Waktu berlari, meninggalkan jejak,
Bulan-bulan berganti, bagai mimpi yang sekilas.
Namun lara ini, oh, betapa keras kepala,
Bersemayam abadi di relung jiwa yang gersang.
Angin kini berhembus dengan bisikan baru,
Menyapu lembut kulit yang terluka dan rapuh.
Dinginnya menyengat, menusuk hingga ke tulang,
Seolah mengejek luka yang tak kunjung sembuh.
Malam yang kelam, dahulu penuh kedamaian,
Kini hanya menertawakan hati yang merana.
Kegelapannya tak lagi menjadi selimut penghibur,
Malah mempertegas kesendirian yang mencekam.
Warna-warni cinta yang dulu begitu memukau,
Kini memudar, bagai lukisan tua yang terlupakan.
Kisah indah yang pernah terukir dengan tinta hitam,
Luntur oleh air mata yang tak henti mengalir.
Inilah senjakala tahun yang penuh kepiluan,
Di mana kenangan dan harapan saling beradu.
Namun ingatlah, wahai jiwa muda yang gelisah,
Bahwa fajar baru selalu menanti di ufuk timur.
*****
Halo, aku Abelia. Jika kamu merasa galau, tulisanku siap menjadi temanmu. Jangan lupa mengikuti akun Instagramku di @liya.abelia. Sampai jumpa lagi di tulisan-tulisan selanjutnya yang siap menemani kegalauanmu.
Komentar Terbaru