Minggu, 06 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Melawan Trauma (Dian Zahrotus Sita)

Menyerah? Oh, tentu tidak.
Lelah sejenak belum berarti menyerah,
Mengeluh bukan tanda kekalahan.

Ketika masa lalu terulang,
Rasa sakit kembali menghantam,
Trauma menjadi pemilik segala keluhan.
Tangisan menjadi puncak penyesalan,
Melahirkan kepedihan yang mendalam.

Andai dulu kisah itu tak pernah ada,
Mungkin malam ini masih menjadi sumber kekuatan esok.
Ikhlas bukan berarti telah usai,
Namun rasa sakit itu akan abadi.

Bukan enggan memaafkan,
Tapi raga telah terluka oleh paksaan.
Tersenyum, menjadi badut bagi semua,
Simbol tertutupnya luka lama yang tertanam.

Tertawa di keramaian bukan tanda bahagia di hadapan Tuhan,
Menangis di tengah malam menjadi obat pembiasaan.
Tak ada yang mendengar kecuali Yang Maha Mendengar,
Bercerita dalam sujud panjang,
Menadah tangan untuk selalu dilapangkan.

*****

Dian Zahrotus Sita, yang kerap dipanggil Sita, adalah seorang siswa madrasah aliyah yang masih berusia belasan tahun. Meskipun masih muda, ia tidak merasa malu untuk berkarya di dunia luar. Sita bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Islam dengan beasiswa, yang menjadi pendorong baginya untuk selalu berkarya. Lewat karya tulisnya, ia bersemangat untuk memotivasi banyak orang bahwa meraih pendidikan tinggi tidak harus selalu dengan uang.

Baca juga:  Menyala bersama suasana ~ Syafhira Khoirotun Zahra

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR