Sorot mata Arunika yang penuh kerinduan terpancar jelas. Matanya berkaca-kaca, seolah menahan tangis yang hendak tumpah. Dia mendongak, berharap air matanya tidak menetes. Dalam usahanya menahan tangis, tiba-tiba seseorang menarik bahunya dan memeluknya erat. Itu adalah Langit, yang telah memperhatikan Arunika yang termenung.
“Kamu sepertinya lupa, kamu punya aku untuk menceritakan segala masalahmu,” ucap Langit, sambil mengusap lembut rambut Arunika.
Tangis Arunika pecah, tak mampu ditahan lagi. Bersama Langit, rasanya sulit untuk terlihat biasa-biasa saja.
“Aku selalu merasa merepotkanmu ketika aku ingin mengadu tentang beratnya hari ini,” ujar Arunika.
“Aku adalah pasanganmu, jika kamu lupa,” balas Langit.
Arunika mendongak, menatap wajah Langit dalam-dalam sebelum akhirnya tersenyum. Senyum yang sangat disukai oleh Langit. Melihat Arunika dengan wajah sembab dan hidung merah, Langit terkekeh.
“Kamu lucu setelah menangis seperti ini. Tapi aku tidak suka melihat kamu menangis,” ucap Langit dengan nada serius.
Mendengar ucapan Langit, Arunika tertawa. Hari-hari bersama Langit selalu menyenangkan dan tak pernah membosankan. Kehidupan Arunika perlahan berwarna. Langit selalu menjadi alasan mengapa senyum Arunika muncul. Ya, semua itu karena Langit.
=====
Laelatul Luqiyana Adawiyah, atau yang biasa dipanggil El, adalah seorang siswi di MAN 2 Probolinggo yang memiliki minat yang sangat besar pada musik. Saat ini, dia tengah mempelajari seni merangkai kata-kata baru di MA, meskipun masih pemula. Jangan ragu untuk mengikuti perjalanan kreatifnya melalui akun Instagram di lqynaa_/luqiyanaa_.
Komentar Terbaru