{"id":946,"date":"2022-08-24T21:12:06","date_gmt":"2022-08-24T14:12:06","guid":{"rendered":"https:\/\/perpus.man2probolinggo.sch.id\/?p=946"},"modified":"2025-06-18T09:07:15","modified_gmt":"2025-06-18T02:07:15","slug":"kisah-para-penuntut-ilmu-muhammad-bagas-rizky-pratama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/2022\/08\/24\/kisah-para-penuntut-ilmu-muhammad-bagas-rizky-pratama\/","title":{"rendered":"Kisah Para Penuntut Ilmu ~ Muhammad Bagas Rizky Pratama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-828\" src=\"https:\/\/perpus.man2probolinggo.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/Catatan-Pena.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"426\" srcset=\"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/Catatan-Pena.jpg 640w, https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/Catatan-Pena-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Suatu ketika, teringat sabda Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam<br \/>\n\u0637\u064e\u0644\u064e\u0628\u064f\u0627 \u0644\u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u0650 \u0641\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0636\u064e\u0629\u064c \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0652 \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064d<br \/>\n\u201cMenuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim.\u201d <strong>[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah &amp; al-Baihaqi dalam Syu\u2019abul Iman]<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Ya, setiap muslim memiliki kewajiban untuk mengetahui segala hal tentang agamanya. Bahkan hendaknya ia menjadikan ilmu sebagai prioritas tertingginya. Mengenai hal ini al-Hafidz Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani rahimahullah berkata,<br \/>\n\u0641\u0625\u0646 \u0623\u0648\u0644\u0649 \u0645\u0627 \u0635\u0631\u0641\u062a \u0641\u064a\u0647 \u0646\u0641\u0627\u0626\u0633 \u0627\u0644\u0623\u064a\u0627\u0645\u060c \u0648\u0623\u0639\u0644\u0649 \u0645\u0627 \u062e\u0635 \u0628\u0645\u0632\u064a\u062f \u0627\u0644\u0627\u0647\u062a\u0645\u0627\u0645\u060c \u0627\u0644\u0627\u0634\u062a\u063a\u0627\u0644 \u0628\u0627\u0644\u0639\u0644\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0634\u0631\u0639\u064a\u0629 \u0627\u0644\u0645\u062a\u0644\u0642\u0627\u0629 \u0639\u0646 \u062e\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0628\u0631\u064a\u0629<br \/>\n&#8220;Sesungguhnya sesuatu paling pantas untuk seseorang mengisi hari-hari istimewanya dengannya, dan sesuatu tertinggi yang seseorang perlu mengkhususkannya dengan antusias yang besar, adalah kegiatan mempelajari ilmu-ilmu syar&#8217;i yang diambil dari manusia terbaik (yaitu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam).&#8221;<strong>[Hadyu as-Saari Muqaddimah Fath al-Bari, hal. 5]<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Para Ulama terdahulu begitu bersemangat dalam mencari Ilmu. Mereka sangat antusias dalam mencarinya. Salah satu contohnya sebagaimana yang disebutkan Imam al Bukhari dalam shahihnya<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Pada BAB: Safar untuk menuntut ilmu. Bahwa,Shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallah anhu melakukan rihlah (bepergian) sejauh perjalanan satu bulan menuju kepada Abdullah bin Unais demi mencari satu hadits saja.<strong>[Shahih al Bukhari,Kitabul Ilmi]<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Tidak hanya itu. Contoh lainnya, yaitu:<br \/>\n\u2022 Al-Hur bin Abdurrahman rahimahullah berkata, &#8220;Aku mempelajari Irab al-Quran kurang lebih sekitar 40 atau 45 tahun&#8221; <strong>[Dinukil secara ringkas dari kitab: at-Tarikh al-Kabir, 3\/82]<\/strong><br \/>\n\u2022 Naim al-Mujmir rahimahullah, beliau bermulazamah bersama Abu Hurairah radhiyallahu anhu 20 tahun, hingga beliau menjadi murid seniornya. <strong>[Dinukil secara ringkas dari kitab: Siyar A&#8217;lamin Nubala&#8217;, 5\/227]<\/strong><br \/>\n\u2022 Seorang Tabi\u2019in, Sa\u2019id bin Jubair rahimahullah menyatakan, \u201cAku menulis (ilmu yang disampaikan) Ibnu Abbas di lembaran milikku hingga penuh. Kemudian aku tulis di punggung sandalku, kemudian (setelah penuh) aku tulis di telapak tanganku.\u201d <strong>[Diriwayatkan al Khatib al Baghdadi dalam Taqyiidul Ilmi, 1\/102]<\/strong><br \/>\nSa\u2019id bin Jubair juga menyatakan, \u201cAku mendengar hadits dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas di malam hari. Aku mencatatnya dengan perantaraan pelana tungganganku. Hingga di pagi hari aku menyalinnya.\u201d<strong> [Diriwayatkan oleh al Khatib al Baghdadi dalam Taqyiidul Ilmi, 1\/239]<\/strong><br \/>\n\u2022 Abdullah bin Nafi bermajelis kepada Imam Malik 35 tahun.<strong>[Dinukil secara ringkas dari kitab: Siyar A&#8217;lamin Nubala&#8217;, 8\/108]<\/strong><br \/>\n\u2022 Khalaf bin Hisyam rahimahullah berkata,&#8221;Dahulu ada satu bab dari Nahwu yang sulit bagiku, maka dengan itu kubelanjakan hartaku sebesar delapan ribu dirham (dalam rangka thalabul ilmi), hingga aku benar-benar bisa memahaminya.&#8221;<strong>[Dinukil secara ringkas dari kitab: Marifatul Qurra al-Kibar, 1\/172]<\/strong><br \/>\n\u2022 Dan masih banyak lagi kisah-kisah para ulama yang membangkitkan semangat dalam menuntut ilmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Demikianlah mencari ilmu. Harus semangat. Tidak dengan bersantai-santai.