{"id":9621,"date":"2026-05-14T15:00:26","date_gmt":"2026-05-14T08:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/?p=9621"},"modified":"2026-05-15T04:48:29","modified_gmt":"2026-05-14T21:48:29","slug":"9621","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/2026\/05\/14\/9621\/","title":{"rendered":"Tekankan Integritas Lulusan MAN 2 Probolinggo, Ahmad Sruji Bahtiar Meminta Siswa Buktikan Kontribusi Karya Bukan Sekadar Adu Retorika"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-14-at-19.59.31-300x219.jpeg\" alt=\"Foto Dr. H. Ahmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I.: Seorang pria berkulit sawo matang memakai peci hitam dan kemeja hijau berdiri di belakang podium, memegang mikrofon, dengan latar panel dekoratif merah dan dinding terang.\" width=\"300\" height=\"219\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-9622\" srcset=\"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-14-at-19.59.31-300x219.jpeg 300w, https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-14-at-19.59.31-768x561.jpeg 768w, https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-14-at-19.59.31.jpeg 786w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><strong>Kraksaan, MDP News<\/strong> \u2013 Acara Purnawiyata 136 murid kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Probolinggo Tahun Ajaran 2025-2026 yang digelar di Gedung Islamic Center Kraksaan, Kamis (14\/5), menjadi momentum pembekalan moral yang sarat makna. Kehadiran tokoh pimpinan dari Kementerian Agama, yakni Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, <strong>Dr. H. Ahmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I.<\/strong>, dan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, <strong>H. Muhammad As&#8217;adi, S.Ag., M.Pd.I.<\/strong>, memberikan dimensi spiritual sekaligus teguran tegas bagi para lulusan dalam menghadapi realitas dunia nyata pasca-sekolah.<\/p>\n<p>Mewakili Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo yang berhalangan hadir, Kasih Penma H. Muhammad As&#8217;adi menyoroti ancaman nyata yang kerap melumpuhkan daya juang generasi muda saat ini, yaitu distraksi dan ilusi digital. Di hadapan ratusan wisudawan, ia melontarkan peringatan keras agar para lulusan tidak membuang waktu secara sia-sia di dunia maya yang mengaburkan realitas.<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;Tantangan terbesar kita untuk semangat belajar saat ini adalah HP. Jangan sampai waktu habis hanya untuk menonton TikTok, melihat <em>drakor<\/em>, lalu berkhayal menjadi kaya raya tapi hanya duduk di tempat tidur,&#8221; sentil As&#8217;adi secara lugas.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dunia kampus dan realitas kerja kelak akan menjadi ujian kemandirian spiritual yang sesungguhnya. Jika selama di madrasah para siswa selalu didisiplinkan untuk melaksanakan salat duha dan berjamaah zuhur, rutinitas tersebut kini murni menjadi tanggung jawab personal.<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;Di bangku kuliah nanti tidak ada yang menyambut Anda di gerbang, tidak ada yang menyuruh salat. Ridanya guru dan ridanya orang tua adalah kunci kesuksesan kita di masyarakat,&#8221; pesannya menegaskan.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Tak hanya menyasar para wisudawan, As&#8217;adi juga menitipkan pesan krusial kepada barisan wali murid. Ia meminta para orang tua untuk terus menjadikan ikhtiar tak kasatmata, seperti doa dan pengorbanan harta sebagai perisai bagi langkah anak-anak mereka ke depan,<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;<em>Tirakati<\/em> anak-anak kita, doakan mereka. Infak yang diberikan ke madrasah anggaplah sebagai sedekah untuk keberhasilan ananda, jangan dihitung-hitung,&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>pungkasnya memberikan kesadaran baru tentang nilai sebuah pendidikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Puncak pembekalan spiritual dalam acara tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, <strong>Dr. H. Ahmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I.<\/strong> Hadir dengan wibawa sekaligus kedekatan emosional sebagai mantan Kepala MAN 2 Probolinggo, Bahtiar membuka orasinya dengan menyentuh empati terdalam para siswa. Ia mengingatkan kembali realitas pengorbanan tanpa batas dari kedua orang tua yang kerap luput dari perhatian.<\/p>\n<p>Di hadapan para wisudawan, ia menjabarkan bagaimana para orang tua rela bangun sebelum waktu subuh selama tiga tahun terakhir, mengambil air wudu, menyiapkan sarapan, dan tak henti merapal doa di tengah rasa khawatir hingga anak mereka pulang ke rumah dengan selamat.<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;Itu artinya apa? Itu bentuk rasa cinta orang tuamu kepada ananda. Maka balaslah dengan cinta juga yang melebihi rasa cintanya orang tuamu. Amalkan ilmu-ilmu yang telah didapatkan,&#8221; tuturnya menggugah kesadaran para lulusan.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Tidak sekadar memberikan wejangan moral kepada siswa, Kakanwil Jatim ini juga melontarkan kritik sosial yang sangat membumi namun tajam kepada barisan wali murid. Ia secara khusus menyentil fenomena <em>&#8216;ahli hisab&#8217;<\/em> (bapak-bapak perokok) yang kerap menjadikan alasan ketiadaan biaya sebagai halangan untuk menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi (S1, S2, maupun S3). Bahtiar menjabarkan kalkulasi ekonomi yang menohok rasionalitas para hadirin.<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;Bagi yang <em>ahli hisab<\/em> (perokok), jangan bilang tidak bisa. Kalau sehari habis dua bungkus, sebulan sudah satu setengah juta rupiah. Padahal kuliah S1 satu semester paling mahal tiga juta. Cukup &#8216;puasa&#8217; rokok dua bulan sudah bisa bayar S1. Masa lebih penting rokok daripada putra-putrinya? Anak kita adalah investasi masa depan,&#8221; kritik Bahtiar tegas, yang seketika mengundang senyum getir sekaligus renungan mendalam dari seluruh penjuru ruangan.