Minggu, 06 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Bayangan Di Balik Kemilau (Rasdyanathan Fajri Imam Mubien)

Sekelompok warga desa merayakan festival panen apel dengan penuh kegembiraan di jalan desa yang ramai, dikelilingi keranjang apel dan pohon apel, sementara di kejauhan tampak sosok berjubah hitam dan mata merah menyala di gunung yang memberi kesan bahaya di balik suasana bahagia.

Di Golden Apple Village, bahkan cahaya matahari seolah tunduk pada kekayaan mereka. Sinar mentari sore itu memantul dari ribuan apel emas yang tergantung di setiap pohon, menciptakan kilau menyilaukan yang bisa terlihat dari puncak gunung terjauh. Desa ini hidup dari legenda buahnya, dengan panen tahunan yang membuat mereka menjadi pusat kemewahan dunia. Kemakmuran telah mendarah daging, dan kini, hal itu sedang dirayakan dengan pesta paling meriah. Musik dan tawa berderai, menjadi simfoni kebanggaan yang tak mereka sadari terdengar hingga ke telinga yang salah.

Dari balik bayang-bayang pepohonan di kejauhan, Dariyus sang mata-mata menyipitkan matanya. Setiap denting piala emas dan setiap ledakan tawa sombong terekam jelas dalam benaknya. Misinya selesai. Ia berbalik dan menghilang ke dalam hutan, bergerak secepat bayangan menuju markas tuannya.

Di laboratorium yang dingin di puncak gunung, Dr. Theodore menatap pantulan cahaya keemasan desa dari layar monitor. Wajahnya tidak menunjukkan kekaguman, melainkan rasa muak.

“Lihat kilau yang memuakkan itu,” desisnya ketika Dariyus masuk dan memberi hormat.

“ Para warga sedang foya-foya menikmati kekayaan mereka. Laporan selesai, Bos,” ujar Dariyus.

Dr. Theodore tersenyum sinis. Senyum yang lebih tajam dari pisau bedah mana pun. “Sempurna. Arogansi adalah penyakit, dan kita adalah obatnya. Panggil yang lain. Kasky, Executive, Dr. Geno, dan Mr. Black. Sudah waktunya kita memanen apa yang tidak mereka hargai.”

“Siap, Bos!” sahut Dariyus, lalu bergegas pergi.

Keriaan di lembah mendadak pecah ketika seorang pedagang keliling terseok-seok memasuki alun-alun desa, wajahnya pucat seperti mayat. Ia membawa sebuah pesan—secarik pamflet yang dilemparkan oleh sosok misterius di perbatasan hutan, bergambar simbol tengkorak milik Dr. Theodore.

Baca juga:  Pengintai Teman Bermain (Halimatus Safaroh)

Pak Tursy, sang kepala desa, membaca ancaman itu dengan tangan bergetar. Ia segera membunyikan lonceng, mengumpulkan warganya yang masih setengah mabuk oleh pesta. Namun, ketika peringatan itu disampaikannya, yang terdengar sebagai balasan adalah gelombang tawa yang lebih keras dari sebelumnya.

“Dr. Theodore?” seorang pria bertubuh besar terbahak, piala emas di tangannya ikut berguncang. “Si jenius gagal yang bersembunyi di gunung itu? Jumlah kita di sini hampir sepuluh juta orang! Tepatnya 9.750.342 jiwa! Kirim saja satu orang dari kita, markasnya pasti sudah hancur!”

Sorak sorai membahana, meremehkan ancaman itu.

“Jangan biarkan kesombongan membutakan kita!” seru Pak Tursy, suaranya nyaris tenggelam. “Kekayaan kita tidak akan bisa menghentikan pedang mereka! Dr. Theodore didampingi oleh para penjahat paling berbahaya di dunia!”

“Biarkan saja mereka datang!” teriak seorang wanita kaya dari atas balkon. “Kita akan membeli pasukan bayaran termahal! Mereka akan pulang membawa debu dan penyesalan!”

Pak Tursy menatap wajah-wajah warganya yang bersinar karena pantulan emas dan keangkuhan. Ia tahu, kata-katanya tak akan pernah bisa menembus benteng kesombongan yang telah mereka bangun begitu tinggi.

Dari puncak gunung, Dr. Theodore mengamati semua itu melalui teleskopnya. Ia bisa melihat Pak Tursy yang berusaha bicara dan tawa warganya yang angkuh.

