{"id":3534,"date":"2024-02-02T07:00:56","date_gmt":"2024-02-02T00:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/perpus.man2probolinggo.sch.id\/?p=3534"},"modified":"2025-06-18T09:11:16","modified_gmt":"2025-06-18T02:11:16","slug":"aksi-dalam-senyap-devi-zafarina-salsabilah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/2024\/02\/02\/aksi-dalam-senyap-devi-zafarina-salsabilah\/","title":{"rendered":"Aksi Dalam Senyap ~ Devi Zafarina Salsabilah"},"content":{"rendered":"<p>Di tengah malam yang sunyi, sosok bayangan menyelinap masuk ke sebuah rumah mewah yang berdiri megah di pusat kota. Ruang kerja pribadi pemilik rumah, seorang pria paruh baya, menjadi tujuan utamanya. Pria itu tampak sibuk dengan tumpukan berkas perusahaan miliknya. Namun, tanpa disadari, bahaya telah mengintai&#8230;<\/p>\n<p>Reno, itulah namanya. Seorang pembunuh bayaran kelas kakap yang dikenal dengan nama samaran Twilight. Ia terkenal di kalangan mafia di seluruh Eropa dan Amerika. Kini, ia hidup sendiri di rumah mewahnya, setelah beberapa tahun lalu kehilangan ibunya.<\/p>\n<p>Suatu malam, teleponnya berdering. &#8220;Malam ini juga, kau harus membunuh seseorang, seorang CEO yang menjadi musuh terbesar saya, Brock Albius. Hati-hati, dia berbahaya. Soal bayaran 5M cukup kan. Saya akan mengirim alamat rumah dan kantornya.&#8221; kata suara di ujung telepon. Reno mengenali suara itu, Alzena, mafia terkaya di Eropa.<\/p>\n<p>Tanpa menunggu lama, Reno bergegas menuju alamat yang diberikan Alzena. Beberapa menit kemudian, ia tiba di kediaman Brock Albius. Dengan hati-hati, ia menyelinap masuk ke rumah mewah itu. Meski setiap ruangan dan sudut rumah dijaga ketat, Reno berhasil melewatinya. Namun, pertarungan sebenarnya baru akan dimulai.<\/p>\n<p>Saat Reno memasuki ruangan Brock, ia dikejutkan dengan suasana yang tidak biasa. Di meja yang biasanya penuh dengan berkas, kini terdapat beberapa botol bir. Peralatan pistol dari berbagai ukuran terpajang di ruangan tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Sudah lama tidak ada yang bisa menyelinap masuk dari 180 penjaga di luar,&#8221; kata seseorang sambil bertepuk tangan. Reno terdiam, ini pertama kalinya dia ketahuan. Mungkin kerusuhan di luar yang membuatnya tertangkap.<\/p>\n<p>Pertarungan kata pun dimulai. Reno mengecam Brock karena memimpin perusahaan dengan cara menyogok. Sementara Brock meremehkan Reno yang hanya seorang bayaran. Namun, Reno tidak gentar. Ia menantang Brock, &#8220;Kalau ingin berbicara mengenai harta denganku, sebaiknya lihat dulu siapa dirimu. Kau hanya seorang bayaran dan aku adalah CEO.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Jaga omonganmu,&#8221; ujar Reno tajam, &#8220;Kau pikir dengan harta hasil korupsi bisa meninggikan derajatmu?&#8221; Ia menancapkan sebuah pisau di meja di depannya.<\/p>\n<p>Tanpa memberi Brock kesempatan untuk menjawab, Reno bergerak cepat. Ia berjalan mendekati Brock dan menusuk perutnya. Darah segar mengalir dari mulut Brock, merah dan menggenang di lantai.<\/p>\n<p>&#8220;Jangan samakan psikopat dengan pembunuh bayaran,&#8221; ucap Reno dingin. &#8220;Kami bekerja berdasarkan kepercayaan, bukan nafsu!&#8221; Setelah berkata demikian, Reno meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Brock yang telah tak bernyawa.<\/p>\n<p>=====<\/p>\n<p>Assalamu\u2019alaikum wr. wb. Saya Devi Zafarina Salsabilah, lahir pada tahun 2007. Berasal dari kecamatan Banyuanyar, belakang kantor kepala desa, Banyuanyar Kidul desanya. Motto hidup saya adalah \u201cIngin mencapai sesuatu harus dengan keyakinan, kesabaran, ketabahan, dan niat yang baik. Ingat bahwa ada Allah yang selalu bersama kita.\u201d<br \/>\nSekian terima kasih<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah malam yang sunyi, sosok bayangan menyelinap masuk ke sebuah rumah mewah yang berdiri megah di pusat kota. Ruang kerja pribadi pemilik rumah, seorang pria paruh baya, menjadi tujuan utamanya. Pria itu tampak sibuk dengan tumpukan berkas perusahaan miliknya. Namun, tanpa disadari, bahaya telah mengintai&#8230; Reno, itulah namanya. Seorang pembunuh bayaran kelas kakap yang dikenal dengan nama samaran Twilight. Ia terkenal di kalangan mafia di seluruh Eropa dan Amerika. Kini, ia hidup sendiri di rumah mewahnya, setelah beberapa tahun lalu kehilangan ibunya. Suatu malam, teleponnya berdering. &#8220;Malam ini juga, kau harus membunuh seseorang, seorang CEO yang menjadi musuh terbesar saya, Brock Albius. Hati-hati, dia berbahaya. Soal bayaran 5M cukup kan. Saya akan mengirim alamat rumah dan kantornya.&#8221; kata suara di ujung telepon. Reno mengenali suara itu, Alzena, mafia terkaya di Eropa. Tanpa menunggu lama, Reno bergegas menuju alamat yang diberikan Alzena. Beberapa menit kemudian, ia tiba di kediaman Brock Albius. Dengan hati-hati, ia menyelinap masuk ke rumah mewah itu. Meski setiap ruangan dan sudut rumah dijaga ketat, Reno berhasil melewatinya. Namun, pertarungan sebenarnya baru akan dimulai. Saat Reno memasuki ruangan Brock, ia dikejutkan dengan suasana yang tidak biasa. Di meja yang biasanya penuh dengan berkas, kini terdapat beberapa botol [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":3535,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[179,177],"tags":[1560,1561,1562,1563,1564,1565,1566,1567,1568,1569,1570,279,992,296,1571,1572,1573,91,1574,1497,1575,1576],"class_list":["post-3534","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita","category-jejak-aksara-pena","tag-alzena","tag-amerika","tag-brockalbius","tag-ceritadetektif","tag-ceritafiksi","tag-ceritakriminal","tag-ceritamalam","tag-ceritamisteri","tag-ceritapembunuhan","tag-ceritaseru","tag-ceritathriller","tag-cerpen","tag-devi-zafarina-salsabilah","tag-eropa","tag-konfrontasi","tag-korupsi","tag-mafia","tag-man-2-probolinggo","tag-pembunuhbayaran","tag-psikopat","tag-reno","tag-twilight"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3534","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3534"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3534\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9204,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3534\/revisions\/9204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3534"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3534"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/man2probolinggo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3534"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}