Pagi yang masih segar setelah hujan deras semalam, jalanan becek memaksa banyak orang untuk berjalan dengan hati-hati agar tidak terpeleset. Meski hujan telah melanda wilayah ini semalam, pagi hari tetap berjalan seperti biasa. Seorang ibu menggandeng anaknya yang masih terpesona dengan lalu lalang angkutan umum. Para remaja bergegas mengayuh sepeda mereka menuju sekolah agar tidak terlambat.
Zee, seorang siswa yang sudah siap sejak tadi, menunggu angkutan umum menuju sekolahnya. Pagi ini, ia tidak memiliki pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan, sehingga ia bisa lebih santai dan menikmati perjalanan.
Sesampainya di gerbang sekolah, Faras, teman sekelasnya yang selalu ramah, menyapa. Dea, teman lainnya, juga ikut berjalan bersama mereka. Faras, yang memiliki mata tajam, segera menyadari ada yang berbeda dari penampilan Dea hari ini.
“Tas baru De?” Faras bertanya, menunjuk tas baru Dea.
“Iya, pilihan Mama beli di Lynn Store.” Dea menjawab dengan bangga. Berbeda dengan Faras yang terkejut, Zee hanya mengangguk paham.
“De! Itu kan fashion Paris milik Lynne Young?” Faras tampak terkejut.
Zee baru tahu bahwa Faras juga tertarik dengan fashion.
“Sudah ada official store-nya kok di Indonesia.” Dea menjelaskan dengan senang.
“Tapi De, tas itu…” Zee berhenti sejenak, takut kalau kalimatnya akan menyinggung perasaan Dea.
“Kenapa Zee?” Faras penasaran.
“Nggak jadi deh, hari ini ada pelajaran ekonomi. Nanti kamu pasti paham.” Zee tersenyum misterius, membuat Faras dan Dea bertanya-tanya.
“Apa hubungannya tas dengan pelajaran ekonomi?” Mereka bertanya dalam hati.
Rupanya memang ada. Pelajaran ekonomi adalah mata pelajaran pertama hari ini. Ibu Wendy, guru yang dikenal tegas, memulai pelajaran.
“Siapa yang suka fashion atau make up?” Ibu Wendy bertanya dan sebagian besar murid di kelas itu mengangkat tangan.
“Ada yang ngoleksi barang Guccy, Doir, atau sebaginya?” Ibu Wendy melanjutkan pertanyaannya. Dea, Ibu lihat tas barumu design Lynn ya? Ibu Wendy tersenyum penuh arti.
“Benar, Bu.” Dea menjawab.
“Apa manfaatnya kamu beli produk mereka?” Ibu Wendy bertanya lagi.
“Eh?” Dea tampak kebingungan.
“Bahan dan merek, mungkin Bu.” Dea menjawab ragu-ragu.
“Lalu apa manfaatnya bagi yang lain?” Pertanyaan Ibu Wendy masih berlanjut.
“Mm… tidak ada Bu.” Dea menjawab.
“Benar. Ada yang paham maksud Ibu? Ini masih ada tentang materi hari ini, naiknya nilai produk lokal.” Ibu Wendy menjelaskan.
Zee mengangkat tangan, “Dengan membeli produk luar artinya kita menaikkan nilai jual mereka. Begitu pula sebaliknya, jika kita membeli produk lokal atau dalam negeri kita mengkayakan negeri sendiri. Jadi sebaiknya bijak membeli produk dalam negeri sebab juga bermanfaat bagi negara.”
“Terimakasih, Zee.” Ibu Wendy memuji.
Akhirnya Faras dan Dea paham maksud Zee tadi. Menaikkan nilai jual dalam negeri berdampak signifikan bagi negara, begitu pula sebaliknya. Maka sebagai warga negara Indonesia, Faras dan Dea memutuskan untuk konsisten menghargai produk lokal, mereka akan mengajak seluruh keluarganya.
=====
Assalamu’alaikum wr. wb. Saya Devi Zafarina Salsabilah lahir pada tahun 2007. Berasal dari kecamatan Banyuanyar, belakang kantor kepala desa, Banyuanyar Kidul desanya. Motto hidup saya adalah “Ingin mencapai sesuatu harus dengan keyakinan, kesabaran, ketabahan, dan niat yang baik. Ingat bahwa ada Allah yang selalu bersama kita.”
Sekian terima kasih
Komentar Terbaru