” ucap si adek.
“Tante jelek? Di mana Tante jeleknya?”
Dia menunjukkan pohon mangga yang sudah sangat berlumutan itu. “Tante jelek tapi baik sama adek. Adek dijaga, adek diajak main bareng sama Tante itu. Tidak seperti bunda, bunda selalu marah dan pukul adek.”
“Adek tidak bisa pergi dari tempat ini?” tanya Rudi.
“Adek bisa pergi tapi Tante tidak bisa. Kalau adek pergi, Tante sama siapa di sini? Kasihan Tante,” jawabnya.
“Kalau adek mau pergi, bisa ikut sama mas ini ya. Nanti dia bantu kok. Nanti tantenya juga dipindah ya, tidak di sini, biar tantenya tidak sendiri.” Dan ternyata si adek itu mau pergi karena tawaran dari Rudi dan komunikasi batin dengan Aqil.
Setelah lama berbincang-bincang, roh si adek pergi. Aqil bercerita mengapa Tante yang dimaksud adek itu tidak bisa pergi karena dulu ia pernah bunuh diri di tempat itu sebelum rumah itu dibangun. Mereka mengakhiri kunjungan itu dengan berdoa dan pergi dari rumah kosong itu.
=====
Hai, saya Putri. Hobi saya adalah membaca dan menggambar kaligrafi. Saya suka membuat cerita sejak MTS. Motto hidup saya adalah “Terlahir dari keluarga sederhana tidak akan menghalangiku untuk bisa meraih cita-cita”. Selamat membaca cerita pendek saya yang sederhana ini.
Komentar Terbaru