Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Penyesalan Ketika Kembali Pulang ~ Putri Sri Utami

Menjadi anak rantau, jauh dari keluarga, adalah hal yang sudah biasa. Beberapa orang berpendapat bahwa menjadi anak rantau itu menyenangkan karena bisa hidup bebas tanpa pengawasan orang tua. Tidak ada lagi yang memarahi saat berkelana.

Riski, seorang remaja lulusan SMP, tidak mampu melanjutkan sekolahnya karena kondisi ekonomi keluarganya yang sangat sulit. Setiap hari, ia melihat teman-temannya seusianya berangkat sekolah. Namun, apa daya, nasibnya tidak sama dengan teman-temannya. Hampir setiap hari, omongan tetangga menghantuinya, “Lihat tuh, anaknya Siti cuma lulusan SMP. Mau jadi apa? Ujung-ujungnya nikah muda terus jadi pengangguran.”

Tanpa berpikir panjang, pada malam hari itu, ia memasukkan semua bajunya ke dalam tas yang sudah sedikit robek. “Bu, Riski izin buat kerja di kota ya. Aku janji nanti pasti bahagiain ibu sama almarhum bapak. Doakan Riski terus. Nanti kalau kita udah berkecukupan, kita beli semua omongan tetangga itu,” ucapnya sambil duduk bertumpu satu kaki di hadapan ibunya.

Ibunya hanya bisa menangis mendengar perkataan Riski. Seorang ibu mana yang rela ditinggal oleh anak satu-satunya untuk merantau. Mungkin ini keputusan yang baik untuk Riski. Ibunya hanya bisa mengikhlaskan dan mendoakan yang terbaik. “Ya sudah, Leh, jika ini keinginan kamu. Tapi kamu harus janji, Leh, bakalan balik lagi dan jaga diri baik-baik di sini.”
Kini, ibunya tinggal bersama Ayu, kakak sepupunya. Riski berpamitan dan ingin menitipkan ibunya kepada Mbak Ayu. “Ibumu bakalan baik-baik sama Mbak di sini. Kamu ga usah khawatir.” Riski merasa lega mendengar jawaban dari Mbak Ayu.

Ia pun melanjutkan perjalanannya, meninggalkan rumahnya. Ia berjalan selama beberapa menit dan sampai di pos tukang ojek. Ternyata hanya ada satu tukang ojek di situ. Pas sekali, ia tidak harus menunggu lama. “Ojek, Bang. Anterin ke Stasiun Bangkalan ya, Bang.” Dan ojek itu langsung menancapkan gas, menuju ke tempat yang Riski tuju.
Hampir satu jam lebih, Riski baru sampai ke stasiun. Riski segera mengambil uang di sakunya untuk membayar abang ojek itu. “Nih ya, Bang. Makasih. Ini aku tambahin deh buat abangnya.” Ojek itu tersenyum dan langsung pergi dari tempat itu.

Riski menuju ke tempat di mana orang-orang berantri untuk membeli tiket kereta. Setelah membeli tiket, ia duduk di bawah lantai sambil makan bekal yang berwadah kertas minyak itu dari rumahnya. Karena ia tahu makanan yang dijual di kereta harganya mahal, jadi dia memutuskan untuk makan bekalnya. Sembari menunggu kereta tujuannya datang, ia bersholawat.

Baca juga:  Tak Ingin Di Bawah Bayang-bayang (Amelia Nurin Hidayah)

Pamekasan-Jombang, jarak yang lumayan jauh, membutuhkan waktu yang lama sehingga membuat Riski sedikit bosan di dalam kereta. Sudah berapa kali ia tertidur pulas, tapi setelah bangun, sama saja, ia belum juga sampai.

Jam menunjukkan pukul enam sore, Riski sudah sampai di Stasiun Jombang. Sesampainya di sana, ia belum mengenal lingkungan baru itu. Riski terus berjalan, entah ke mana, karena ia belum ada sama sekali kenalan dan tempat yang ia ketahui. Hingga pada saat itu, ia memutuskan untuk sholat terlebih dahulu di masjid dan bermalam di sana.

