Cemburu, sebuah emosi yang bisa disebut sebagai iri hati dan dengki. Namun, dalam konteks hubungan, cemburu adalah reaksi yang muncul ketika hubungan romantis terancam oleh pihak ketiga, baik ancaman itu berdasarkan dugaan maupun fakta.
“Chika!” panggil salah satu temannya. Chika adalah gadis remaja berkulit putih dan hidung mancung yang cantik. Saat ini, dia masih bersekolah di sekolah menengah pertama.
“Apa, Ran?” jawab Chika. Rani adalah nama sahabatnya. Di sekolah, mereka selalu bersama.
Rani berlari menuju Chika. “Chika, hari ini siapa yang menjemputmu?” tanya Rani. Mereka berdua sedang berada di sekolah.
“Tidak ada, kedua orang tuaku sibuk semua. Jadi, nanti aku naik angkot saja,” jawab Chika.
“Gimana kalau kamu pulang bersama aku saja? Kebetulan nanti ayahku menjemput dengan mobil,” ajak Rani.
“Tapi… aku malu, Ran. Aku merasa tidak enak sendiri dengan ayahmu,” jawab Chika dengan ragu.
“Lho, kenapa? Anggap saja aku adikmu dan ayahku adalah ayahmu,” ucap Rani dengan senyuman di bibirnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku ikut kamu, Ran,” jawab Chika.
Mereka berjalan bersama sembari bergandengan tangan menuju gerbang sekolah. Sesampai di depan gerbang, terlihat seorang lelaki yang tampan dengan postur tubuh yang tegap, rambut ikal, dan mata yang indah, yang mampu menarik perhatian wanita.
Rani mengarahkan pandangannya ke lelaki itu. Sedangkan Chika hanya menunduk dan diam. Dia bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta pada laki-laki. Dia sangat menjaga pandangannya.
Chika, yang melihat Rani tercengang seperti itu, menegurnya. “Astagfirullah, Ran. Kamu jangan terlalu memandangnya seperti itu. Kita harus menjaga pandangan kita,” ucap Chika sembari menutup matanya.
“Ya Allah, maaf, Cika. Aku khilaf, tapi aku penasaran dengan laki-laki itu,” jawab Rani.
“Dia teman sekelasku, Ran. Namanya Reyhan,” jawab Chika. Ternyata laki-laki itu adalah teman sekelas Chika. Rani dan Chika memang seangkatan, sama-sama kelas sepuluh A.
Chika yang asik berbincang sambil berjalan menuju kelas, tak sadar bel masuk sudah berbunyi. Mereka berdua pun berlari menuju kelasnya untuk meletakkan tas mereka.
Di sekolahnya, ada kebiasaan melakukan sholat dhuhur pada jam 12.30. Semua siswa diharapkan wajib mengikuti sholat dhuha berjamaah, kecuali perempuan yang sedang dalam masa haid.
Rani dan Chika berlari menuju mushola yang ada di sekolah itu, dan segera melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Mereka terburu-buru saat menuju mushola karena biasanya ada guru yang bertugas mengecek setiap kelas untuk memeriksa murid-muridnya yang tidak ikut sholat berjamaah.
Suara adzan berkumandang. Tenang rasanya hati mendengarkan suara yang indah dan merdu. Chika yang mendengarkannya langsung mengucap, “MasyaAllah, merdu sekali suaranya.” Dia pun penasaran ingin tahu siapa yang mengumandangkan adzan dengan suara yang sangat merdu.
Begitu juga dengan Rani, dia langsung gelisah karena ingin tahu siapa yang mengumandangkan adzan dengan suara yang sangat merdu. Dia pun berdiri dan melihat ke depan. Seketika, dia terkejut dan langsung memanggil Chika yang berada di dekatnya.
“Ci-cika, lihatlah itu. Siapa yang adzan?” ucap Rani dengan suara yang gemetar.
“I-i-itu kan Reyhan, MasyaAllah,” ucap Chika dalam hatinya. Dia langsung terdiam dan pikirannya mulai kemana-mana. Tak lama, Chika pun sadar. “Astagfirullah, aku mikir apa sih,” ucap Chika dalam hatinya.
Chika yang tak sengaja melihat Rani masih melihat ke depan sambil tersenyum sendiri, memukul pundaknya tidak keras. “Ran, Rani, kamu senyum-senyum ke siapa sih? Ya Allah, Ran, tidak baik melamunkan laki-laki yang bukan muhrim kita.”