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Menyambung wejangannya, Bahtiar kemudian membedah fondasi moral bagi para lulusan dengan mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai &#8220;Tujuh Tanda Ilmu yang Barokah&#8221;. Ia menegaskan bahwa setinggi apa pun kecerdasan intelektual dan ijazah yang diraih, semuanya akan kehilangan esensi jika justru melahirkan kesombongan. Tanda pertama dari ilmu yang berkah, menurutnya, adalah semakin bertambahnya rasa takut kepada Allah yang akan berbanding lurus dengan kecintaan kepada orang tua.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menjabarkan pentingnya sikap tawaduk atau rendah hati. Bahtiar secara lugas meminta para lulusan untuk tidak terjebak dalam penyakit hati berupa sifat <em>ujub<\/em> dan merasa paling pintar hanya karena telah menyelesaikan pendidikan.<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;Ibarat padi, semakin berisi ia akan semakin merunduk. Jangan merasa paling benar atau paling hebat. Ilmu yang diberikan kepada kita ini bagaikan setetes air di lautan luas,&#8221; urainya memecah keheningan.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Kakanwil Jatim ini juga menyentil realitas sosial yang kerap menjangkiti masyarakat modern, yakni kebiasaan sibuk mencari kesalahan orang lain (<em>ngerasani<\/em>). Ia menegaskan bahwa individu dengan ilmu yang berkah akan lebih sibuk bermuhasabah (mengoreksi diri sendiri) dan bersikap zuhud terhadap penilaian manusia, tidak terbang saat dipuji, dan tidak tumbang ketika dicaci. Lurusnya niat dalam berkarya juga menjadi sorotan tajamnya.<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;Bekerjalah sungguh-sungguh karena Allah. Kalau bekerja niatnya hanya pengin kaya, nanti stres, lalu stroke,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Bahtiar kemudian mengunci pembekalan tersebut dengan parameter konkret mengenai keberhasilan pendidikan madrasah saat siswanya kelak membaur di tengah masyarakat luas. Bagi Bahtiar, integritas lulusan madrasah harus dibuktikan melalui kontribusi karya, bukan sekadar adu retorika.<\/p>\n<blockquote>\n<p>&#8220;Orang yang punya ilmu dan barokah itu berarti perbuatannya semakin banyak, sedangkan omongannya semakin berkurang,&#8221; pungkasnya memberikan filosofi aksi bagi para lulusan.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Kolaborasi wejangan moral dan kritik sosial dari kedua petinggi Kementerian Agama ini pada akhirnya memberikan bobot tersendiri bagi perhelatan Purnawiyata MAN 2 Probolinggo tahun ini. Rangkaian pesan tersebut seolah menjadi alarm pengingat bagi seluruh ekosistem madrasah, baik siswa, guru, maupun orang tua bahwa proses pendidikan sejati baru dimulai setelah mereka meninggalkan gerbang sekolah.<\/p>\n<p>Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan era digital, 136 wisudawan tersebut dilepas tidak sekadar dengan selembar ijazah kelulusan, melainkan dengan peta jalan moral yang kokoh. Mereka kini memikul tanggung jawab besar untuk membuktikan bahwa identitas siswa-siswi madrasah mampu bertahan sebagai jangkar karakter, tetap membumi di tengah prestasi, mengedepankan amal nyata daripada banyak bicara, serta terus mengabdi kepada orang tua di mana pun kelak mereka melangkah dan berkarya.<\/p>\n<p><em>Reporter : Fizah Afisyatul Febyana (X.F)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kraksaan, MDP News \u2013 Acara Purnawiyata 136 murid kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Probolinggo Tahun Ajaran 2025-2026 yang digelar di Gedung Islamic Center Kraksaan, Kamis (14\/5), menjadi momentum pembekalan moral yang sarat makna. Kehadiran tokoh pimpinan dari Kementerian Agama, yakni Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Ahmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I., dan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, H. Muhammad As&#8217;adi, S.Ag., M.Pd.I., memberikan dimensi spiritual sekaligus teguran tegas bagi para lulusan dalam menghadapi realitas dunia nyata pasca-sekolah. Mewakili Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo yang berhalangan hadir, Kasih Penma H. Muhammad As&#8217;adi menyoroti ancaman nyata yang kerap melumpuhkan daya juang generasi muda saat ini, yaitu distraksi dan ilusi digital. Di hadapan ratusan wisudawan, ia melontarkan peringatan keras agar para lulusan tidak membuang waktu secara sia-sia di dunia maya yang mengaburkan realitas. &#8220;Tantangan terbesar kita untuk semangat belajar saat ini adalah HP. Jangan sampai waktu habis hanya untuk menonton TikTok, melihat drakor, lalu berkhayal menjadi kaya raya tapi hanya duduk di tempat tidur,&#8221; sentil As&#8217;adi secara lugas. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dunia kampus dan realitas kerja kelak akan menjadi ujian kemandirian spiritual yang sesungguhnya. Jika selama di madrasah para siswa selalu didisiplinkan untuk melaksanakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[181,177],"tags":[2132,2131,2129,2130,91,223,185,2124],"class_list":["post-9621","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-reportase","category-jejak-aksara-pena","tag-fizah-afisyatul-febyana","tag-islamic-center-kraksaan","tag-kanwil-kemenag-jatim","tag-kemenag-kabupaten-probolinggo","tag-man-2-probolinggo","tag-mdp-news","tag-pena-pustaka-mandapro","tag-purnawiyata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9621","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9621"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9621\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9625,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9621\/revisions\/9625"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}