Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Menanti Balasan Pulang ke Rumah Sejati ~ Devi Zafarina Salsabilah

Aku merasakan sakit, perih, dan kecewa. Semua perasaan itu menyatu dalam hatiku, membekas dengan rasa yang sangat perih. Kecewa kepada diriku sendiri karena terlalu cepat menaruh perasaan yang terlalu dalam kepadanya.

Aku juga merasa frustrasi dengan penyakit yang selalu menghantui tubuhku. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkan hal itu, berpikir bahwa itu tidak akan berpengaruh pada kehidupanku sehari-hari.

Namun, ternyata aku salah. Ketika mulai ada orang yang tidak menyukai kenyataan bahwa aku memiliki penyakit, bukan hanya tidak disukai, bahkan ada orang-orang yang menilai aku sebagai orang yang jorok. Banyak yang merasa jijik dengan keadaanku saat ini. Aku merasa putus asa.

Aku sempat meragukan kehidupanku saat ini, bertanya-tanya mengapa aku bisa sampai seperti ini? Setiap saat, aku menunggu kapan aku bisa sembuh. Aku selalu merasa kecewa dengan takdir yang Tuhan tentukan untukku, karena ini terasa terlalu berat untuk dilalui sendiri dengan keadaan seperti ini. Aku selalu berharap akan ada yang menolongku suatu saat nanti dan aku akan cepat sembuh.

Namun, aku malah menemukan seseorang yang bukan untuk menyembuhkanku, melainkan menambah luka yang masih ada dan belum sembuh sampai sekarang. Aku masih bisa berpikir positif, mungkin aku salah memilih orang yang tepat untuk hal itu. Lalu aku mencoba yang kedua kalinya, dia adalah orang yang baik, kupikir dia adalah orangnya, tapi ternyata bukan. Justru dia yang menambah parah luka ini, aku pun melupakan semua hal yang telah terjadi dan aku mencoba untuk tidak mengulanginya.

Kini, cukup aku sendiri yang merasakan semua ini. Aku merasa bahwa orang lain tidak perlu tahu selain orang tuaku. Bahkan kerabat dekat saja aku tidak mengizinkan mereka untuk tahu keadaanku seperti ini. Aku pernah suatu saat menceritakan penyakitku kepada orang lain, orang yang aku pikir bisa menjaga rahasia orang lain, ternyata orang itu tidak bisa menjaga mulutnya.

Baca juga:  Hanya Ini Saja, Mengertilah! ~ Syafhira Khoirotun Zahra

Saat orang tuaku melarangku untuk menggapai impianku, aku benar-benar hancur. Aku ingin tidak merepotkan mereka dengan hidupku, tapi aku tak bisa. Aku merasa sangat sengsara, seperti setiap saat aku harus meminum obat yang diberi oleh dokter sampai habis dan meminumnya lagi sampai benar-benar muak dan lelah untuk melanjutkan hidup.

“Ya Rabb, aku benar-benar ikhlas atas semua yang terjadi dan mungkin kesabaranku sudah habis. Aku benar-benar lelah, ya Allah, aku benar-benar tidak tahu ini akan berakhir sampai kapan. Bertahun-tahun Engkau mengujiku dan sekarang aku butuh balasan terbaik darimu. Semoga balasan itu adalah pulang ke rumahku yang sebenarnya, hidup bahagia dengan segala yang ada di sana. Amin.”

=====

Ohayou, konnichiwa, konbawa, oyasumi nasai minnasan! Kore wa Devi no bunshinodesu, yonde itadaki arigatougozaimasu! Xie xiee

KELUAR