Hari itu cerah, sinar matahari menaburkan kehangatan. Sambil bercermin, aku mencoba tersenyum. Penampilanku tampak sempurna. Aku yakin anak-anak akan terkesan dengan guru baru mereka. Aku mengambil tas dan memastikan semuanya sudah siap. Hari ini, aku akan berangkat menuju sekolah SMP 3 Jaya Baya, tempat aku ditugaskan setelah merayakan kenaikan pangkat menjadi PNS.
Mengendarai mobil putih kecil pemberian tanteku, aku tiba di sekolah beberapa menit kemudian. Sambutan hangat dari guru-guru membuatku merasa nyaman. Lingkungan sekolah tampak bersih dan terawat, dan aku yakin siswa-siswanya pasti baik-baik saja.
Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu untuk memulai pelajaran. Hari ini, aku akan mengajar di kelas IX C. Meski mengajar siswa yang sudah senior di sekolah bisa jadi tantangan, aku siap menghadapinya.
Aku berjalan menuju kelas dengan tas tergantung di bahu. Kelasnya mudah ditemukan, berada tepat di seberang ruang guru. Saat membuka pintu kelas, aku disambut oleh wajah-wajah penasaran siswa. Aku menyapa mereka dengan semangat, “Selamat pagi semua!” Mereka tampak terkejut, tetapi segera membalas sapaanku.
“Kalian pasti kaget ya, punya guru Bahasa Indonesia baru?” tanyaku dengan ramah. Mereka mengangguk.
“Nah, untuk hari ini, kita akan berkenalan dahulu. Perkenalkan, nama saya Riyadi Surwoto. Kalian bisa memanggil saya Pak Riyadi atau Pak Adi. Coba ulangi!”
“Pak Riyadi!” seru mereka serempak. Aku tersenyum, merasa puas dengan nama baruku.
“Bagaimana liburan semester kalian dua minggu lalu? Pasti menyenangkan kan?” Aku tertawa. “Untuk materi hari ini, kita akan membuat karangan tentang liburan kalian. Ingat, selalu perhatikan penggunaan tanda baca ya! Kalian pasti sudah diajari oleh guru sebelumnya.”
Mereka mengangguk tanda setuju. Kemudian, aku bercerita sedikit tentang pengalamanku saat kuliah. Seluruh kelas tertawa mendengar ceritaku. Namun, dari sudut mataku, aku melihat seorang anak laki-laki dengan rambut berantakan yang tampak tidak tertawa. Siapakah dia?
Aku memberikan waktu lima belas menit untuk mengerjakan karangan. Sementara itu, aku mencoba menghapal foto dan nama siswa di kelas ini. Ahmad Syarifudin, begitu namanya. Dan astaga, nilai-nilainya merah semua!
Setelah lima belas menit, mereka mengumpulkan karangan mereka. Aku membebaskan kelas dan mereka tampak sangat senang. “Ahmad!” panggilku. Ahmad tampak terkejut, tetapi akhirnya maju ke mejaku.
“Kenapa, Pak?” tanyanya.
“Bisa kamu tunjukkan di mana ruang tata usaha?”
Tanpa bertanya lagi, dia mengangguk dan kami berjalan berdampingan. “Tadi kenapa kamu tidak mengerjakan karangan?” tanyaku.
Ahmad tampak salah tingkah. “Ah, eh, itu Pak, saya tidak mengerti.”
“Kalau kamu tidak mengerti, tanyakan saja pada saya atau temanmu, jangan sungkan.”
“I-iya, Pak.”
Kami tiba di depan ruang tata usaha. Aku meminta Ahmad duduk di kursi depan. Awalnya dia menolak, tetapi akhirnya aku berhasil membujuknya.
“Jadi, apa masalahmu?” tanyaku.
“Eh, masalah apa ya Pak?”
“Kamu tampak diam saja di kelas… Apa ada masalah? Ceritakan saja, jangan sungkan.”
Ahmad tampak ragu, tetapi akhirnya dia membuka suara, “Itu … Pak. Saya kurang akrab dengan teman-teman. Mereka … menjauhi saya karena, saya … bodoh.” Ahmad menunduk sedih.
Jadi itu masalahnya. Pantas saja. Aku pernah menjadi murid, jadi aku tahu bagaimana rasanya. Aku menepuk bahunya. “Ahmad, kamu tidak bodoh, kok. Saya yakin. Mereka saja yang tidak mengenalmu. Jadi, kamu tidak harus sungkan bertanya.”
Dia masih menunduk. “Tapi, Pak. Tetap saja.” Aku merasa bingung, tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Ahmad, coba tatap saya.” Ahmad mengangkat kepalanya dan menatapku. Matanya tampak basah.
“Nak, ingatlah perkataan ini. Dunia itu kejam, yang perlu kamu lakukan untuk menghadapinya adalah dengan tidak menyerah. Jangan menyerah. Saya tahu bagaimana rasanya diabaikan, tetapi, Nak, setidaknya usaha kita harus tetap berjalan. Bukan untuk mereka, melainkan untuk dirimu sendiri.”
Air mata Ahmad jatuh. Saya mengusap bahunya lagi. “Ahmad, kamu harus lebih percaya diri. Kamu adalah anak yang hebat. Jangan pedulikan omongan mereka. Teruslah melangkah maju demi impianmu. Nah, apa impianmu, Ahmad?”
Dia mengusap matanya. “Ja-jadi pemain bola profesional.”
“Bagus! Cita-cita yang hebat! Jadi raihlah!” Saya tersenyum. Ahmad pun ikut tersenyum.
Sejak saat itu, saya berhasil membuat Ahmad berubah. Dan, tentunya, pekerjaan menjadi guru di sini sangat menyenangkan.
=====
Perkenalkan, nama saya Nizar Rizky Maulana, atau biasa dipanggil Nizar. Saat ini, saya berusia 15 tahun dan sedang menempuh pendidikan di MAN 2 Probolinggo. Saya memiliki hobi membaca dan menulis tentang hal-hal yang menurut saya menarik. Salah satu minat saya adalah mempelajari ilmu tentang bintang dan keangkasaan. Seperti kata pepatah, “Pendidikan memang memiliki akar pahit, tapi buahnya terasa manis.” Itulah yang selalu saya pegang teguh dalam mengejar impian saya.
Komentar Terbaru