Rani pun tersadar. “Astagfirullah, maaf, Cika. Aku refleks,” ucap Rani. Sholat pun dimulai, semua siswa diminta untuk merapatkan shafnya, begitu juga dengan siswi.
Beberapa lama setelah shalat dhuhur berjamaah selesai, semua siswa sudah kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pembelajaran. Guru sudah memulai mengajar saat mereka tiba di kelas. Di tengah pembelajaran, ada pembagian kelompok untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Bu Nisa, guru yang mengajar pelajaran fiqih. Setiap kelompok terdiri dari lima orang.
Kebetulan, Reyhan juga berada di kelas sepuluh A, sekelas dengan Chika dan Rani. Bu Nisa sendiri yang memilih anggota kelompok. Dia membacakan nama kelompok dengan suara lantang dan jelas.
“Kelompok pertama, Nurin, Kamila, Diana dan Rizki,” ucap Bu Nisa.
“Berikutnya, kelompok dua, Chika, Reyhan, Rani, Vero, dan Sinta,” lanjut Bu Nisa.
Setelah itu, Bu Nisa meminta semua siswa untuk berkumpul dengan kelompok masing-masing. Reyhan, yang melihat Chika kesulitan memindahkan meja dan kursinya, segera membantu. Chika terdiam dan hanya bisa menunduk, hatinya berdegup kencang. Jika dia menatap Reyhan, tangannya akan gemetar dan pipinya akan memerah.
Rani, yang melihat perhatian Reyhan kepada Chika, tampak kesal. Chika sadar bahwa Rani menyukai Reyhan dan mencoba menjauhinya. Dia tidak ingin persahabatannya dengan Rani hancur hanya karena seorang cowok.
Diskusi kelompok pun dimulai. Rani duduk di hadapan Reyhan, sedangkan Chika duduk di hadapan Vero dan di samping Rani. Chika mencoba fokus pada tugas kelompok, tetapi dia merasa tidak nyaman melihat Rani yang terus menatap Reyhan. Reyhan dan Rani tampak asyik berbincang tentang masa lalu mereka masing-masing.
Chika memanggil Rani dan mengajaknya untuk membahas tugas kelompok yang belum selesai. Kebetulan, baterai HP Chika habis. Dia meminjam HP Reyhan.
“Rey, boleh pinjam HP? Untuk mencari jawaban tugas yang diberi Bu Nisa,” ucap Chika.
“Oh, iya. Silakan, ini HP-nya,” jawab Reyhan, memberikan HP-nya kepada Chika. Rani tampak kesal melihatnya.
Mereka pun membahas tugas yang diberikan Bu Nisa. Di tengah pembahasan, Chika bingung tentang pertanyaan terakhir. Dia meminta pendapat teman-teman kelompoknya, tetapi mereka semua menggeleng, menandakan mereka juga tidak tahu. Reyhan tiba-tiba menjawab dan menjelaskan secara rinci kepada mereka. Padahal, pertanyaan itu sulit dan tidak mudah untuk dijelaskan.
Chika terdiam sambil menatap dan mendengarkan penjelasan Reyhan. Dia semakin kagum terhadap Reyhan. “Masya Allah, dia pandai sekali menjelaskan tentang hal-hal yang berbau agama. Kenapa hatiku semakin ingin lebih mengenalnya?” pikir Chika dalam hati.
Reyhan pun meminta pendapat teman-teman kelompoknya. “Bagaimana, apakah kalian setuju dengan jawabanku, atau ada jawaban lain dari kalian?” tanya Reyhan.
Chika terus diam dan menatapnya. Reyhan sadar akan hal itu dan mengajak Chika bicara. “Maaf, Chika. Gimana menurutmu?” tanya Reyhan.
“I-iya, aku setuju. Terima kasih,” jawab Chika terkejut, karena dia melamun sambil menatap Reyhan.
“Iya, sama-sama. Ya sudah, tulis apa yang aku jelaskan tadi,” ucap Reyhan.
Rani tampak tenggelam dalam lamunan, seolah sedang memikirkan sesuatu. Chika mencoba memecah keheningan dengan suara lembutnya, menyarankan mereka untuk menyelesaikan jawaban pertanyaan terakhir. Rani hanya menjawab singkat, “Iya.”
Chika merasa tidak enak hati. Di satu sisi, dia juga memiliki perasaan terhadap Reyhan. Namun, dia memilih untuk diam.
Bel istirahat berbunyi, menandakan waktu untuk mengumpulkan tugas yang diberikan Bu Nisa. “Silakan dikumpulkan, dan kalian bisa istirahat sejenak,” ucap Bu Nisa.