Keesokan paginya, ia pergi ke bangunan yang belum jadi itu dan bertemu dengan seorang bapak-bapak tinggi dan gagah. “Permisi, Pak. Di sini ada lowongan pekerjaan tidak?” Bapak-bapak itu langsung menjawabnya, “Tidak ada. Lagi pula, jika ada, saya tidak akan menerima anak kecil kayak kamu. Badan kamu masih lemah, pekerjaan ini tidak cocok untuk anak seusia kamu.”

Sekarang, ia bertahan hidup dengan sisa uang dari kampungnya itu, hanya tersisa lima puluh ribu. Mau tidak mau, ia harus segera pergi untuk mendapatkan pekerjaan. Hampir seharian ia mencari pekerjaan, namun tak ada satupun yang mau menerimanya. Ia langsung memutuskan untuk kembali ke masjid tempat ia bermalam.

“Kamu bukan warga sini ya?” ucap seorang kakek-kakek yang menghampirinya.

“Iya, Kek. Saya dari Bangkalan, Jawa Timur. Di sini saya mau mencari pekerjaan.” Ternyata kakek itu bernama Shohib, ia pengurus masjid itu. Kakek Shohib mengajak Riski untuk tinggal bersamanya karena ia juga hanya tinggal sendiri, semua keluarganya sudah meninggal karena sebuah musibah.

Pagi hari, matahari yang terik menyinari halaman rumah Kakek Shohib. Suara kicauan burung ikut menghiasi pagi yang indah itu. Secangkir kopi ada di atas meja dengan rebusan singkong yang masih hangat. “Leh, gimana kalau kamu buka usaha aja, bikin keripik buah?” seru Kakek Shohib.

“Mau aja sih, Kek, tapi aku ga punya modal dan belum pernah ada pengalaman buat kayak gituan,” jawab Riski sambil menyantap singkong rebus itu.

“Sudahlah, masalah modal kamu bisa pakai uang kakek terlebih dahulu. Dulu, sebelum istri kakek meninggal, rendang buatannya yang paling banyak diminati masyarakat sini. Banyak yang memesan, apalagi ada acara besar, pasti dia yang disuruh untuk memasaknya. Tapi setelah istri kakek sakit-sakitan, ia sudah berhenti untuk membuat rendang. Dan setelah ia meninggal, sudah tidak ada rendang yang bisa menandingi enaknya buatan dia. Kakek masih ada resepnya dan kakek masih ingat cara pembuatannya. Selama ini, kakek mau buka usaha ini tapi tidak ada yang mau membantu, sedangkan badan kakek sudah rapuh, tak sekuat dulu lagi.”

Baca juga:  Yang Penting Hatinya ~ Lailatul Munawaroh

Keesokan paginya, Riski pergi untuk berbelanja perlengkapan dan bahan-bahan yang sudah dicatatkan oleh Kakek Shohib. Sekitar 20 menit, ia sudah selesai berbelanja dan melanjutkan untuk pulang.

“Riski, tugasmu mencuci daging, bumbu-bumbu biar urusan kakek.”

Setelah daging sudah bersih dan bumbunya sudah siap, mereka segera memasukkannya ke dalam panci besar yang berisi santan dan mengaduknya selama 4-5 jam. Kakek dan Riski bergantian untuk mengaduknya karena memasak dengan cara seperti itu sangat melelahkan, ditambah asap yang keluar dari tungkunya.

Riski sudah tidak sabar mencicipi rendang hasil buatannya. Segera ia mengambil piring yang berisi nasi yang masih sedikit panas itu, ia mendiamkan agar tidak terlalu panas jika dimakan. Kakek Shohib sedang sibuk memindahkan rendangnya ke dalam tempatnya. Kakek dan Riski mengambil dua potong dagingnya dan segera makan.

Perpaduan yang sangat enak, nasi yang hangat ditambah bumbu rendang yang sangat lezat dan dagingnya yang lembut, membuat Riski semakin menambah selera makan. Hampir tiga kali lebih ia menambah nasi. Kakek Shohib hanya memperhatikan dan tersenyum melihat tingkah laku Riski itu.

