{"id":730,"date":"2021-10-21T13:07:55","date_gmt":"2021-10-21T06:07:55","guid":{"rendered":"https:\/\/perpus.man2probolinggo.sch.id\/?p=730"},"modified":"2021-10-21T13:07:55","modified_gmt":"2021-10-21T06:07:55","slug":"cerpen-tulis-apa-saja-lailatul-munawaroh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/2021\/10\/21\/cerpen-tulis-apa-saja-lailatul-munawaroh\/","title":{"rendered":"Tulis Apa Saja ~ Lailatul Munawaroh"},"content":{"rendered":"<p>Diketik, dihapus, diketik, dihapus itu yang sudah kulakukan berulang-ulang. Mulai pukul 18.00 WIB hingga 19.01 tidak ada tulisan di layar laptopku. Sedangkan tulisannya harus dikumpulkan pada jam 24.00 WIB. Tidak ada sinyal-sinyal arah tulisan.<br \/>\n\u201cNulis apa kok belum ada tulisannya?\u201d tanya ibu kepadaku.<br \/>\n\u201cMau buat cerpen tapi ga tahu mau nulis apa,\u201d jawbaku.<br \/>\nKring &#8230; kring &#8230;<br \/>\nAda panggilan masuk. Kugeser tombol hijau ke atas untuk menjawab telepon.<br \/>\n\u201cAi, ayo latihan hadrah!\u201d ajaknya di seberang telepon.<br \/>\n\u201cAku sebenarnya sibuk sekarang,\u201d jawabku. Karena memang malam ini aku berniat untuk mengerjakan tugas yang sudah menumpuk seperti cucian.<br \/>\n\u201cTemen-temen udah pada kumpul,\u201d ujarnya dengan nada sedikit kecewa dan langsung memutus ppanggilan.<br \/>\nDengan terpaksa aku menutup laptopku. Menyimpannya di dalam lemari lalu berangkat.<br \/>\n***<br \/>\nSesampainya di musholla<br \/>\n\u201c Loh kok sudah tidak ada, yang lain pada kemana?\u201d tanyaku penasaran karena di musholla hanya tinggal 3 anak.<br \/>\n\u201cAnak-anak udah pada pulang, ada yang mau main game, baca wattpad, nonton live you tube.\u201d Mbak Utin menjawab semua pertanyaanku dengan jelas.<br \/>\nKalau ditanya perasaanku saat itu bagaimana. Jelas, aku sangat marah.  Deadline cerpen hanya tinggal menghitung jam dan mereka meneleponku. Setelah sampai mereka pulang.<br \/>\n\u201c Ini jadi atau tidak latihannya? Aku sudah usahakan datang kesini, yang lain malah pulang.\u201d Aku bertanya dengan perasaan yang sudah tak menentu antara kecewa, marah, capek, pengen nangis, dan lainnya.<br \/>\n\u201c Sudah ga usah marah-marah mending cerita bareng sini. Kan sudah lama juga kita tidak bertukar cerita mengenang masa kecil,\u201d kata Mbak Indi yang berusaha mendinginkan suasana.<br \/>\n\u201c Mbak, Ai sekarang banyak tugas di rumah. Ai barusan buat cerita tapi belum selesai dan masih belum tahu mau buat cerita yang bagaimana,\u201d curhatku kepada 3 orang didepanku.<br \/>\n\u201c Maka dari itu ayo kita cerita-cerita dulu. Mungkin setelah ini kamu bisa mendapat hidayah,\u201d hibur Mbak Tia.<br \/>\n\u201c Ya sudah ayo cerita dulu,\u201d responku menyetujui ajakan Mbak Tia. Mungkin solusi ini akan membuatku menemukan arah ceritaku.<br \/>\n***<br \/>\n\u201c Eh, kamu belum baca grup yah?\u201d selidik Mbak Utin kepadaku.<br \/>\n\u201cAda apa digrup?\u201d tanyaku yang juga tak kalah penasaran.<br \/>\n\u201c Kamu ini ga bener emang,\u201d tuduh Mbak Tia.<br \/>\n\u201c Kurang bener gimana aku?\u201d tanyaku. Karena jujur saja aku belum membuka grup hadrah. Karena chat dari grup lain sangat banyak. Sehingga tidak sempat aku membaca pesan dari grup hadrah.<br \/>\n\u201c Ya, tadi panas sekali chat digrup itu serasa akan terjadi perang dunia ke 3,\u201d sambung Mbak Indi.