Selasa, 08 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Penunggu Hutan Pucuk (Lailil Magfiroh)

Seorang gadis remaja, dilihat dari belakang, berdiri di tepi hutan yang sangat gelap saat senja. Ia mengarahkan seberkas cahaya senter ke dalam hutan, menampakkan beberapa pohon besar yang tampak tua dan menyeramkan. Suasananya mencekam dan penuh misteri.

Gema azan Magrib merayap di udara Desa Pucuk, menyelinap di antara pepohonan dan menyentuh dinding-dinding rumah. Namun, bagi Rani, suara itu tidak membawa ketenangan, melainkan kecemasan yang dingin dan tajam. Rama, adiknya, belum juga pulang. Halaman rumah yang biasanya ramai dengan tawa mereka kini lengang, sepi, dan terasa diancam oleh bayangan senja yang kian memanjang.

Rasa bersalah mencengkeram ulu hatinya. Seharusnya ia tidak mengizinkan Rama bermain petak umpet hingga sore begini. Seharusnya ia lebih tegas. Kini, setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam, dipenuhi pikiran-pikiran buruk yang berkelebatan—adiknya tersesat, atau sesuatu yang jauh lebih mengerikan telah menemukannya di ambang malam.

Tanpa pikir panjang, Rani menyambar senter dan berlari keluar, membiarkan pintu rumahnya terbuka. Udara terasa lembap dan berat. Ia mendatangi rumah teman-teman bermain Rama, satu per satu. Jawabannya selalu sama: mereka semua sudah pulang sejak sebelum azan.

Di rumah terakhir, Bima, teman terdekat Rama, menemuinya dengan wajah pucat. Ia tidak berani menatap mata Rani.

“Kami semua sudah pulang dari sejam yang lalu, Kak,” katanya lirih, jemarinya meremas-remas ujung kausnya.

“Lalu Rama di mana?” desak Rani, suaranya bergetar menahan panik.

Bima menelan ludah. “Kami… kami tadi masuk ke pinggir hutan. Mencari bunga putih yang kata orang-orang tua bisa menangkal sihir.” Matanya melirik gugup ke arah hutan yang membentang gelap di ujung desa. “Kami tidak menemukannya, dan karena hari mulai gelap, kami putuskan untuk pulang.”

“Dan kalian tinggalkan Rama di sana?”

Bima akhirnya mengangkat wajahnya, sorot matanya penuh penyesalan. “Kami sudah mengajaknya pulang, Kak. Sungguh. Tapi Rama keras kepala, dia bilang sebentar lagi pasti dapat. Dia masuk lebih dalam… sendirian. Kami takut.”

Baca juga:  Ruang Isakan ~ Syafhira Khoirotun Zahra

* * *

Dunia Rani seakan runtuh mendengar kalimat itu. Hutan Pucuk. Hutan terlarang yang selalu menjadi bahan dongeng pengantar tidur paling menakutkan di desa ini. Konon, siapa pun yang masuk ke sana setelah matahari terbenam, apalagi dengan niat mengambil sesuatu, tidak akan pernah kembali dengan jiwa yang utuh.

Dengan jantung yang berdentam-dentam di rusuknya, Rani berlari menuju hutan itu. Perasaan waswas, takut, dan cemas pada nasib adiknya bercampur aduk menjadi satu gumpalan dingin di perutnya. Hanya seberkas cahaya dari senternya yang menjadi satu-satunya teman, menembus kegelapan yang pekat dan seolah hidup.

Setiap langkahnya diiringi gemerisik daun kering yang terdengar seperti bisikan. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya justru membuat hutan terasa semakin sunyi, seolah mereka pun menahan napas. Bau tanah basah dan daun-daun busuk menusuk hidung.

“RAMA! INI KAKAK!” teriaknya, suaranya diserap oleh pepohonan rapat. “RAMA!”

Hening.

Lalu, sebuah suara menyahut dari kejauhan. Bukan suara manusia, melainkan geraman rendah dan dalam yang membuat bulu kuduknya meremang. Rani membeku di tempat. Senter di tangannya bergetar, menyorot ke sana kemari, mencari sumber suara.

* * *

Saat itulah ia melihatnya. Di ujung sorotan senternya, sesosok bayangan hitam legam berdiri. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi jauh lebih tinggi dan besar, dengan lengan-lengan yang tampak terlalu panjang. Bayangan itu tidak diam, melainkan bergerak-gerak gelisah, seolah sedang menari dalam ritme yang ganjil dan mengerikan.

Napas Rani tercekat di tenggorokan. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Mitos itu kembali terngiang: sosok bayangan hitam penunggu hutan. Siapa pun yang diganggunya tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi.

Tangannya yang gemetar hebat tak mampu lagi menahan beban senter. Benda itu jatuh dengan bunyi gedebuk pelan, cahayanya meredup lalu mati. Kegelapan total menelannya bulat-bulat.

Baca juga:  Nanti ~ Yuni Safira Mursyid

Didorong oleh insting purba untuk bertahan hidup, Rani berbalik dan berlari tunggang langgang. Ia tidak tahu ke mana tujuannya. Akar-akar pohon menjegalnya, ranting-ranting mencakar wajah dan lengannya, tetapi ia tidak peduli. Di belakangnya, ia bisa mendengar suara langkah berat yang menyeret, diselingi geraman yang semakin dekat.

Di tengah napasnya yang memburu, matanya menangkap seberkas cahaya redup di antara pepohonan. Sebuah rumah. Kecil, reyot, dan tampak hampir rubuh. Dari jendelanya yang pecah, cahaya lilin yang berkelip remang-remang memanggilnya. Tanpa berpikir, Rani mengubah arah, berlari menuju satu-satunya harapan untuk berlindung.

* * *

Ia menerobos masuk lewat pintu yang sudah tak berdaun, dan segera menyandarkan punggungnya di dinding yang lembap. Jantungnya terasa akan meledak. Ia menyusuri pandangannya ke dalam ruangan yang hanya diterangi satu lilin kecil. Dan di sana, di sudut terjauh, ia melihatnya.

Sesosok anak kecil tengah meringkuk, memeluk lututnya dengan tubuh bergetar hebat.

“Rama…,” bisik Rani nyaris tanpa suara.

Anak itu mengangkat kepalanya yang tertelungkup. Wajahnya basah oleh air mata dan pucat pasi. Ketika melihat Rani, matanya membelalak kaget, lalu ia segera berlari dan memeluk kakaknya erat-erat.

“Kakak!” isaknya, suaranya teredam di baju Rani yang kotor.

Di tengah pelukan mereka yang gemetar, Rama menceritakan segalanya dengan terbata-bata. Tentang bagaimana ia diganggu oleh sosok bayangan hitam raksasa, tentang sorot mata merah menyala yang menatapnya tajam dari kegelapan. Sosok itu terus mengejarnya hingga ia menemukan rumah reyot ini dan bersembunyi.

Rani memeluk adiknya semakin erat, menatap ke arah pintu yang menganga gelap. Geraman itu sudah tidak terdengar lagi. Namun, ia tahu, di luar sana, di balik pekatnya malam Hutan Pucuk, bayangan itu masih menunggu.

Baca juga:  Teman Tidak Harus Setara ~ Syafhira Khoirotun Zahra

* * *

Penulis : Lailil Magfiroh (X.E)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR