Setiap malam, sebelum tidur, air mata selalu mengalir membasahi pipiku. Dadaku terasa sesak, dipenuhi oleh kenangan-kenangan bersama seorang pahlawan dalam hidupku, ayahku. Kenangan yang begitu indah, hingga tak mampu kulupakan. Senyuman tulus yang menghiasi bibir ayah, suara tawanya yang selalu membuat hatiku ikut merasa bahagia.
Ayah dan ibu, kalian adalah dua orang yang paling aku cintai di dunia ini. Kalian adalah malaikat dan penyemangat dalam hidupku. Namun, ketika ayah pergi meninggalkanku selamanya, hidupku seakan kehilangan makna, aku merasa telah kehilangan arah.
Rasa sakit menghujam dadaku saat menyaksikan kepergian ayah. Jika ayah pergi, siapa lagi yang akan membimbingku? Siapa lagi yang akan mendengarkan keluh kesahku? Sebagai anak perempuan, aku masih sangat membutuhkan sosok ayah dalam hidupku. Aku masih membutuhkan bimbingan dan perhatian ayah.
Setiap hari, saat berangkat sekolah, aku selalu merasa iri melihat teman-temanku yang diantar oleh ayah mereka. Betapa aku ingin sekali diantar ayah ke sekolah. Namun, takdir berkata lain, takdir tidak mengizinkan ayah untuk bersamaku selamanya di dunia ini.
Mungkin, sudah saatnya aku mengikhlaskan kepergianmu, ayah. Meski berat rasanya untuk menerima kenyataan ini, aku yakin ayah masih bersamaku, di dalam hatiku. Aku yakin, dari sana, ayah masih melihatku.
Putrimu di sini akan selalu mendoakanmu, ayah. Dan aku meminta doa ayah, doakanlah putrimu ini agar menjadi anak yang sukses di dunia dan akhirat. Meski ayah sudah tidak berada di sampingku lagi, aku yakin di sana ayah pasti selalu mendukungku dan mendoakan yang terbaik untukku.
Selamat jalan, ayahku tercinta. Aku mencintaimu, ayah. Aku sangat mencintaimu.
=====
Perkenalkan, saya Lusiana Syafitri, lahir pada 2007. Berasal dari kampung sebelah, di depan Basmalah, Karangpranti nama desanya. Saya memiliki motto hidup yang menginspirasi saya untuk terus berjuang dan berkarya, yaitu “Sebuah proses pasti penuh air mata, tapi di ujung cerita ada cita-cita yang sedang menanti.” Terimakasih.
Komentar Terbaru