<br \/>\n\u201c Sebenarnya kalian ngomongin apa kok aku ga ngerti. Pesannya sudah dihapus,\u201d ujarku karena aku benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka dan berita apa yang sudah aku lewatkan. Setiap pertemuan pasti akan ada perghibahan. Mustahil kalo sudah kumpul tapi ga ghibah.<br \/>\n\u201c  Ayo dah cerita jangan ghibah. Aku lagi butuh inspirasi alur cerita,\u201d pintaku kepada mereka.<br \/>\n\u201cSek aku haus, minta tolong belikan es Ai. Ini uangnya.\u201d Mbak Indi memberikan uang 500 an kepadaku. Agar tidak lama langsung saja aku membeli es di toko terdekat. Aku membeli es sebanyak 5 plastik. Ada rasa susu strowbery, dan rasa cincau.<br \/>\n***<br \/>\n\u201cIni mbak,\u201d ucapku sembari menyodorkan kresek putih yang berisi 5 plastik es dengan rasa yang berbeda.<br \/>\n\u201cAi kamu ingat nggak dulu pas kecil kamu selalu dikerjain sama kakak-kakak yang kelompok A?\u201d tanya Mbak Utin.<br \/>\n\u201c Ingat lah Mbak, siapa coba yang ga ingat. Sandal disembunyikan, muka dikasih bekasnya pensil.\u201d Aku masih ingat jelas waktu itu. Saat aku menjadi santri baru semua seakan tidak suka. Alasannya sepele hanya karena aku memanggil Bu Guru kepada Ustadzahku. Waktu itu aku masih belajar di taman kanak-kanak. Usiaku masih sekitar 3 tahun.<br \/>\n\u201cMasih ada dendam nggak?\u201d tanya Mbak Utin lagi.<br \/>\n\u201cNggak Mbak, tapi kalo inget pas itu rasanya kayak yang  ga mungkin kita bisa seakrab sekarang Mbak. Dulu jangankan sampek ketawa bareng mau nyapa dengan tulusu rasanya sangat sulit,\u201d Jawabku lagi. Sebab kalo rasa dendam itu pastisudah tidak ada. Sekarang saja kita sudah akrab banget. Aku hanya berharap semoga kita bisa menjaga silaturrahmi ini dengan baik dan menjalankan amanah yang kita emban semaksimal mungkin.<br \/>\n\u201c Woow &#8230; tanpa kita sadari hidup kita dulu seperti sinetron yah,\u201d sambung Mbak Tia.<br \/>\n\u201cYa bener sekali emang persis sinetron,\u201d tambah Mbak Indi<br \/>\nAku akui memang hidup kita dulu seperti sinetron. Dimana semuanya pasti hanya berpura-pura baik didepan. Namanya juga masa kecil pasti ada kelakuan yang aneh-aneh. Dan hal itulah yang akan kita rindukan setelah kita dewasa.<br \/>\n\u201c Pas kamu ulang tahun, sebenarnya itu kita ga ada niatan buat kasih surprise ke kamu. Niatnya cuman ngerjain kamu biar kotor.\u201d Mbak Utin mengungkapkan kebenaran itu tanpa ditutup-tutupi.<br \/>\n\u201cYa kah Mbak? Tapi aku merasa saat itu memang diberi keujtan di waktu aku ulang tahun. Malah aku merasa bahagia sekali waktu itu.\u201d Memang walaupun aku kotor-kotoran aku senang sekali saat mereka memberi kejutan. Walaupun kejutan itu sebenarnya bermaksud lain. Terkadang disaat kita ingin melihat seseorang itu terjatuh. Sesungguhnya saat itulah kita terjatuh.<br \/>\n\u201cTerimakasih untuk semuanya Mbak. Rasanya sangat lucu ketika kita waktu kecil. Masa-masa yang tak akan terlupakan. Berangkat ngaji jam 4 supaya bisa main drama dulu. Drama ikan mas, damar wulan, bawang putih dan bawang merah. Usai mengaji kita main jual-jualan (jual martabak, roti gulung, martabaknya pake sajada yang dilipat). Sekarang jangankan bermain seperti itu mau tidur siang aja kadang ga sempet gara-gara ngerjakan tugas,\u201d curhatku sembari mengingat kenangan masa lalu.<br \/>\n\u201c Ya biasanya ketika ustadzah keluar kita akan bermain super deal, main tebak-tebakan dan main yang lain-lain.