{"id":7898,"date":"2024-09-05T08:00:33","date_gmt":"2024-09-05T01:00:33","guid":{"rendered":"https:\/\/pustakamandapro.web.id\/?p=7898"},"modified":"2025-06-18T07:55:53","modified_gmt":"2025-06-18T00:55:53","slug":"peluk-aku-saat-rapuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/2024\/09\/05\/peluk-aku-saat-rapuh\/","title":{"rendered":"Peluk Aku Saat Rapuh (Laelatul Luqiyana Adawiyah)"},"content":{"rendered":"<p>Dalam keheningan malam yang pekat, seorang pemuda berhoodie hitam duduk terpekur, matanya lekat pada layar ponsel yang bercahaya redup. Jarum jam telah merayap melewati tengah malam, namun Tio Gifani\u2014atau yang akrab disapa Opan\u2014masih belum beranjak, seolah terpaku oleh sesuatu yang tak kasat mata.<\/p>\n<p>Tiba-tiba, kesunyian itu pecah oleh sebuah teriakan penuh euforia. &#8220;Ahh, setelah sekian lama aku memperjuangkanmu. Aku berhasil juga!&#8221; Wajahnya yang semula tegang kini berbinar, dipenuhi senyum kemenangan yang tak terbendung.<\/p>\n<p>Apa gerangan yang membuat seorang pemuda begitu bersemangat di tengah malam buta? Sebuah novel berjudul &#8220;Peluk Aku Saat Rapuh&#8221;, benda yang mungkin tampak sepele di mata orang lain, namun bagi Opan, itu adalah harta karun yang tak ternilai harganya.<\/p>\n<p>Banyak yang tak memahami obsesi Opan. Bahkan teman-temannya pun menganggapnya aneh, mempertanyakan mengapa ia rela berjuang demi sebuah buku. &#8220;Buang-buang waktu,&#8221; kata mereka. Namun, mereka tak tahu bahwa di balik sampul novel itu tersimpan rahasia kekuatan Opan untuk bertahan.<\/p>\n<p>Di saat-saat terpuruknya, ketika Opan merasa sendirian tanpa seorang pun untuk berbagi, novel inilah yang menjadi pelipur lara. Secara tak sengaja, ia menemukan kutipan-kutipan dari novel tersebut di media sosial, dan kata-kata itu seketika meresap ke dalam jiwanya yang rapuh:<\/p>\n<p>&#8220;Dalam banyaknya permasalahan yang kita hadapi, kita perlu waktu untuk istirahat sejenak. Bukan untuk lari dari masalah. Tetapi, agar bisa melangkah lebih cepat dan lebih jauh serta lebih tangguh daripada sebelumnya.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Dan dalam hidup yang damai, jangan pernah hidup di atas ekspektasi orang lain.&#8221;<\/p>\n<p>Kutipan-kutipan itu menjadi cahaya dalam gelapnya kehidupan Opan. Mereka membuka matanya, membuatnya sadar bahwa selama ini ia terlalu memaksakan diri untuk memenuhi harapan yang di luar kendalinya. Novel itu mengajarkannya untuk menerima diri dan menjalani hidup sesuai dengan irama jiwanya sendiri.<\/p>\n<p>Kini, setelah perjuangan panjang, Opan akhirnya bisa memeluk karya tulis yang telah memberinya kekuatan untuk bangkit. Malam ini menjadi saksi bisu kebahagiaan Opan yang tak terkira. Dengan hati yang penuh syukur, ia memeluk novel itu erat-erat, seolah memeluk masa depan yang lebih cerah.<\/p>\n<p>Sembari matanya mulai terasa berat, Opan tersenyum. Ia tahu, malam ini akan menjadi awal dari lembar baru dalam hidupnya. Dengan novel di pelukannya, ia perlahan terlelap, siap menyongsong mimpi-mimpi indah yang telah lama ditunggunya.<\/p>\n<p>*****<\/p>\n<p>Laelatul Luqiyana Adawiyah, yang akrab disapa El, adalah siswi berbakat dari MAN 2 Probolinggo dengan passion mendalam untuk musik dan sastra. Meski baru mengeksplorasi dunia penulisan, El mampu merangkai kata-kata yang menyentuh hati dengan ketulusan seorang pemula yang bersemangat. Temukan lebih banyak tentang perjalanan kreatif El di Instagram: @lqynaa_ atau @luqiyanaa_.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam keheningan malam yang pekat, seorang pemuda berhoodie hitam duduk terpekur, matanya lekat pada layar ponsel yang bercahaya redup. Jarum jam telah merayap melewati tengah malam, namun Tio Gifani\u2014atau yang akrab disapa Opan\u2014masih belum beranjak, seolah terpaku oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tiba-tiba, kesunyian itu pecah oleh sebuah teriakan penuh euforia. &#8220;Ahh, setelah sekian lama aku memperjuangkanmu. Aku berhasil juga!&#8221; Wajahnya yang semula tegang kini berbinar, dipenuhi senyum kemenangan yang tak terbendung. Apa gerangan yang membuat seorang pemuda begitu bersemangat di tengah malam buta? Sebuah novel berjudul &#8220;Peluk Aku Saat Rapuh&#8221;, benda yang mungkin tampak sepele di mata orang lain, namun bagi Opan, itu adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Banyak yang tak memahami obsesi Opan. Bahkan teman-temannya pun menganggapnya aneh, mempertanyakan mengapa ia rela berjuang demi sebuah buku. &#8220;Buang-buang waktu,&#8221; kata mereka. Namun, mereka tak tahu bahwa di balik sampul novel itu tersimpan rahasia kekuatan Opan untuk bertahan. Di saat-saat terpuruknya, ketika Opan merasa sendirian tanpa seorang pun untuk berbagi, novel inilah yang menjadi pelipur lara. Secara tak sengaja, ia menemukan kutipan-kutipan dari novel tersebut di media sosial, dan kata-kata itu seketika meresap ke dalam jiwanya yang rapuh: &#8220;Dalam banyaknya permasalahan yang kita hadapi, kita perlu waktu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":7899,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[179,177],"tags":[1085,1998,324,1088,91,1999,185,1255,1888,2000],"class_list":["post-7898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita","category-jejak-aksara-pena","tag-cerita-inspiratif","tag-kesehatan-mental-remaja","tag-laelatul-luqiyana-adawiyah","tag-literasi-remaja","tag-man-2-probolinggo","tag-novel-motivasi","tag-pena-pustaka-mandapro","tag-penerimaan-diri","tag-perjuangan-remaja","tag-self-help"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7898"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8814,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7898\/revisions\/8814"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}