Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Sekadar Harapan Cemara ~ Putri Sri Utami

Di sebuah kota kecil bernama Probolinggo, hiduplah seorang anak kecil berusia lima tahun bernama Faisal. Ia tinggal bersama ibunya, Nia, yang telah lama bercerai dari ayahnya. Meski awalnya keluarga mereka tampak harmonis, konflik dan percekcokan sering terjadi, memaksa mereka untuk berpisah.

Setiap hari, Nia mengantarkan Faisal ke TK di daerah Kapasan. Berbeda dengan anak-anak lain yang masih ditemani ibunya, Faisal dititipkan di sebuah warung sate setelah sekolah, menunggu ibunya menjemputnya. Nia sering bekerja di Bali, meninggalkan Faisal dititipkan pada Ibu Wati, seorang ibu kebun yang sering membersihkan halaman rumah mereka.

Faisal dan Ibu Wati sering bermain bersama setelah sekolah. Namun, ketika malam tiba, Ibu Wati harus pulang, meninggalkan Faisal sendirian di rumah. Faisal tidur di lantai dengan tikar tipis sebagai alasnya, dan segelas air besar disiapkan Ibu Wati untuknya jika ia merasa haus. Ruangan itu tidak memiliki kipas, membuat Faisal sering merasa kegerahan.

Setelah hampir dua tahun hidup seperti ini, saudara ayah Faisal mengetahui kondisi Faisal dan memutuskan untuk menjemputnya. Faisal kemudian diajak untuk tinggal bersama ayahnya di Jakarta Selatan, kota kelahiran ayahnya.

Di Jakarta, Faisal disambut hangat oleh keluarganya. Meski ayahnya tampak tidak terlalu mempedulikan, Faisal mendapatkan kasih sayang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari neneknya. Faisal juga memiliki dua kakak, Putri dan Ahkam, yang sangat menyayanginya. Mereka sering bermain bersama, dan Faisal melanjutkan sekolahnya di Jakarta.
Setiap hari setelah sekolah, Faisal selalu makan siang bersama neneknya. Ia sangat menyukai masakan neneknya, terutama perkedelnya. Faisal juga sering menginap di rumah Tante Ida, adik ayahnya, yang sangat menyayanginya seperti anak sendiri.

Baca juga:  Regenerasi Untuk Hadirkan Terobosan Baru, Warga MAN 2 Probolinggo Antusias Mengikuti PILKETOS

Namun, ketika Tante Ida meminta izin untuk merawat Faisal, ayah Faisal menolak dengan tegas, membuat Tante Ida merasa sakit hati. Meski demikian, Faisal tetap merasa bahagia dan dicintai di lingkungan keluarganya.

Meski pernah mendapat kata-kata kasar, Tante Ida dan suaminya tetap menyayangi Faisal. Ketika Faisal berusia 12 tahun, ia harus melanjutkan sekolahnya di pondok. Awalnya, ia ragu dengan pilihan ayahnya. Namun, ia harus tetap menjalaninya. Di pondok, ia bertemu dengan Karim, teman SD-nya, dan mereka berbagi kamar.

Setiap hari, Faisal menjalani rutinitas santri. Ia bangun pada pukul 3 pagi, mengambil wudhu, dan melanjutkan untuk sholat tahajud berjamaah. Setelah sholat, ia tidak diperbolehkan tidur, melainkan harus mengaji bersama hingga azan subuh tiba. Faisal merasakan susah senang selama di pondok. Ia merasa iri kepada teman-temannya yang selalu rutin dijenguk oleh orang tuanya, sedangkan dirinya jarang dijenguk oleh ayahnya.

Seiring berjalannya waktu, Faisal lulus dari pondoknya. Ia bingung harus melanjutkan sekolah di mana lagi. Ibunya yang di Probolinggo hampir setiap hari menelponnya, seakan-akan mengajak Faisal untuk tinggal bersamanya lagi. Awalnya, ia hendak menolak. Ia takut kejadian masa kecilnya terulang kembali, apalagi sekarang ibunya sudah punya keluarga baru dan memiliki seorang anak perempuan.

Setelah banyak pertengkaran, Faisal memilih untuk tinggal di Probolinggo lagi. Banyak keluarganya yang belum rela. Mereka takut Faisal diperlakukan seperti dulu lagi. Namun, ini semua adalah keputusan Faisal. Mereka hanya bisa mendukung pilihan Faisal.

Selang beberapa hari Faisal di Probolinggo, ia masih merasa canggung dan susah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia juga harus berkenalan dengan ayah dan adik barunya. Mungkin awalnya terasa susah, tapi perlahan-lahan ia lakukan.

Baca juga:  Mata Yang Menatapmu Dengan Berbinar-binar ~ Moch. Rizky Maulana

Pada bulan pertama hingga bulan ketiga, semuanya berjalan baik-baik saja. Keluarga barunya masih sayang dan sangat baik memperlakukannya. Namun, pada bulan berikutnya, sikap asli orang tuanya mulai terlihat. Sikap ibunya masih sama seperti dulu. Hampir setiap hari, ia mendengarkan amarah dan omelan dari orang tuanya. Ibunya memaksa Faisal untuk suka dengan keluarga barunya, sedangkan ibunya sendiri tidak suka dengan apa yang Faisal pilih.

Kini, Faisal hanya menjalankan hidup seperti biasanya. Ia harus bertahan hingga 3 tahun setelah lulus dari sini. Ia akan kembali ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di sana.

Kisah ini menceritakan tentang seorang pria yang ingin mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Ia ingin merasakan seperti apa rasanya menjadi bagian dari keluarga yang harmonis. Ia juga ingin merasakan seperti apa rasanya disayang, dimanja, dan diperhatikan lebih oleh kedua orang tuanya.

=====

Hai, saya Putri. Hobi saya adalah membaca dan menggambar kaligrafi. Saya suka membuat cerita sejak MTS. Motto hidup saya adalah “Terlahir dari keluarga sederhana tidak akan menghalangiku untuk bisa meraih cita-cita”. Selamat membaca cerita pendek saya yang sederhana ini.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR