Semesta yang gelap memamerkan perhiasannya, mengaguminya tak pernah ada batasnya. Rambutku terhempas oleh angin dari timur, pertemuan ini hampir saja terlewat. Saat ini, permata semesta itu menyembunyikan dirinya, kemudian muncul kembali di antara gerbang yang terbuka. Mataku masih bisa melihat, namun kepalaku seolah memberi waktu.
Aku kembali melintasi jalur stepa dan menaiki gumpalan tanah. Sungguh, rumput di sini begitu damai, elok, dan bersih. Rumput-rumput mulai menari, dibangunkan oleh angin yang kerasukan. Angin kali ini menggugah semua rambutku, mengacak-acaknya seolah ingin merusak langkahku untuk bertemu dengannya.
Aku naik tanpa ragu, ingin bertemu. Namun kali ini, aku diseret turun oleh dua penjaga. Kedinginan semakin menjadi-jadi saat aku terus menaikinya. Angin semakin kencang saat aku memaksakan diri untuk naik, melihat cahaya kehidupan. Aku sudah membungkus kembali sebuah harapan, memendam harapan ini untuk berjumpa, menyimpan kata isyarat untuk mengungkapkan sebuah rasa. Menuruni semuanya, dan tidak melanjutkan lagi, berhenti dan pergi sebagai pesan bahwa aku selalu berlari menerjang rintangan dan akhirnya menyerah saat kembali diabaikan.
Saat ini, ku sebut namanya sang rembulan, cahaya yang membuka kedamaian dalam hati. Meski kau jauh dari pandangan, namun sangat dekat di lubuk sanubari. Kekecewaan saat melihatmu bersembunyi di antara dua awan, seperti menutup sendiri cahayamu. Aku hanya ingin berjumpa lebih dekat di antara bukit dan langit, tetapi kamu mengabaikannya dan memilih penjagamu untuk mengusirku dari sana. Aku belum sepenuhnya menuruni bukit ini, aku diam sejenak menulis di sebuah kertas, seolah menyuruh aksara bercerita tentang semuanya.
Ketika berakhiran titik, suatu cahaya datang dari belakang. Sang rembulan menyusul, menuangkan cahaya yang cukup terang. Aku melihatnya dengan mata yang menangkap semua gambaran tentang dirinya. Andai cerita aku tidak bertemu, aku sudah berusaha untuk melupakannya. Rembulan, ketika malamnya dunia sangat gelap untuk dilihat, maka tugasmu mampu menunjukkan sebuah dunia yang menyimpan banyak perhiasan dan yang paling berharga adalah dirimu.
=====
Panca Putri Aisyah Nurul Jannah. Lahir 08 Agustus 2007 dan bercita-cita menjadi Kowad. Memiliki hobi berpetualangan, membaca, dan menggambar. Ia merupakan alumni MI Izzatul Muta’allimin, MTSN 2 Probolinggo, dan kini tercatat sebagai siswi di MAN 2 Probolinggo. Kabar tentangnya bisa diikuti lewat IG @czxq.__
Komentar Terbaru