“Udah, Kek, jual rendang ini aja. Enak banget, pasti laris banget nanti. Biar Riski yang bantu promosiin nanti, cari wadahnya yang bagus biar banyak yang minat sama rendang kita,” ucap Riski. Kakek Shohib hanya mengangguk dan menyuruh Riski untuk menghabiskan makanannya terlebih dahulu.

Setiap hari, mereka memproduksi rendang dan mengantarkan pesanan-pesanan kepada masyarakat setempat. Sekarang mereka tak hanya berdua, melainkan menambah Bu Ani dan Bu Mega sebagai karyawan tambahannya. Riski awalnya hanya mencoba untuk mempromosikan produknya di media online. Mulanya memang sedikit yang memesan, tapi lama kelamaan, rendang buatannya sudah terkenal dan banyak sekali pesanan setiap harinya.

Baca juga:  Terus Berusaha~Nur Laili

Sekarang bukan cuma dua karyawan, melainkan 20 orang lebih. Bukan hanya dipesan online saja, melainkan pesanan secara offline pun sangat banyak. Setiap hari sangat menghabiskan banyak sekali daging dan bumbu-bumbu rempah lainnya. Bisa dikatakan sekarang usahanya sudah sukses.

Ini semua berkat Kakek Shohib dan juga doa ibunya dan Mbak Ayu juga. Karena Riski merasa sangat kangen dengan ibunya, ia berpikir untuk pergi ke kampung halamannya.

Semalam sebelum berangkat, Riski bermimpi. Dalam mimpinya, ibunya sedang menunggu di depan pintu sambil menangis dan tampak sangat senang. Ia tak henti-henti berkata, “Anakku, pulang.”

Suara telepon berdering beberapa kali membuat Riski terbangun dan segera mengangkat teleponnya. “Ris, cepat pulang ya. Ibumu sudah sakit sekitar satu minggu lebih dan selalu menanyakan kamu,” ucap Mbak Ayu. Riski sontak kaget. Kenapa tidak dari kemarin ia mengabari jika ibunya sedang sakit?

Minggu pagi, Riski bersiap-siap untuk pergi ke kampungnya. Ia berpamitan kepada Kakek Shohib dan rekan kerjanya. Selama beberapa jam di kereta, ia menikmati keindahan yang terlihat dari kaca di sampingnya. Cuaca sangat hangat pada pagi itu. Sesampainya di halaman rumahnya, ia terkejut dan masih sedikit tidak sadar mengapa banyak sekali tetangganya yang ada di rumahnya. Ada bendera kuning juga di pohon dekat rumahnya.

Semua tetangganya melihatnya dari bawah hingga atas. Sontak, sekujur tubuhnya sangat lemas dan segera lari ke arah rumahnya. Ia terdiam ketika hendak melihat wanita tua yang sedang dibacakan surah Yasin. Wanita itu adalah ibunya. Ternyata, mimpi kemarin menandakan bahwa ibunya merindukan Riski dan menyuruhnya untuk segera pulang.

Tangisan tak henti-henti Riski segera memeluk jenazah ibunya dengan sangat erat. “Bu, Riski sudah sukses sekarang. Ayo bangun, Riski mau bawa Ibu jalan-jalan. Ibu pengen ke Mekkah kan. Siapa yang sayang sama Riski lagi, ayo bangun, Bu.”

Tapi semuanya sudah terlambat. Sekarang yang Riski rasakan hanya rasa penyesalan. Ia lebih memikirkan karirnya tanpa mengingat rumah utamanya, yaitu ibunya.

=====

Hai, saya Putri. Hobi saya adalah membaca dan menggambar kaligrafi. Saya suka membuat cerita sejak MTS. Motto hidup saya adalah “Terlahir dari keluarga sederhana tidak akan menghalangiku untuk bisa meraih cita-cita”. Selamat membaca cerita pendek saya yang sederhana ini.

KELUAR