Langkah kaki Nizam bergema perlahan menuju teras rumah. Ia melepas sepatu dan kaos kaki yang berbau tidak sedap, lalu meletakkannya sembarangan. Pintu coklat tua terbuka, memunculkan sosok Ummi Hanna di baliknya. Nizam, yang baru pulang sekolah, segera menyambut Ummi dengan bersalaman.
Namun, Ummi Hanna memandangi sepatu dan kaos kaki Nizam yang berserakan. Dengan tegas, ia memanggil Nizam yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa kali dipanggil, Nizam akhirnya keluar dengan wajah memelas, tangan terayun-ayun, dan tubuh yang tampak lemas.
“Ada apa, Mik?” tanya Nizam, berusaha menutupi raut wajahnya.
“Memangnya bagus sepatu diletakkan begini, Zam? Ummi sudah berkali-kali bilang, sepatu itu tempatnya di rak sepatu,” ujar Ummi Hanna dengan nada tegas, tanpa ada candaan seperti biasanya.
Nizam langsung mengambil sepatu dan kaos kaki yang berserakan, merasa kaget dengan ekspresi datar Ummi yang tidak biasa. Nizam adalah anak pertama Ummi Hanna dan Abi Fikih, sementara adiknya, Fatimah, masih berusia 3 tahun. Terkadang, Nizam sering membuat Fatimah menangis jika tak ada yang menjaganya. Meskipun sering nakal, Nizam bukan anak yang sulit menerima nasihat.
Setelah membereskan sepatu dan kaos kaki, Nizam kembali masuk ke dalam rumah. Ada hal penting yang harus ia lakukan, yaitu makan. Setelah makan, Nizam tertidur di ruang tamu, hingga terlewat waktu shalat berjamaah di surau.
Nizam, yang duduk di bangku kelas 6 SD, biasanya pulang sekolah pukul 12 siang, setelah shalat berjamaah di sekolahnya. Berjamaah ashar di surau merupakan kegiatan keseharian yang ia sukai, karena dapat mendengarkan ustadz bercerita tentang sejarah Islam. Biasanya, setelah ashar, Nizam pergi ke surau bersama teman-temannya hingga pukul 4 sore, hanya untuk melakukan shalat berjamaah dan mendengarkan beberapa pelajaran sejarah. Setelah maghrib, mereka kembali ke surau untuk mengaji bersama.
Sore itu, Toni duduk bersila, meniru teman-temannya, di surau, bersamaan dengan ustadz. Kali ini, cerita yang disampaikan adalah tentang Nabi pertama dalam Islam, yaitu Nabi Adam.
“Ada yang tahu siapa nabi pertama yang diciptakan?” tanya ustadz, mencari pembuka untuk memulai cerita.
“Nabi Adam, ustadz?” jawab Toni, mengangkat tangannya.
Ustadz Abdul mengangguk dan segera membuka cerita.
“Allah SWT adalah Tuhan semesta alam, Dia yang menciptakan seluruh jagat raya beserta isinya. Nabi Adam AS adalah nabi pertama sekaligus dijuluki sebagai bapak dari manusia. Nabi Adam AS diciptakan melalui tanah, sebagaimana tertera dalam Quran Surah Shad ayat 71 yang berbunyi, ‘(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”‘”
Nabi Adam tinggal di surga dan diberikan berbagai nikmat lainnya. Saat itu, malaikat dan iblis diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, namun bukan sujud ibadah atau penyembahan. Malaikat pun bersujud, tetapi tidak dengan iblis yang berperilaku takabur, yaitu merasa sombong, yang merupakan sifat tercela dan tidak disukai Allah SWT.
Ketika iblis menolak dan membangkang perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, Allah SWT mengeluarkannya dari surga dan menempatkannya di dalam neraka. Namun, iblis tidak menyesali perbuatannya, malah semakin dendam kepada Adam dan meminta perpanjangan waktu kepada Allah untuk menggoda keturunan Adam agar menjadi pengikutnya dan masuk ke dalam neraka.
Nabi Adam diciptakan oleh kekuasaan Allah, diperkirakan memiliki tinggi badan mencapai 60 hasta atau sekitar 18 meter, serta umur yang panjang, sekitar 1000 tahun. Di dalam surganya, Nabi Adam AS merasa kesepian, sehingga Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam ketika sedang tidur.
Saat Nabi Adam dan Siti Hawa berjalan di surga, mereka didatangi iblis. Iblis tahu larangan Allah terhadap Adam dan Hawa tentang buah khuldi yang tidak boleh mereka makan. Iblis melontarkan berbagai cara, bahkan mengatakan keistimewaan buah khuldi, hingga akhirnya Adam dan Hawa terhasut oleh bisikan iblis.
Ketika Adam dan Hawa memakan buah khuldi, Allah SWT menghukum mereka dan menurunkan keduanya ke bumi dengan tempat yang berbeda, sehingga mereka berpisah. Nabi Adam diturunkan di puncak Bukit Sri di daerah Sri Lanka, sedangkan Hawa diturunkan di daerah Arab. Di bumi, Adam dan Hawa belajar banyak hal dan tetap dengan pertolongan Allah, meski tanpa kenikmatan surga.
Oleh karena itu, manusia lainnya turut hadir di bumi, yang menjadi tempat berbagai macam kebaikan dan keburukan, nafsu dan iman, kejahatan dan kebaikan.
Ustadz Abdul menarik napas, menghembuskannya perlahan, sambil mengeluarkan senyuman kepada para bocah yang antusias mendengarkan cerita di surau.
Ustadz Abdul sering bercerita tentang keislaman, memberikan dakwah kecil-kecilan kepada anak-anak yang sedang berkumpul di surau, dengan menyampaikan bagian-bagian kecil yang ia rangkum agar mudah dipahami oleh anak-anak sekolah dasar.
Nizam membuka matanya, berkedip-kedip melihat jam dinding. Ia sontak bangun dari sofa di ruang tamu, tidak percaya. Setelah menggosok-gosok matanya berkali-kali, ia melihat jarum jam menunjukkan pukul 4 sore. Nizam segera menemui Ummi Hanna, yang ternyata lupa dan tidak tahu bahwa Nizam masih tertidur di ruang tamu.
Tak lama kemudian, Nizam bertemu dengan Toni di teras rumah, setelah mandi sore. Toni menceritakan betapa seru cerita ustadz tentang Nabi Adam hari ini, membuat Nizam semakin sedih karena melewatkan kesempatan mengaji sore ini.
Ketukan terdengar dari pintu depan, Abi Fikih pulang dari pekerjaannya. Nizam menyodorkan tangannya, meminta tangan Abi untuk bersalaman, sambil meminta Abi untuk menceritakan cerita sejarah nabi seperti yang disampaikan Ustadz Abdul di surau.
*****
Panca Putri Aisyah Nurul Jannah, lahir 08 Agustus 2007 dan bercita-cita menjadi Kowad. Memiliki hobi berpetualangan, membaca, dan menggambar. Ia merupakan alumni MI Izzatul Muta’allimin, MTSN 2 Probolinggo, dan kini tercatat sebagai siswi di MAN 2 Probolinggo. Kabar tentangnya bisa diikuti lewat IG @czxq._
Komentar Terbaru