Ayah tersayang,
Di tengah gemuruh dunia yang semakin riuh, aku menemukan diriku terdampar di tepian sunyi. Dunia ini, Ayah, semakin hari terasa semakin asing dan kejam. Seolah ada tembok tak kasat mata yang membatasi setiap gerak dan nafasku. Aku merindukan masa kecilku yang penuh warna, saat pelukan Ayah dan Mama masih menjadi benteng terkuat melawan segala ketakutan.
Namun kini, saat usia mulai menggerogoti kepolosanku, dunia seakan berubah menjadi labirin tanpa ujung. Apakah ini karena aku tak lagi merasakan hangatnya belaian kasih sayang kalian? Ataukah karena jerat pertemanan dan cinta pertama yang mulai mengikat kakiku? Atau mungkin karena realita kehidupan yang mulai menampakkan taringnya?
Ayah, kadang aku merasa begitu lelah. Hidup tanpa sentuhan lembut dan kata-kata penyemangat dari Ayah dan Mama terasa begitu menyakitkan. Seperti bunga yang layu karena kehausan, jiwaku merindukan siraman kasih yang dulu begitu berlimpah.
Mungkin Ayah masih ingat, dulu Kakak sering menyebutku cengeng. Ya, aku memang sering menangis. Tapi saat itu, Ayah dan Mama selalu ada untuk menghapus air mataku, bukan dengan amarah, melainkan dengan pelukan hangat dan bisikan pengertian. Kini, aku bertanya-tanya, apakah Ayah dan Mama telah kecewa dengan sikapku? Apakah karena aku belum mampu membuat kalian bangga?
Tapi Ayah, apa yang bisa kulakukan? Terkadang aku merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Kesehatanku yang tidak sempurna seringkali membuatku merasa tertinggal. Aku bukan seperti mereka yang dianugerahi kecerdasan luar biasa. Aku sadar, mungkin di mata kalian aku hanyalah anak nakal yang selalu salah.
Namun sesungguhnya, Ayah, aku hanyalah seorang anak yang haus akan kasih sayang dan pengakuan. Dulu, aku selalu berusaha memberi pujian dan membanggakan kalian. Tapi karena tak pernah mendapat balasan yang kuharapkan, aku memutuskan untuk berhenti. Aku lelah, Ayah. Aku ingin beristirahat dari perasaan ini.
Terkadang, pikiran gelap menghampiriku. Jika kehadiranku tak berarti dalam hidup kalian, mengapa aku dilahirkan? Aku bahkan tak pernah meminta untuk hadir di dunia ini. Namun di sisi lain, aku tahu bahwa hidup ini adalah anugerah yang harus kujaga.
Ayah, mungkin surat ini terdengar seperti rengekan seorang remaja labil. Tapi percayalah, ini adalah curahan hati terdalam dari anakmu yang sedang berjuang menemukan jati diri. Aku hanya ingin Ayah tahu bahwa di balik sikap memberontakku, ada kerinduan yang mendalam akan kasih sayang dan pengertian.
Aku berharap, suatu hari nanti, kita bisa duduk bersama, berbincang dari hati ke hati, tanpa judgement, tanpa amarah. Hanya ada cinta dan pengertian. Karena bagaimanapun juga, Ayah akan selalu menjadi pahlawan dalam hidupku.
*****
Saya Devi Zafarina Salsabilah, lahir pada tahun 2007. Berasal dari kecamatan Banyuanyar, belakang kantor kepala desa, Banyuanyar Kidul desanya. Motto hidup saya adalah “Ingin mencapai sesuatu harus dengan keyakinan, kesabaran, ketabahan, dan niat yang baik. Ingat bahwa ada Allah yang selalu bersama kita.” Sekian terima kasih
Komentar Terbaru