Semua murid menjawab serempak, “Baik, Bu. Terima kasih, Bu.” Mereka semua bersalaman dengan Bu Nisa sebelum guru tersebut meninggalkan kelas sepuluh A.
Chika mengajak Rani ke kantin. “Ran, ayo kita beli makan,” ajaknya.
Rani tampak kesal, namun dia merasa tidak seharusnya bersikap egois. Dia pun menerima ajakan Chika, dan mereka berdua segera menuju kantin.
Setelah sampai di kantin, mereka membeli satu piring nasi lengkap dengan lauknya. Mereka pun mulai makan siang.
Setelah makan siang selesai, mereka kembali ke kelasnya, karena waktu istirahat telah selesai. Saatnya memulai pelajaran terakhir.
Pelajaran hari itu sudah berakhir dan seluruh siswa pulang.
Chika dan Rani pun sudah sampai di rumah masing-masing.
Chika yang sedang belajar di rumahnya tiba-tiba mendapat notifikasi dari HP-nya. Ternyata, Reyhan mengirim pesan. Chika bingung, darimana Reyhan mendapatkan nomornya.
“Assalamualaikum, save ya. Reyhan, teman sekelas.” Chika membalas, “Waalaikumsalam, iya Rey. Oh iya, darimana kamu dapat nomorku?” Reyhan menjawab, “Dapat dari teman tadi.” Chika merespon, “Oh begitu, ya sudah.” Reyhan kemudian berkata, “Chika, aku mau ngomong sesuatu ke kamu, tapi aku mau minta maaf dulu.” Chika bertanya, “Emang mau ngomong apa sampai minta maaf? Emang kamu punya salah apa?”
Reyhan ingin mengungkapkan perasaannya kepada Chika, tapi ia takut ditolak, “Jadi gini, aku gak tau kenapa, saat pertama kali ketemu kamu, aku tuh merasa nyaman banget kalau di dekatmu. Aku gak tau sejak kapan perasaan ini datang.”
Chika terkejut. Jantungnya berdegup kencang dan tangannya gemetar. “Ya Allah, aku mimpi apa semalam? Aku harus jawab apa?” gumamnya dalam hati.
Chika segera membalas chat dari Reyhan, “Kamu gak bohong kan? Kamu bercanda?”
“Nggak, aku gak lagi bercanda. Aku serius, Chik. Maaf, aku lancang ngomong seperti itu.”
“Nggak papa. Sejujurnya, aku juga ada rasa seperti itu terhadapmu. Tapi, aku takut persahabatanku dengan Rani hancur.”
“Hah, Rani? Memang apa urusannya sama Rani?”
“Sebenarnya, Rani itu suka sama kamu, Reyhan.”
“Tapi, aku suka sama kamu, Chik. Aku kan berhak memilih pilihanku sendiri. Aku tau kamu sahabatan, pasti nanti Rani bakal ngerti sendiri.”
“Gimana kalau kita merahasiakan hubungan kita ke semua orang? Kita di depan umum biasa aja seperti teman.”
“Ya sudah, aku nurut kamu. Yang penting aku sama kamu.”
“Ya Allah, Reyhan. Iya, Reyhan. Insyaallah kita akan bersama sampai jannah.”
Mereka tampak senyum-senyum sendiri. Mereka bahagia bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Namun, bagaimana dengan Rani?
Chika yang merasa tidak enak dengan Rani, langsung menelponnya dan mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak ingin persahabatannya putus.
Akhirnya, Chika memberitahukan semuanya pada Rani. Dia menjelaskan dengan hati yang lembut dan suaranya yang halus. Ternyata, Rani bisa mengerti perkataan Chika. Rani pun menerima dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. Dia berkata, “Chika, kamu tidak perlu takut kepadaku. Aku ngerti kok. Reyhan cintanya sama kamu, bukan sama aku. Dan aku, sebagai wanita dan sahabat kamu, tidak boleh egois. Lagian, kamu cocok sama Reyhan.”
Akhirnya, mereka hidup damai. Chika mendapatkan cintanya, begitu pula sebaliknya, Reyhan juga mendapatkan cintanya.
=====
Perkenalkan, saya Lusiana Syafitri, lahir pada 2007. Berasal dari kampung sebelah, di depan Basmalah, Karangpranti nama desanya. Saya memiliki motto hidup yang menginspirasi saya untuk terus berjuang dan berkarya, yaitu “Sebuah proses pasti penuh air mata, tapi di ujung cerita ada cita-cita yang sedang menanti.” Terimakasih.
Komentar Terbaru