“Jadi, Bos, kapan kita serang? Aku sudah tidak sabar menghajar wajah-wajah sombong itu!” geram Executive, tangannya sudah gatal ingin menghunus pedang.

“Sabar, Executive. Kemarahan adalah senjata orang bodoh,” balas Dr. Theodore dengan tenang. Ia menoleh pada timnya yang telah berkumpul. “Mereka ingin membuktikan kehebatannya. Baiklah, kita beri mereka kesempatan. Kita tunggu satu minggu.”

“Satu minggu?” tanya Kasky, bingung. “Untuk apa?”

Baca juga:  Jurang Cinta (Lesti Abelia)

“Untuk membiarkan arogansi mereka membusuk dari dalam,” jelas Dr. Theodore. “Biarkan mereka percaya bahwa kita takut. Lalu, tepat di malam ketujuh, saat mereka paling lengah, kita akan datang. Kita tidak akan mengetuk pintu, kita akan merobohkan seluruh rumahnya.”

Dr. Geno, sang ilmuwan, tampak ragu. “Tapi jumlah mereka, Bos…”

“Jumlah tidak ada artinya melawan teror,” potong Dr. Theodore. “Dan aku sudah menyiapkan teror terbesarku.” Ia menunjuk sebuah sel raksasa di sudut laboratorium. Di dalamnya, sesosok makhluk besar meringkuk dalam bayang-bayang. “Hasil eksperimen terakhirku. Ramuan ‘Infected’ telah mengubah seorang bandit biasa menjadi Titan Terinfeksi. Raksasa buas yang hanya mengenal satu perintah: hancurkan.”

Mata para penjahat itu berbinar menatap makhluk mengerikan di dalam sel. Kemenangan sudah pasti menjadi milik mereka.

Satu minggu berlalu persis seperti yang Dr. Theodore ramalkan. Golden Apple Village melanjutkan pesta mereka, lebih megah dari sebelumnya, untuk menunjukkan bahwa mereka tidak takut. Tawa mereka setiap malam terbawa angin hingga ke puncak gunung, menjadi musik pengantar bagi para penjahat yang dengan sabar menunggu.

Tibalah malam ketujuh, saat lonceng desa berdentang dua belas kali, menandakan tengah malam, suara lain yang lebih mengerikan membalasnya. Sebuah auman yang menggetarkan tanah menggema dari arah hutan. Gerbang desa yang kokoh hancur berkeping-keping dalam satu hantaman. Di bawah cahaya bulan, sesosok bayangan raksasa muncul—Titan Terinfeksi.

Kepanikan meledak. Para warga yang tertidur diseret dari mimpi indah mereka ke dalam mimpi buruk yang nyata. Senjata-senjata mahal dan baju zirah berkilauan milik pasukan desa tak ada artinya di hadapan amukan sang Titan. Di tengah kekacauan itu, Dr. Theodore dan timnya menyusup masuk, bergerak lincah seperti hantu, melumpuhkan setiap perlawanan dengan presisi mematikan.

Baca juga:  Mengulang Kembali Yang Ke-17 Kalinya, Selamat! 🎂 (Salwa Nurul Asyifa)

Simfoni kebanggaan desa telah berubah menjadi jeritan pilu. Itu bukanlah perang, itu adalah eksekusi.

Saat fajar pertama menyingsing, cahayanya yang keemasan kini tampak pucat. Ia tidak lagi menyinari desa yang makmur, melainkan lautan puing dan asap. Dari hampir sepuluh juta penduduk, hanya segelintir yang tersisa, gemetar di antara reruntuhan. Pak Tursy berdiri dengan tatapan kosong, bendera putih di tangannya.

Dr. Theodore berdiri di hadapannya, menginjak sebuah apel emas yang terguling di tanah hingga remuk.

“Kalian punya segalanya,” katanya dengan dingin. “Dan karena itu, sekarang kalian tidak punya apa-apa.”

Para warga yang selamat hanya bisa menunduk dalam diam. Akhirnya mereka sadar. Arogansi mereka telah membangun menara emas yang begitu tinggi, hanya untuk membuatnya lebih mudah runtuh saat dihantam dari bawah. Di lembah yang dulu penuh tawa kemenangan, kini hanya ada keheningan dari sebuah penyesalan yang abadi.

*****

Penulis : Rasdyanathan Fajri Imam Mubien (X.F)

Post Terkait

1 Komentar

Nizar, Minggu, 31 Agu 2025

Masya Allah, menyala adik tingkat ku

Reply

KELUAR