Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Istirahatlah Pahlawanku (Lusiana Syafitri)

9 April 2022, duniaku runtuh. Ayah pergi, meninggalkan kami dalam kehampaan yang menyesakkan. Ibu, wanita perkasa yang selama ini berjuang bersama ayah, kini terluka begitu dalam. Bayangan akan perjuangan mereka berdua masih terpahat jelas dalam ingatanku.

Ayah, sosok pekerja keras yang rela mengorbankan waktu istirahatnya demi menghidupi keluarga. Tanpa menghiraukan lelah yang merayap, beliau terus berjuang. Namun, takdir berkata lain. Penyakit ganas menggerogoti tubuhnya, memaksa ayah untuk beristirahat. Tapi jiwa pejuangnya tak pernah padam. Meski dokter melarang, ayah tetap memaksakan diri bekerja, hingga akhirnya tubuhnya menyerah.

Saat ayah terbaring di rumah sakit, ibu mengambil alih peran. Pagi hingga sore ia bergelut dengan kerasnya kehidupan, pulang dengan wajah lelah namun tetap tersenyum. Hatiku remuk melihatnya. Aku, masih seorang pelajar, hanya bisa memanjatkan doa di setiap sujudku.

Dua minggu berlalu, ayah diizinkan pulang. Namun, bukan kebahagiaan yang menyambut kami. Ayah terbaring tak berdaya, bahkan untuk meneguk air pun butuh bantuan. Dadaku sesak menyaksikan sosok pahlawanku yang kini begitu rapuh.

Hingga tibalah hari itu. Kami semua berkumpul, menemani ayah di detik-detik terakhirnya. Tangannya yang dingin kugenggam erat, kucium penuh kasih. Air mata tak henti mengalir, membasahi wajahku yang pucat. Pukul 12.05, ayah menghembuskan napas terakhirnya. Ruangan dipenuhi isak tangis, termasuk ibuku yang kini terkulai lemah.

Keesokan harinya, pemakaman ayah dilaksanakan. Dengan tangan bergetar, aku ikut memandikan jasadnya. Setiap tetes air yang membasuh tubuhnya seolah membawa pergi sebagian jiwaku. Kucium kening ayah yang terbungkus kain kafan, mencoba mengikhlaskan kepergiannya meski hatiku memberontak.

Di masjid, jenazah ayah dishalatkan. Aku terisak dalam pelukan kakak, yang juga berusaha tegar meski hatinya sama hancurnya. Saat jasad ayah diturunkan ke liang lahat, rasanya separuh hidupku ikut terkubur bersamanya.

Baca juga:  Berproses Sebelum Sukses ~ Amelia Hasanah

Kembali ke rumah, aku mengurung diri di kamar. Meratapi kehilangan yang begitu menyakitkan. Namun, di tengah keputusasaan, kuingat pesan ayah: tetap semangat mengejar cita-cita, jadilah wanita yang kuat dan mandiri.

Ayah, kini ku mengerti arti perjuanganmu. Setiap tetes keringat dan air matamu akan kujadikan api semangat. Namamu akan selalu terukir dalam sanubari, kenanganmu menjadi tinta emas yang mengisi lembaran-lembaran hidupku. Istirahatlah dengan tenang, Pahlawanku. Cintaku padamu abadi, melampaui batas ruang dan waktu.

*****

Perkenalkan, saya Lusiana Syafitri, kelahiran 2007 yang berasal dari desa Karangpranti. Meskipun masih berusia belia, saya memiliki semangat yang membara untuk terus berkarya dan mengejar impian. Motto hidup yang selalu menjadi penyemangat saya adalah “Sebuah proses pasti penuh air mata, tapi di ujung cerita ada cita-cita yang sedang menanti.” Kalimat ini menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan memang tak mudah, namun hasil manis akan menanti mereka yang pantang menyerah.

Post Terkait

1 Komentar

Samsudi, Selasa, 27 Agu 2024

Semoga almarhum tenang di alam sana, anak-anak yang ditinggalkan semoga selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu membanggakan almarhum.

Reply

KELUAR