\u201d Mbak Indi menyambung ceritaku.<br \/>\n\u201cAduuuhh &#8230; jadi pengen kembali ke masa kecil,\u201d ungkap Mbak Tia sembari berpikir ke masa 12 tahun yang lalu.<br \/>\n\u201cYok kembali ke masa kecil!\u201d ajak Mbak Utin keoada kami.<br \/>\n\u201c Ga mau, karena masa kecil memang indah untuk dikenang tapi tidak untuk diulang,\u201d tolakku.<br \/>\n\u201c Ya bener emang indah untuk dikenang saja,\u201d Mbak Indi menyetujui ucapanku.<br \/>\n\u201cGimana sudah menemukan alur ceritanya mau dibuat bagaimana?\u201d tanya Mbak Tia.<br \/>\n\u201cGa tahu dah mau buat cerita gimana,\u201dkeluhku bingung. Aku sungguh bingung cerita yang bagaimana yang akan aku tulis dan deadline penulisan hanya sampai nanti malam.<br \/>\n\u201cKamu tulis saja cerita masa kecil kita, kan yang penting jadi cerita kan?\u201d Mbak Utin memberikan solusi.<br \/>\n\u201cYa sih Mbak bener kan yang penting  nanti ceritanya selesai ada konfliknya juga. Yang penting harus selesai malam ini,\u201d tekadku bulat. Akan aku selesaikan ceritaku apapun jadinya yang penting harus terkumpul nanti malam.<br \/>\n*****<br \/>\nBionarasi<br \/>\nPerkenalkan nama saya Lailatul Munawaroh bisa dipanggil Ila. Sekarang saya bersekolah di MAN 2 Probolinggo kelas 12. Alamat saya di Dusun Kramat Jati, Desa Selogudig Kulon, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Bisa dihubungi lewat e mail munawarohlailatul920@gmail.com.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diketik, dihapus, diketik, dihapus itu yang sudah kulakukan berulang-ulang. Mulai pukul 18.00 WIB hingga 19.01 tidak ada tulisan di layar laptopku. Sedangkan tulisannya harus dikumpulkan pada jam 24.00 WIB. Tidak ada sinyal-sinyal arah tulisan. \u201cNulis apa kok belum ada tulisannya?\u201d tanya ibu kepadaku. \u201cMau buat cerpen tapi ga tahu mau nulis apa,\u201d jawbaku. Kring &#8230; kring &#8230; Ada panggilan masuk. Kugeser tombol hijau ke atas untuk menjawab telepon. \u201cAi, ayo latihan hadrah!\u201d ajaknya di seberang telepon. \u201cAku sebenarnya sibuk sekarang,\u201d jawabku. Karena memang malam ini aku berniat untuk mengerjakan tugas yang sudah menumpuk seperti cucian. \u201cTemen-temen udah pada kumpul,\u201d ujarnya dengan nada sedikit kecewa dan langsung memutus ppanggilan. Dengan terpaksa aku menutup laptopku. Menyimpannya di dalam lemari lalu berangkat. *** Sesampainya di musholla \u201c Loh kok sudah tidak ada, yang lain pada kemana?\u201d tanyaku penasaran karena di musholla hanya tinggal 3 anak. \u201cAnak-anak udah pada pulang, ada yang mau main game, baca wattpad, nonton live you tube.\u201d Mbak Utin menjawab semua pertanyaanku dengan jelas. Kalau ditanya perasaanku saat itu bagaimana. Jelas, aku sangat marah. Deadline cerpen hanya tinggal menghitung jam dan mereka meneleponku. Setelah sampai mereka pulang. \u201c Ini jadi atau tidak latihannya? Aku sudah usahakan datang kesini, yang lain [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[179],"tags":[211,212,199,91],"class_list":["post-730","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","tag-cerita-pendek","tag-cerpen-remaja","tag-lailatul-munawaroh","tag-man-2-probolinggo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=730"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/730\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}