<br \/>\nSeseorang berkata kepada seorang lainnya : \u201cBagaimanakah tips engkau bisa menuai ilmu?\u201d<br \/>\nDia menjawab: \u201cAku memburunya, ternyata aku temukan bahwa dia berada ditempat yang sangat jauh untuk dituju. Tak bisa diburu dengan bidikan anak panah. Tak bisa diraih dalam mimpi. Tak diwariskan dari Ayah ataupun Paman.<br \/>\nAku berusaha untuk bisa menuju kesana dengan beralaskan waktu. Bersandarkan batu. Selalu begadang lagi banyak memandang.<br \/>\nBerjuang dengan pikiran. Menempuh jauhnya perjalanan, dan melintasi bahaya.<br \/>\nLalu aku menemukannya berupa benih, yang tidaklah layak disia-siakan kecuali harus ditanam. Tidak layak ditanam kecuali hanya dalam sanubari. Tidak pula layak disiram kecuali hanya dengan belajar.<br \/>\nBeritahukan padaku. Apakah seseorang yang menghabiskan waktu siangnya untuk mengumpulkan harta, lalu dimalam harinya untuk mengumpuli istrinya. Akankah dia bisa menjadi seorang yang Faqih ?<br \/>\nTentulah tidak mungkin, Demi Allah.<br \/>\nIlmu tidaklah bisa dituai kecuali harus dengan memeluk buku catatan, memikul tinta, berbekal potongan roti, dan tanpa terputus, terus memburunya di malam dan siang harinya\u201d.<strong>[Awaiq At Thalab Karya As Syaikh Abdus Salam bin Barjas Rahimahullahu Ta\u2019ala]<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Hal senada juga dikatakan Seorang Tabi\u2019in, Yahya bin Abi Katsir:&#8221;Warisan ilmu lebih baik daripada warisan emas, jiwa yang shaleh lebih baik daripada mutiara, dan tidaklahilmu didapat dengan santai-santai.&#8221;<strong>[Tarikh Baghdad, 11\/375]<\/strong><br \/>\nSemoga tulisan di atas dapat memotivasi kita agar lebih semangat lagi dalam menuntut ilmu. Dan semoga Allah memberi pertolongan dan kemudahan bagi kita.<\/p>\n<p>Referensi:<br \/>\n\u2022 https:\/\/www.manhajul-anbiya.net<br \/>\n\u2022 Channel Telegram || Faedah Ringkas<br \/>\n\u2022 http:\/\/bit.ly\/AnNajiyah_Bali<br \/>\n\u2022 https:\/\/www.sahab.net\/forums\/index.php?app=forums&amp;module=forums&amp;controller=topic&amp;id=104270<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suatu ketika, teringat sabda Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam \u0637\u064e\u0644\u064e\u0628\u064f\u0627 \u0644\u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u0650 \u0641\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0636\u064e\u0629\u064c \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0652 \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064d \u201cMenuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim.\u201d [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah &amp; al-Baihaqi dalam Syu\u2019abul Iman] Ya, setiap muslim memiliki kewajiban untuk mengetahui segala hal tentang agamanya. Bahkan hendaknya ia menjadikan ilmu sebagai prioritas tertingginya. Mengenai hal ini al-Hafidz Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani rahimahullah berkata, \u0641\u0625\u0646 \u0623\u0648\u0644\u0649 \u0645\u0627 \u0635\u0631\u0641\u062a \u0641\u064a\u0647 \u0646\u0641\u0627\u0626\u0633 \u0627\u0644\u0623\u064a\u0627\u0645\u060c \u0648\u0623\u0639\u0644\u0649 \u0645\u0627 \u062e\u0635 \u0628\u0645\u0632\u064a\u062f \u0627\u0644\u0627\u0647\u062a\u0645\u0627\u0645\u060c \u0627\u0644\u0627\u0634\u062a\u063a\u0627\u0644 \u0628\u0627\u0644\u0639\u0644\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0634\u0631\u0639\u064a\u0629 \u0627\u0644\u0645\u062a\u0644\u0642\u0627\u0629 \u0639\u0646 \u062e\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0628\u0631\u064a\u0629 &#8220;Sesungguhnya sesuatu paling pantas untuk seseorang mengisi hari-hari istimewanya dengannya, dan sesuatu tertinggi yang seseorang perlu mengkhususkannya dengan antusias yang besar, adalah kegiatan mempelajari ilmu-ilmu syar&#8217;i yang diambil dari manusia terbaik (yaitu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam).&#8221;[Hadyu as-Saari Muqaddimah Fath al-Bari, hal. 5] Para Ulama terdahulu begitu bersemangat dalam mencari Ilmu. Mereka sangat antusias dalam mencarinya. Salah satu contohnya sebagaimana yang disebutkan Imam al Bukhari dalam shahihnya Pada BAB: Safar untuk menuntut ilmu. Bahwa,Shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallah anhu melakukan rihlah (bepergian) sejauh perjalanan satu bulan menuju kepada Abdullah bin Unais demi mencari satu hadits saja.[Shahih al Bukhari,Kitabul Ilmi] Tidak hanya itu. Contoh lainnya, yaitu: \u2022 Al-Hur bin Abdurrahman rahimahullah berkata, &#8220;Aku mempelajari Irab al-Quran kurang lebih sekitar 40 atau 45 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[178,177],"tags":[91,241],"class_list":["post-946","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel-opini","category-jejak-aksara-pena","tag-man-2-probolinggo","tag-muhammad-bagas-rizky-pratama"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=946"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/946\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9179,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/946\/revisions\/9179"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}